
Maaf, sayang. Tapi kali ini Nay meminta sesuatu yang Abang tidak bisa berikan. Sekali lagi maaf, untuk permintaan sayang yang satu ini Abang tidak bisa kabulkan." Kei menggeleng sambil membisik pelan.
Naya menyipitkan matanya dengan kening yang mengkerut sempurna. What?! "Tidak bisa", katanya?!
Menatap Kei dengan kekesalan yang mulai membuncah, Naya menjepit kuat daun telinga lelaki itu.
Tangan mungil Naya terus menjepit dan menarik kuat, tak peduli dengan desisan yang mulai terdengar dari bibir Kei. Terlihat lelaki itu berusaha menahan pedas di telinganya.
Sementara itu Azki yang masih terduduk di lantai ruangan, memalingkan wajahnya. Adegan demi adegan yang disuguhkan pasangan suami istri di hadapannya sungguh lebih menyesakan daripada hantaman Kei di dadanya.
Sementara itu, Kei yang masih berusaha menahan pedas di telinganya hanya bisa mengikuti kemana arah tarikan jari-jari mungil Naya.
Tak terlihat upayanya untuk melepaskan diri dari jepitan dan tarikan sang istri sedikitpun. Desisan menahan sakit memang terdengar samar dari bibirnya namun matanya malah membinar jenaka. Terlihat sangat, ia sedang menggoda sang istri.
Naya membulatkan matanya demi menyadari tingkah Kei.
"No kidding! I am serious!" Naya balas berbisik namun dengan jepitan ibu jari dan telunjuknya yang semakin menguat di telinga Kei.
Kei meringis kecil namun masih tetap dengan mata yang membinar, penuh senyum.
"Sayang... Abang lebih dari serius, ini. Abang tak bisa!" Kei kembali menggelengkan kepalanya, kali ini dengan lebih tegas. Sambil menatap sang istri lekat, kata "maaf" kembali terucap dari bibirnya namun tanpa suara.
"But, why?! Apa yang membuat Abang tidak bisa?!" Naya balas menatap dengan pendar menuntut alasan.
Kei menghela nafas panjang. Mengalihkan pandangannya sejenak sambil mencoba meraup oksigen sebanyak-banyaknya sebelum kembali berucap.
"Dia terlibat dalam penculikan kemaren. Jadi, Abang tidak bisa terima." Kei sengaja kembali mengalihkan pandangannya dari Naya, seakan sedang menghindari sesuatu.
"Itu saja alasannya? Ada yang lain?" Naya mencoba menelisik sepasang netra kelam di hadapannya dengan menahan wajah Kei agar tak lagi berpaling.
Namun sayang ia tak menemukan apa-apa kecuali manik hitam yang tetiba berubah teduh.
"Yakin tidak ada yang lain lagi alasannya?!" Naya kembali membisik.
Masih memindai wajah kukuh yang hanya berjarak beberapa inci saja di hadapannya, Naya sedikit menengadahkan kepalanya agar bisa menatap Kei dengan lebih leluasa.
Sesaat kemudian Naya mengalihkan pandangannya pada Azki yang masih tersungkur di lantai tak berdaya.
Terlihat saudara sepupu suaminya itu masih terus berusaha untuk bisa bangkit, namun ternyata tendangan keras penuh tenaga yang dilancarkan Kei tadi tepat hinggap di dadanya, membuat Azki terlihat sulit bernafas sekarang.
__ADS_1
Sepertinya rasa panas akibat tendangan Kei tak lagi hanya membakar ruang dadanya namun sekarang telah menjalar ke punggung dan area pinggang lelaki tersebut.
Nampak Azki menghela nafas perlahan untuk mengurai sakitnya. Perlahan lelaki itu menolehkan sedikit pandangannya pada pasangan halal di depannya.
Terlihat Kei yang masih men-drama dan Naya yang terlihat seakan sedang ... Mengulur waktu! What?! Did she?! Benarkah?! Azki mengerjapkan matanya berulang kali untuk memastikan feeling-nya.
"Yakin??? Ngga ada alasan lain lagi?!" Kembali terdengar Naya bersuara.
"Nope! No more!"
Kei menggeleng pasti. Sekarang wajah datarnya lebih mendominasi seiring pendar dingin di mata kelam itu.
"Well, kalo alasan Abang cuma itu, Nay yang memaafkannya. Karena yang diculik itu Nay, bukan Abang." Naya mengulas senyum tipis usai berucap lepas tanpa beban.
"What?! No, no! You can't do this!" Kei membisik penuh tekanan.
"Why not?! Kenapa tidak?! Yang mengalami penculikan, kan Nay bukan Abang!"
"Nay, kamu...?!" Kei tidak jadi melanjutkan kalimatnya saat sesuatu yang mungil namun penuh tenaga telah lebih dulu mendorong kuat dadanya.
Sejenak Kei terpana. Tangan dengan jari mungil itu berhasil membuatnya terdorong beberapa langkah ke belakang.
Reflek Kei memalingkan wajah, berusaha menghindari kibasan itu agar tidak menyentuh matanya.
Kei terkesiap. Ia merasa ada sesuatu yang janggal. Ia yakin kibasan Naya barusan tak bermaksud melukai matanya, namun sekedar mengalihkan perhatiannya.
Kei langsung memutar kembali wajahnya. Pandangannya langsung mengunci posisi Azki , tempat lelaki itu tersungkur sebelumnya.
Namun netranya hanya bertemu ruang hampa. Tak lagi ada Azki di sana.
Jari-jari Kei mengepal kuat. Sorot tajamnya memindai seluruh ruangan tersebut.
Tak lama kemudian mata kelamnya memaku pada dua sosok yang sedang bergerak dengan langkah terburu.
Terlihat Naya, sang istri, yang sedang berusaha memapah Azki yang berjalan tertatih.
Kei semakin mengepalkan tangannya kuat. Buku-buku jarinya terlihat memutih. Mata hitamnya semakin mengelam seiring nafas yang memburu.
Dengan gerakan salto yang sempurna, hanya dalam hitungan detik Kei sudah berada tepat di hadapan Naya dan Azki.
__ADS_1
Naya berusaha untuk tidak menampakan keterkejutannya. Namun tak urung hatinya sedikit menciut tatkala netra hitam yang selama beberapa hari ini sangat hangat membersamainya, sekarang terlihat dingin.
Naya menelan ludahnya, kelat. Menarik sedikit lengan Azki agar mundur ke belakang, gadis itu pun maju ke depan. Sekarang ia tepat berdiri di hadapan sang suami.
Dua pasang netra dengan pendar berbeda itu saling bertatapan sekarang. Keduanya tersirat sedang mengukur kedalaman hati masing-masing.
Beberapa detik berlalu dalam sunyi aksara. Hanya helaan kasar nafas Kei Hasan yang terdengar beberapa kali, namun tetap dalam diam.
"Beranjak dari situ, Nay! Kamu tidak perlu melindunginya!" akhirnya Kei lebih dulu berucap pelan, namun penuh tekanan. Mengulurkan tangannya ke arah Naya, namun matanya lurus menghadap Azki.
"Dia urusan Abang sekarang!" lanjutnya tanpa mengalihkan pandangan.
"Tapi Abang, sepertinya kali ini Nay yang harus minta maaf karena tidak bisa menuruti Abang." Naya meluruskan pandangannya, menatap Kei yang kini balas menatapnya tanpa jeda.
"Apa maksud kamu?" Sepasang alis tebal milik Kei saling mendekat membentuk kerutan.
"Nay pernah berjanji untuk menebus hutang budi. Dan ternyata Allah memberi kesempatan itu hari ini. Abang tahu, kan? Nay paling tidak suka berhutang." Naya mengakhiri penjelasannya dengan kalimat asal.
Azki yang berada tepat di belakang gadis itu tertunduk semakin lunglai. Beberapa saat yang lalu hatinya sempat melambung karena merasa mendapatkan perhatian dari gadis itu. Namun sepertinya harapan lelaki itu terlalu tinggi.
"Hutang?! Hutang apa?! Hutang karena merasa dia telah menyelamatkan kamu dari lelaki bajingan di malam itu?! Atau hutang karena dia yang selalu berada di samping kamu hampir 24 jam selama beberapa tahun ini?! Itukah yang kamu anggap sebagai hutang, heh?!!" sengit Kei.
Tatapan tajamnya ditingkahi merah yang kian menyala. Perasaan marah berbalut cemburu membakar dadanya. Tak terima bila Naya merasa berhutang budi pada Azki. Padahal ia yang menggaji lelaki itu untuk menjaga sang istri karena access blocked yang dilakukan Puan Sri Latifah, sehingga hampir lima tahun Kei tidak bisa bertemu Naya.
"Kamu tidak perlu merasa harus berhutang budi padanya. Tanya saja kenapa dia melakukan itu! Melakukan semua hal yang anggap sebagai hutang budi itu!" Kei sedikit meninggikan suaranya namun masih dengan nada yang dingin.
"Maksudnya???" Naya menatap Azki dan Kei bergantian penuh tanya.
"Jangan tanya Abang, tapi tanya ke dia!" Kei masih dengan aura dinginnya mengangkat sedikit dagunya kearah Azki.
Azki tersudut. Sakit di dadanya akibat tendangan Kei semakin menyesakan, ditambah lagi pendar menuntut dari Naya.
Perlahan Azki menghela nafas panjang beberapa kali, berusaha mengurai sesak yang semakin menghimpit.
"Aku bekerja untuknya."
...*****...
Dear readers, dear KeiNaya Lovers... Beberapa purnama berlalu tanpa kabar. Sekarang baru kembali bisa hadir diruang baca semuanya... Berusaha menjemput kembali janji yang belum tertunai, janji untuk menyelesaikan kisah Kei-Naya. Mohon do'anya semoga Allah SWT senantiasa memberi nikmat kesehatan dan kesempatan buat kita semua. Aamiin Allahumma aamiin...😊😊😊
__ADS_1