Di Ujung Sayap Rindu

Di Ujung Sayap Rindu
Seremban, Bersamamu Kenangan Tersimpan


__ADS_3

Kuala Lumpur International Airport (KLIA)


Naya yang berdiri di samping mak Midah mengedarkan pandangannya, mencari sosok yang sudah sangat dirindukannya.


Padahal baru beberapa jam yang lalu mereka berbicara lewat telepon sebelum Naya check-in di Bandara Soekarno-Hatta, tapi sekarang ia sudah rindu lagi dengannya.


Naya tersenyum sumringah saat netranya menangkap sesosok perempuan separuh baya yang melangkah anggun, diiringi oleh seorang lelaki berbadan tegap layaknya bodyguard.


Naya menjatuhkan tubuhnya dalam pelukan Puan Sri Latifah setelah sebelumnya mencium takzim punggung tangan mertuanya tersebut.


Puan Sri menyambut hangat pelukan menantunya sambil tangannya mengelus lembut kepala Naya.


Lama mereka saling berpelukan. Mak Midah hanya tersenyum kecil menyaksikan kedua majikannya tersebut.


Tak terasa buliran bening hangat membasahi pipinya yang mulai keriput dimakan usia. Segera tangannya menyapu buliran-buliran itu dengan ujung selendangnya.


"Maaf, terlupa. Mak Midah macam mana kabarnya? Sihat, kan?" Puan Sri Latifah mengalihkan pandangannya pada Mak Midah sambil mengulurkan tangannya.


Mak Midah dengan tersenyum menyambut uluran tangan majikannya.


"Alhamdulillah, Mak sihat. Puan Sri macam mana? Sihat juga, kah?"


"Sihat juga, Mak. Alhamdulillah berkat do'a Mak Midah dan tuan puteri cantik ini", berkata begitu Puan Sri mencubit lembut pipi menantunya.


Naya menggenggam lembut tangan yang mencubit pipinya kemudian menciumnya takzim sekali lagi.


"Ah, my little dove. I miss you so much."


"I miss you so much ... much ... more, Mama."


Kedua perempuan berbeda generasi tersebut kembali berpelukan erat.


...***...


Perjalanan dari Kuala Kumpur menuju Seremban yang biasanya bisa ditempuh dengan waktu sekitar empat puluh lima menit, sekarang menghabiskan waktu lebih dari satu jam.


Naya sengaja meminta Putra, sopir sekaligus asisten Puan Sri Latifah untuk melambatkan laju kendaraannya.


Toyota Alphard SC tersebut bergerak perlahan untuk memberi Naya kesempatan menikmati perjalanannya menuju kota yang telah memberinya berjuta kenangan.


Sepanjang perjalanan Naya tidak melepaskan pandangannya dari jejeran pepohonan dan bangunan yang seperti bergerak mengikutinya.


Puan Sri Latifah yang duduk di samping Naya sengaja memejamkan matanya. Ia tidak mau menganggu Naya yang sedang khusyuk menikmati perjalanannya.


Lima tahun tidak menginjakan kaki di tanah kelahirannya, menjadikan Naya seperti ingin menumpahkan semua rindu yang membuncah.


Memasuki kota Seremban mereka disambut oleh tetesan hujan yang mulai mereda. Udara yang basah menjadikan suasana kota menjadi sejuk dan tenang.


Sesekali Naya menghirup dalam aroma hujan yang tertinggal bersama tetesan gerimis.

__ADS_1


Mobil semakin melambat saat memasuki sebuah gerbang yang terbuat dari kayu dengan ukiran artistik.


Naya tertegun saat matanya tertuju pada sebuah rumah panggung besar di depannya.


Rumah panggung yang mirip dengan rumah gadang, rumah adat masyarakat Minangkabau di Sumatera Barat sana.


"Ma ...? Naya nak ke rumah ..."


"Iya, Mama tahu. Tapi tidak sekarang. Nanti kita kesana, ya. Mama yang akan menemani Nay di sana. Okay, tak?"


Naya tak menjawab, ia hanya menganggukkan kepalanya pelan.


Puan Sri Latifah menuntun gadis tersebut turun dari mobil.


Keduanya berjalan beriringan dengan diikuti oleh mak Midah dan Putra yang menenteng barang-barang bawaannya mereka.


Sesekali mata Naya melirik sebuah rumah bergaya minimalis modern yang sejajar dengan rumah panggung keluarga besar Puan Sri Latifah.


Kedua rumah tersebut hanya dibatasi oleh pagar rendah yang juga terbuat dari kayu.


Naya menghela nafas agak panjang. Tiba-tiba kelebatan masa silam kembali menyapanya.


Flashback On


"Nay, ndak usah balari bana, beko jatuah."


"Indak, sayang. Abang-abang tu masih di rumahnyo. Tadi Bunda alah menelpon Puan Sri."


Naya kecil terus berlari melewati pagar yang membatasi rumahnya dengan rumah Kei dan Ken.


Langkahnya bergerak cepat menaiki anak tangga rumah panggung tersebut.


"Awas, Nay ...!


Flashback Off


"Auuchh ... " Naya meringis saat ujung lututnya bersentuhan agak keras dengan sebuah anak tangga.


"Sweety, are you okay?" Puan Sri langsung menghentikan langkahnya seraya menatap Naya.


"Ngg ... Yes, Nay okay, Mama. Nih, kaki Nay sakit sikit," Naya mengusap lututnya yang terasa ngilu.


"Sayang ... Kalau berjalan tu janganlah sambil termenung. Mana yang sakit tu, Mama nak lihat ..."


Puan Sri menarik lembut tangan Naya untuk duduk di anak tangga tepat di depan pintu masuk rumah.


"Nay okay, Mama. Sakit sikit je ..."


Puan Sri tetap mendudukkan Naya dan hendak menyingkap ujung gamis berwarna maroon yang dikenakan Naya.

__ADS_1


Gadis tersebut terkesiap. Matanya menoleh sekeliling.


"Ah, ya.. Maaf ... maaf ..." Puan Sri langsung melepaskan tangannya dari gamis Naya.


"Mama lupa. Ayo masuk. Nanti dalam kamar Mama obati ya," ujarnya sambil kembali menarik Naya.


"Assalamualaikum ... Mak ... Mak ... Cucu menantu dah sampai dah, nih ..." Puan Sri melangkah memasuki rumah dengan Naya yang mengiringi di belakangnya.


"Wa'alaikumussalam. Alhamdulillah. Mana cucu mantu, tuh. Mak dah rindu sangat, nih .." seorang perempuan sepuh muncul dari sebuah kamar.


Jalannya mulai tertatih dengan bantuan sebuah tongkat berbalut perak.


Naya bersegera menyongsong nenek mertuanya. Setelah dekat, tangannya terulur, menyentuh jari-jari yang mengeriput dimakan zaman.


Naya mengenggam erat tangan nek Syarifah, sang nenek mertua. Mereka biasa memanggilnya dengan 'Nek Sya'.


Perlahan Naya membawa tangan tersebut menuju keningnya, kemudian mencium takzim.


Nenek Sya tersenyum lebar, tangannya mengusap lembut kepala cucu menantunya.


"Lama tak tengok Nek, ya? Dah tak sayang ke?"


"Tak macam tu, Nek. Tetap sayang lah. Nay sa..yang sangat kat Nenek. Minta maaf ya Nek."


Naya kembali mencium takzim sang nenek. Tak hanya tangannya namun juga kedua pipi dan keningnya.


Puan Sri Latifah tersenyum menyaksikan pemandangannya di depannya.


Perlahan ia bergerak menuju sebuah lemari di sudut ruangan. Setelah menemukan apa yang dicarinya, ia kembali menghampiri Naya dan nek Sya yang masih berbual.


"'Dah ... dah ... ya, Mak. Biar cucu menantu Mak nih berehat sekejap ya?"


"Iya lah, rehat lah dulu. Mak juga nak berbual sikit dengan si Midah. Dah sampai pula dia tuh di Paris. Lima tahun pula, tuh. Lama sangat. Mungkin dah pandai lah cakap orang kulit pucat tuh," berkata begitu nek Sya melangkahkan kakinya menjauhi Naya dan Puan Sri Latifah.


"Ayuh, sayang ... Mama antar ke kamar, Nay berehat dulu." Puan Sri mengantar Naya menuju sebuah kamar.


Memasuki kamar, Naya mencium bau maskulin yang menguar sangat kuat.


Pandangannya mengitari ruangan persegi empat yang cukup luas tersebut.


Melihat warna white and grey yang mendominasi, mengingatkan Naya kembali dengan suasana sebuah kamar di rumah mertuanya yang di Kuala Lumpur.


"Mhm ... Mama... Maaf, ini ... kamarnya siapa?"


Naya memberanikan diri bertanya untuk menjawab rasa penasarannya.


"Kamar ini? Ya, kamar Nay, lah ... Kamar siapa lagi? Udah, Mama ingin lihat luka Nay tadi." Puan Sri Latifah mengalihkan perhatian menantunya.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2