
Kuala Lumpur International Airport (KLIA)
Nadia bergegas menyusuri terminal keberangkatan. Beberapa menit yang lalu Andrian, asisten Kei Hasan, sang suami mengirimkan informasi jadwal penerbangannya secara detil. Kini ia hanya punya waktu sekitar lima belas menit sebelum check in.
****! Nadia menggerutu di tengah gegas langkahnya. Bukan karena Kei yang memerintahkannya untuk segera kembali ke Jakarta yang membuatnya meradang kali ini. Namun adegan demi adegan pertemuannya dengan Puan Sri dan Naya tadi yang seperti bongkahan-bongkahan batu besar yang silih berganti menghimpit dadanya. Sesak.
Masih terbayang dengan jelas bagaimana sorot mata Puan Sri saat menatapnya. Tajam, seakan ingin mengulitinya. Berpura tidak mengenalnya sedikitpun, padahal Nadia tahu pasti tidak mungkin keluarga Kei tidak mengenalinya.
Resepsi pernikahan Kei dan Nadia lima tahun silam diadakan secara besar-besaran di Jakarta. Ditayangkan secara live di beberapa stasiun tv yang memang dimiliki Kei. Resepsi pernikahan mewah mereka bahkan digadang-gadang sebagai wedding of the year saat itu, meskipun memang tidak dihadiri oleh keluarga besar Kei seorangpun.
Nadia meremas kuat gawai dalam genggamannya untuk menyalurkan kobaran bara di dadanya. Nadia mengedarkan pandangannya pada suasana penerbangan kelas bisnis yang telah dibooking Andrian untuknya. Not bad! Sesampainya di pesawat, ia segera menuju kursi penumpang sesuai arahan seorang pramugari maskapai.
Resepsi pernikahan! Jadi keluarga Kei akan segera publish pernikahan putra mahkota mereka? Apakah Kei tahu? Tidak. Tidak mungkin Kei tidak tahu! Atau jangan-jangan ini malah rencana Kei? Inikah alasannya mengapa selama lima tahun ini Kei seperti tidak berusaha membawa Nadia memasuki circle keluarga besarnya?
Berkali-kali Nadia memancing Kei untuk mau memperkenalkan Nadia kepada keluarganya di KL dan Seremban, namun Kei terkesan selalu menghindar dengan berbagai dalih dan alasan, salah satunya kesehatan nenek Syarifah. Kei mengatakan tidak mau kehadirannya bersama Nadia akan memperburuk kondisi kesehatan sang nenek, mengingat betapa sayangnya nek Syarifah terhadap Naya. Alasan yang kemudian hari diketahui Nadia hanyalah dusta belaka karena nek Syarifah tidak sedang mengalami penyakit serius apapun.
Sebenarnya tekanan dari Puan Sri lah yang menyebabkan Kei tidak berani menampakan diri bersama Nadia ke tengah keluarga besarnya. Tekanan seperti apa yang diberikan Puan Sri sehingga seorang Kei Hasan yang terlihat begitu powerful di dunia bisnis seperti tidak punya daya untuk keluar dari tekanan tersebut. Ini yang sampai sekarang masih terus ditelisik Nadia.
Baiklah Puan Sri, mari kita mulai drama ini. Sepertinya peran menantu yang baik tidak cocok untukku, peran itu lebih pas untuk Naya. Aku akan memilih peranku sendiri.
Nadia tersenyum kecut mengakhiri kembara pikirannya. Kemudian perempuan cantik itu memejamkan mata, berharap lelap bisa melepaskan penat jiwanya buat sementara, setidaknya untuk satu jam ke depan saat ia sampai kembali di Jakarta.
...***...
Seremban, Rumah Keluarga Besar Tan Sri Abdul Hamid
__ADS_1
Naya melangkahkan kaki menjauh dari keramaian keluarga besar Tan Sri Abdul Hamid, sang mertua. Meskipun telah menjadi menantu Tan Sri, Naya tetap saja merasa sedikit asing dengan lingkungan keluarga besar Tan Sri. Dulu sekali, Puan Sri Latifah memang sering mengajak Naya kecil untuk mengikuti Kei bersaudara mengunjungi keluarga besar ayah mereka, sehingga sedikit banyak Naya mengenali keluarga besar Tan Sri. Namun setelah beranjak remaja, ia mulai bisa menangkap pendar tidak suka beberapa saudara sepupu perempuan Kei terhadapnya, terutama Alexa.
Pandangan tidak suka itu yang sampai hari ini masih terpancar dari bola mata Alexa saat menatap Naya. Tadi siang hingga malam ini, pendar sama yang diterimanya membuat Naya tidak nyaman, namun rasa hormat dan penghargaannya terhadap kedua mertuanya yang menguatkan Naya untuk tetap bertahan berada di gedung pelaksanaan resepsi hingga di rumah utama ini.
Naya memilih duduk menyendiri di sebuah ayunan di sudut taman dekat kolam renang. Kakinya terjuntai menyentuh tanah dengan rerumputan yang kering, mungkin karena sering diinjak saat mengayuh ayunan.
Matanya memejam perlahan menikmati semilir angin malam yang lembut menyapuh wajah di balik niqab biru tosca yang dipakainya.
"Aaarrgghhh, sudah! Nay tak nak lagi. Nay takut jatuh. Suudaaahhh, hentikan!"
"Aaww, sakit. Jatuh, kan? Bang Kei jahat! Nay tak nak diayun bang Kei, Nay sama bang Ken, je. Bang Ken ayun lambat je, tak kencang pun."
Naya menyentuh sudut matanya yang tetiba memanas dengan cairan hangat yang luruh perlahan. Kenangan lima belas tahun silam saat mereka sedang main ayunan kembali hadir menyapanya. Naya kecil yang menangis dan mengaduh kesakitan karena terjatuh dari ayunan yang didorong Kei dengan kencang, hingga datang Ken yang selalu menjadi hero, sang ksatria yang senantiasa menjaga dan membela Naya kecil.
Naya menyentuh dadanya yang tiba-tiba berdenyut nyeri. Wajah Ken melintas jelas. Wajah teduh penuh senyum yang selalu menenangkan.
"Bang Ken, Nay rindu", bisiknya pelan.
"Astaghfirullah! Mohon ampun ya Rabb. Mohon ampun karena hati ini telah lancang merindui seseorang yang tidak lagi halal untuk dirindui. Bang Kei, maafkan Nay".
"Abang maafkan. Tapi jangan ulangi lagi", suara bariton namun lembut membelai di telinga Naya diiringi oleh wangi mint yang menguar memenuhi ruang penciuman gadis itu. Wangi khas yang sangat dikenalinya. Abang Kei?
Naya terkesiap, kepalanya sontak menoleh kesamping kanan ayunan. Hanya beberapa inchi saja jarak mereka. Kei menatap Naya lekat. Dalam pencahayaan lampu taman yang temaram, lelaki gagah itu bisa menangkap pendar indah mata jeli Naya. Salah satu keindahan milik sang istri yang selalu mampu menawan hatinya. Kembali Kei membenamkan diri dalam keindahan di depannya. Tangannya terulur perlahan, ibu jarinya menyentuh sepasang netra berwarna kecoklatan itu secara bergantian. Ujung jari Kei bisa merasakan buliran yang masih menyisakan hangat.
"Jangan membuat Abang cemburu dengan Nay masih menangisi Ken", ujarnya penuh tekanan.
__ADS_1
"Maaf, tapi Nay tidak..." sanggahan Naya terpenggal oleh bungkaman bibir Kei pada bibirnya yang tertutup niqab.
Dari balik niqab tipis yang melindungi wajah cantik Naya, Kei masih terus menempelkan bibirnya yang bergerak perlahan, memberi ******* kecil. Naya diam tidak bergerak, ia terlalu terkejut dengan tindakan Kei yang tiba-tiba.
Tersadar dengan respon yang tidak kunjung datang dari Naya, Kei menghentikan lumatannya. Menjauhkan sedikit wajahnya dari sang istri.
"Maaf", bisik Kei pelan namun Naya dapat menangkap kekecewaan dalam nada suara itu.
"Nay juga minta maaf. Nngg ... banyak orang", bisiknya tak kalah pelan sambil mengalihkan pandangan pada orang-orang yang masih ramai, kaum kerabat keluarga besar Tan Sri Abdul Hamid yang lalu lalang keluar masuk rumah utama.
"Berarti kalo nggak banyak orang, bolehkan?" Kei menyeringai jail.
Naya membolakam matanya. Tangannya reflek bergerak menuju perut Kei, berniat memberikan cubitan kecil, namun ia selalu kalah cepat. Kei lebih duluan menangkap tangan mungil itu dan membawanya ke bibir. Kei menciumnya lembut.
Naya kembali terkesiap. Kei selalu saja mematikan langkahnya. Ia terdiam sambil berusaha menarik tangannya dari genggaman Kei.
Kei tersenyum kecil. Meski tertutupi oleh niqab, namun Kei tahu pasti seperti apa rona Naya saat ini. Merah jambu, pasti!
"Wow! Sepertinya Zahra dan suaminya punya saingan malam ini. Ada lovebirds yang juga seperti pengantin baru!"
_________*** __________
To be continued
Mohon maaf sebelumnya, baru bisa up lagi. Banyak kesibukan di real life yang tidak bisa ditinggalkan. Mohon terus dukungannya dengan memberikan like, vote and comment ya. Thank you all.
__ADS_1