
Kei masih tersenyum meski samar, sambil menggelengkan kepalanya pelan. Nadia Jefferson, you are over!
Naya yang melihat lelaki di depannya masih tersenyum-senyum tidak jelas, segera menyentakan lengannya yang masih dalam cengkraman Kei.
Satu kali sentakan saja, gadis itu berhasil melepaskan tangan Kei di lengannya.
Bergerak cepat, Naya segera membalikan tubuhya, bersiap untuk meninggalkan ruangan.
Baru saja kakinya bergerak dua langkah, Kei sudah duluan berada di depannya, bersandar di pintu keluar ruangan dengan kakinya yang sengaja menghalangi jalan Naya.
"Nay tidak akan keluar dari sini, kecuali bersama Abang." Kei berucap datar seraya mengulurkan tangannya.
Naya menepis tangan Kei sebelum berhasil menyentuhnya.
"Jangan membuat Nay semakin membenci Abang, please?"
"Benci? Benar-benar cinta, kan?" Kei tersenyum seraya mengerling nakal.
Cckk. Naya berdecak kesal. Kakinya kembali akan melangkah saat tangan besar Kei sudah lebih dulu mengunci pergerakannya.
Kei menarik lembut gadis itu hingga jatuh ke dalam pelukannya.
Kei semakin mengeratkan pelukannya saat telinganya menangkap derap langkah kaki diiringi suara yang memangil nama gadis dalam pelukannya.
"Nay sayang, ayo kita berangkat. Kenapa lama sekali? Nay, are you okay?!" Terdengar kecemasan dalam nada suaranya dengan langkah yang semakin di percepat.
__ADS_1
Naya berusaha melepaskan diri dari dekapan sang suami. Namun tenaganya kalah kuat dari lelaki yang sedang memeluknya erat itu.
"Mama, tungg....!" Suara Naya terputus seiring Kei yang membungkam mulutnya.
Kei, lelaki dewasa yang telah mengikatnya dalam mitsaqan ghalizon, ikatan yang kuat itu, membuat Naya kembali membeku sesaat.
"Mhmppt." Gadis itu berusaha melepaskan bungkaman bibir Kei di bibirnya, namun sekali lagi Naya kalah.
Gadis cantik itu hanya bisa membulatkan matanya utuh.
Sementara itu Kei tersenyum smirk di sela pertautan mereka. Lelaki itu dengan kuasanya menuntun Naya menjauhi pintu keluar tanpa melepas bungkamannya di mulut sang istri.
Langkah mereka bergerak menuju jendela kecil yang langsung menghadap lautan luas.
Tanpa suara tangan kiri Kei bergerak menuju tengkuk Naya. Kemudian dengan gerakan cepat tak terduga, jari telunjuk dan jari tengahnya telah menekan beberapa titik saraf di sana.
Tubuh Naya langsung kaku tak bisa digerakan, hanya mata jelinya yang menatap Kei dalam beragam pendar. Kesal, marah, benci ... Benar-benar cinta? Eh!
...*****...
Setelah mengaktifkan GPS, Kei, lelaki gagah berahang kukuh dengan tatapan elang itu segera memacu laju speedboat-nya dengan kecepatan maksimal.
Anak lelaki dari pasangan Puan Sri Latifah dan Tan Sri Abdul Hamid itu menargetkan untuk sudah sampai di Dumai sebelum azan Maghrib berkumandang.
Teluk Rhu, tempat Naya disekap berada di Pulau Rupat, salah satu pulau terluar Indonesia yang berhadapan langsung dengan Selat Melaka, Malaysia.
__ADS_1
Pulau Rupat merupakan satu dari dua kecamatan di kabupaten Bengkalis, Riau Kepulauan.
Dumai-Pulau Rupat yang biasa ditempuh dengan waktu lima belas menit menggunakan speedboat kecil, berhasil dicapai Kei hanya dengan lima menit saja.
Setelah memastikan bahwa mereka tidak diikuti oleh satupun anggota pengamanan keluarga besarnya, Kei melambatkan laju mesin speedboatnya.
Dengan mengendong sang istri yang masih di bawah pengaruh totokannya, Kei menuju sebuah mobil double cabin yang sudah menunggunya dengan seorang lelaki paruh baya yang masih terlihat gagah dengan kumisnya yang tebal melintang.
Kei langsung memasuki mobil begitu pintunya dibukakan oleh lelaki paruh baya tersebut.
"Kita langsung menuju kota Pekan Baru, pak etek." Ujar Kei datar.
"Siap, tuan!"
Kei beralih pada sosok gadis yang berada dalam pangkuannya. Diam! Namun matanya terus bergerak, dengan sesekali membulat utuh, penuh ancaman terhadap Kei.
Kei tersenyum hangat. Bibirnya menyentuh sekilas kedua mata yang tengah menatapnya dengan pandangan yang entah, namun membola penuh, utuh.
"Marahnya ditahan dulu ya, tuan Puteri?!" Kei membisik dengan senyum smirk-nya.
..._______*****_______...
To be continued
Keinaya hadir untuk menepati janji double up ya...
__ADS_1
Jangan lupa, tinggalkan jejaknya.