
Villa Pusako, Pukul 13.05 waktu Malaysia
Kei meremas kuat benda pipih persegi panjang di genggamannya. Menatap nanar gawai tersebut. Informannya baru saja mengabarkan tentang kecelakaan yang menimpa Naya sebelum akhirnya gadis itu dinyatakan hilang.
Kei melirik Rollex di tangan kirinya. Tiga jam sudah berlalu dan mereka belum menemukan titik terang tentang keberadaan Naya.
Sedangkan Puan Sri Latifah dan Afifah juga masih terus melakukan kontak dengan tim pengamanan keluarga besar Tan Sri Abdul Hamid di lapangan.
Mereka terus berupaya mencari tahu keberadaan menantu perempuan Puan Sri Latifah tersebut.
Tiba-tiba Kei bangkit dari duduknya. Menatap mama dan kakaknya dalam.
"Aku tidak tahu pasti apa yang sedang kalian rencanakan, tapi yang jelas rencana kalian telah menyebabkan Naya hilang." Kei menghela nafas panjang, pandangannya tak beralih dari dua wajah perempuan beda generasi di hadapannya.
"Aku tahu, kalian sangat menyayanginya. Tapi bukan begini caranya. Bahkan mama menyabotase nomorku hanya untuk memuluskan rencana mama. Hingga seorang Andrian-pun terkicuh oleh kalian." Kei menggelengkan kepalanya dengan pandangan sinis.
"Aku tahu ... Seorang Puan Sri Latifah bisa melakukan apapun. Jangankan hanya menyabotase nomor ponselku, bahkan menyabotase kehidupanku-pun Puan Sri sanggup. Lima tahun ... Lima tahun Puan Sri melakukan sabotase atas kehidupanku, aku diam. But not now!" Kei mengeram, kemarahan jelas terpancar dari matanya yang menyala.
__ADS_1
"Bukankah sudah beberapa kali aku katakan, Naya itu istriku! Jadi tolong jangan terlalu jauh masuk ke dalam masalah rumah tanggaku! Apakah perkataanku masih belum jelas?!" Gelegar kemarahan Kei mengisi seluruh ruangan di villa Pusako.
"Rumah tangga?! Rumah tangga seperti apa yang telah kau berikan pada Naya, hah?!" Suara Puan Sri Latifah tak kalah menggelegar, meningkahi ucapan Kei barusan.
"Meninggalkannya begitu saja setelah majelis perkahwinan! Hilang tanpa kabar! Tiba-tiba tampil di media dengan resepsi pernikahan mewahmu dengan perempuan yang tak tahu asal usulnya! Apa itu yang kau namakan memberi Naya 'rumah tangga'?!" Puan Sri menatap Kei tanpa kedip.
"Malu aku telah memohon kepada Naya dan Zainab, eteknya Naya supaya mereka bersedia melanjutkan ikatan kekerabatan kita. Bodohnya aku karena pernah berharap bahwa kau bisa menggantikan Ken untuk Naya."
"Cukup, Puan Sri! Aku tidak suka bila selalu dibanding-bandingkan dengan putra kesayanganmu Ken Husein! Aku adalah aku!"
Brrraaakkk!!! Triinnggg!
Afifah terkesiap! Anak perempuan satu-satunya di keluarga Tan Sri Abdul Hamid itu, terlonjak dari tempat duduknya.
Matanya mendelik kesal pada adik lelakinya itu. Kei baru saja membahayakan janin yang baru berusia sembilan minggu di rahimnya.
Namun demi melihat darah segar yang mengucur deras dari sela jari-jari pewaris Tan Sri Abdul Hamid's Kingdom itu, Afifah berusaha menekan amarahnya.
__ADS_1
Bergegas perempuan cantik itu bangkit dari duduknya, berjalan cepat menuju kotak P3K yang berada di sudut ruang utama.
"Don't be so stupid! Naya sedang menghadapi bahaya kat luar sana seorang diri. Simpan energimu!" Ujar Afifah sambil mulai membersihkan luka sang adik.
Kei tak bergeming dari posisinya hinggga kemudian Afifah selesai membersihkan seraya membalut lukanya dengan seutas kain kasa.
"Ini peringatan terakhirku! Tidak usah ikut campur terlalu jauh dalam masalah rumah tanggaku! Atau aku akan membawanya pergi jauh dari hadapan kalian!" Kei kembali menekankan kalimat peringatannya.
Puan Sri membulatkan matanya, tak terima dengan perkataan sang anak lelakinya.
Perempuan paruh baya yang cantik itu baru akan menyanggah Kei, saat gawainya berdering nyaring menandakan panggilan masuk.
"What?!"
..._________*****__________...
To be continued
__ADS_1
Yang udah baca Naya dan Kei, yuk baca juga karya temank ya..