
Kuala Lumpur, at 11.10 p.m.
Membuka matanya perlahan, Kei mengintip gadis cantik yang tidur tepat di sampingnya. Kelopak mata yang mengatup rapat dengan nafas yang terdengar teratur menandakan gadis itu telah tertidur lelap.
Sejenak Kei menatap keindahan di depannya. Wajah putih bersih dengan kulit halus, hidung mungilnya bertengger proporsional. Bulu matanya panjang dan lentik alami dengan alis hitam yang bertata rapi.
Pandangan Kei turun, singgah di bibirnya yang juga mungil. Bibir yang akhir-akhir seperti sungai madu bagi Kei, candu mereguk manisnya yang senantiasa mampu membuat lena namun tidak sampai memabukan.
Pandangan Kei terus bergerak turun, hinggap di leher jenjang yang terbuka sempurna karena gaun tidurnya yang tanpa lengan hanya disanggah oleh dua buah tali kecil di bagian bahu.
Pandangan mata Kei terus bergerak menuju bagian depan di bawah leher jenjang Naya, saat tangannya terulur untuk menyentuh the twin of hills tersebut, lobus frontal di otak besar Kei segera mengirimkan sinyal kontrol yang kuat.
No, bro! Tonight hasn't been your night, yet! Ini bukan malam mu!
Kei meremas kuat rambutnya sambil memejamkan mata, rapat. Menghela nafas panjang dan menghembuskan kembali dengan sedikit kasar. Sabar, bro!
Kei kembali membuka matanya seraya sedikit mendekatkan tubuhnya pada Naya yang tetap terlelap dalam.
Kei tersenyum kecil saat dengkuran halus Naya singgah di pendengarannya.
Sayang, Abang tinggal sebentar, ya? Ada yang harus Abang kerjakan.
Setelah meninggalkan jejak sayang di kening sang istri, Kei bangkit hati-hati agar tidak menganggu tidur sang suri hati.
Setelah memakai jaket kulit warna hitamnya, Kei segera meraih kunci motor RC213V-S miliknya yang tergantung di balik jaket yang barusan dipakainya.
Melangkah perlahan agar tidak meninggalkan suara, Kei bergerak menuju pintu keluar kamar. Baru saja membuka pintu tersebut, sosok perempuan cantik paruh baya sudah berdiri di sana. Seperti sengaja menunggu Kei.
"Mama?!"
"We need to talk!" Puan Sri Latifah mendahului langkah Kei menuruni tangga menuju lantai bawah.
Sekilas Kei melirik Rollex di tangan kirinya. Pukul 11.25 p.m. Ia hanya punya waktu sekitar setengah jam lagi untuk bisa in time!
Kei duduk di sofa, di seberang sang mama yang hanya dibatasi oleh sebuah meja kecil.
Puan Sri menatap lamat dan lekat putra satu-satunya itu. Ada gundah yang sedang menderanya. Laporan dari orang lapangannya barusan sedikit banyak menganggu pikirannya.
Insting ke-ibu-annya bergerak lebih cepat dari pada nalar rasionya.
Menghela nafas sedikit lebih panjang, Puan Sri kembali menatap Kei yang ternyata juga sedang menatapnya.
Dua tatapan dengan pendar yang hampir sama bertemu. Rindu yang lama terbelenggu, tiba-tiba menyentak, menghancurkan lilitan rantai ego dan ke-aku-an.
Entah siapa yang memulai duluan, kedua ibu dan anak itu sudah menyatu dalam dekap haru.
Kei dengan posisi bersimpuh, duduk di lantai, kepalanya luruh di pangkuan sang mama.
Puan Sri Latifah mengusap hangat kepala sang putra. Beberapa saat keduanya larut, diam dalam hening suara.
"Mama, don't be so worry. I know what should I do." Kei mendongakan kepalanya, menatap sang mama lamat, berusaha meyakinkannya.
Puan Sri terkesiap! Menatap Kei lebih dalam. Matanya sedikit menyipit dengan alis yang bertaut.
__ADS_1
Kei tersenyum kecil, menangkap keterkejutan sang mama.
" Ya. Jangan terlalu diambil hati laporan orang-orang Mama. Segala sesuatunya sudah Kei perhitungkan dengan matang. Yang paling penting, tolong berikan restu tulus Mama untuk Kei dan Naya. Do'akan yang terbaik untuk kami, maka apapun rintangan di luar sana tidak akan berarti apa-apa buat Kei." Lanjut Kei tegas dan tanpa keraguan sedikitpun.
Puan Sri Latifah mulai menampilkan wajah tenangnya mendengarkan kalimat-kalimat penuh keyakinan dari anak lelakinya itu.
Ternyata memang betul perkataan orang-orang tua dahulu. Bagi seorang ibu, putra-putrinya tidak pernah menjadi dewasa, mereka tetap dianggap anak-anak yang senantiasa dijaga dan dibela, setua apapun usia anak-anak tersebut!
Kei bangkit dari simpuhannya. Berjongkok sejenak dengan mengenggam tangan sang mama, kemudian membawa tangan itu ke keningnya dan diciumnya takzim.
"Mama, once more ... I do ask for your apology. Apologize me for all have happened in the past, please? Maaf dan restu Mama adalah sumber kekuatan Kei," ujar Kei memohon.
Puan Sri menatap lekat sang putra, putra semata wayangnya sekarang setelah kepergian Ken lebih lima tahun silam. Anak lelaki yang beberapa tahun ini senantiasa dirindukannya. Berharap bahwa suatu saat keajaiban berlaku padanya, dimana sang putra akan hadir tanpa diminta. Datang dengan segenap penyesalannya. Apakah saat itu telah tiba???
"Mama sudah memaafkan kamu, bahkan sejak dulu-dulu lagi," jawab Puan Sri setengah berbisik.
Menarik tangannya dari genggaman Kei, Puan Sri mengarahkan tangannya menuju punggung Kei. Mengusap penuh kasih seorang mama.
Kei kembali menengadahkan wajahnya, menatap sang mama lamat dan lekat. Dua binar bahagia bertemu.
"Thank you so much, Mama. Thank u so much!" ucap Kei.
Perlahan bangkit untuk berdiri, kemudian sedikit membungkukan badannya, Kei menyalami kembali sang mama.
"Kei pergi sebentar, Mama. Ada yang perlu Kei lakukan. Kei titip Naya. Kalo nanti dia terjaga dan menanyakan Kei, bilang saja Kei ada kerja sedikit dengan Andrian," pamit Kei seraya membalikan badannya.
"Take care! Kamu sudah harus kembali sebelum Subuh! Jangan membuat Naya cemas," pinta Puan Sri.
Entah kenapa, gelisahnya semakin bertambah sekarang setelah Kei pamit.
Puan Sri mengantarkan Kei hingga ke pintu depan. Perempuan itu belum beranjak dari berdirinya hingga motor yang dikendarai sang putra bergerak menuju gerbang rumah mereka dan kemudian menghilang di sebaliknya.
Sementara itu Kei memacu motor RC213V-S miliknya , dengan kecepatan maksimal. Tipe motor balap versi jalan raya dari Repsol Honda itu meliuk menyusuri jalanan kota Kuala Lumpur yang masih saja ramai oleh arus lalu lintas dan kehidupan malam.
Sebelum berangkat tadi Kei sempat melirik penunjuk waktu di tangan kirinya dan ia hanya punya waktu sekitar 10 menit saja sebelum pukul 12.00 p.m.
Kei sedikit melambatkan motornya saat memasuki parking lot sebuah klub malam.
Sesaat setelah mematikan mesin motornya, Kei mengedarkan pandangannya ke sekeliling area parkir klub tersebut. Kei memindai setiap sudut untuk memastikan kedatangannya clear dari penguntit.
Kei melangkah perlahan, setiap gerak langkahnya penuh perhitungan, menghindari tangkapan kamera cctv club bagian depan.
Kei terus mengayunkan langkahnya pasti, saat hampir tiba di depan pintu masuk klub tersebut, Kei berbelok mengikuti tanda panah yang menuju toilet samping.
Bukan toilet itu yang menjadi tujuan Kei, namun lelaki dengan postur tinggi tegap itu menyusuri sebuah gang kecil di samping toilet.
Berjalan santai sekitar dua menit, Kei tiba di depan sebuah tempat pangkas rambut yang cukup besar dengan tulisan K2N's Barbershop di atas pintu masuk yang terbuka lebar.
Seorang pria paruh baya langsung menyambut kedatangan Kei.
"Malam, pak cik. Masih ramai agaknya?" Kei duluan menyapa pria paruh baya itu setelah pandangannya menangkap aktivitas para pekerja yang sedang sibuk melayani para pelanggan.
"Alhamdulillah, tuan. Rezeki si kecil sepertinya," jawabnya yang langsung disambut Kei dengan kerutan di keningnya.
__ADS_1
"Si kecil??" Kei masih mengerutkan keningnya.
"He..he..he... Iya, tuan. Baru lahir dua bulan yang lalu," lanjutnya dengan seringai yang lucu.
"Oh, iye ke? Selamat, pak cik! Yang ke ..?"
"He..he..he... Delapan, tuan." Masih dengan seringai lucunya.
"Really?! Bikin yang ke-sembilan, ya? Supaya ganjil! Ha..ha..ha..." Kei tergelak seraya menepuk bahu pria paruh baya tersebut dan terus berjalan menuju sebuah pintu dengan tulisan "gudang" di depannya.
Memasuki ruangan itu, Kei melihat banyak kursi dan meja yang sudah tua tak terpakai. Beberapa perlengkapan pangkas rambut usang juga berserakan.
Kei terus melangkah, hingga kemudian ia sampai di sebuah tangga menuju ruang bawah tanah yang kiri kanannya dilapisi dinding baja dengan pencahayaan temaram.
Setelah melewati lorong sekitar lima puluh meter, Kei tiba di sebuah ruangan yang sangat luas dengan pencahayaan yang terang benderang. Terlihat sebuah ruangan yang tertata dengan rapi, dilengkapi oleh beragam furniture layaknya ruangan di sebuah rumah.
Beberapa orang pria terlihat sedang sibuk dengan aktifitasnya masing-masing. Ada yang duduk di sofa, lesehan di lantai dan bahkan ada juga yang selonjoran sambil bermain game. Rata-rata usia mereka sepantaran dengan Kei.
"Hi, bro! Akhirnya datang juga. You terlambat tiga menit dari kesepakatan kita! Susah sangat ke nak keluar dari kamar anak perawan tu, hah?! Ha..ha..ha.." Seorang pria yang sedang duduk di sofa langsung menyambut Kei dengan candaan khas para pria.
"Bukannya susah nak keluar, tapi susah nak masuk, bro! Perawaaannn! Ha..ha..ha...!" Satu lagi yang sedang selonjoran sambil main game di lantai, semakin gila meledek Kei.
Andrian yang sedang duduk di ujung sofa lainnya hanya tersenyum tipis dengan wajah yang dibuat seserius mungkin.
"Ah, you all, stop that! Janganlah cakap keluar-masuk, atau masuk-keluar macam tu! Poor, Kei! Diizinkan tidur di katil yang sama saja, dia sudah untung banyak! You, you nih macam tak tahu je, masih puasa dia! Belum bisa berbuka! Ha..ha..ha..!" Andrian mengeluarkan gelak paling kencang yang memenuhi seluruh ruangan itu.
Kei mengetatkan rahangnya. Mata hitamnya semakin kelam. Tatapan tajamnya menghunus Andrian. Namun Andrian berpura tak melihatnya. Kapan lagi bisa menang dari Kei, sang sepupu sekaligus big boss di kantornya.
Kei mengeratkan genggamannya pada kunci motor di tangannya. Kemudian hanya dalam hitungan se per sekian detik, benda itu sudah meluncur bagai anak panah dari busurnya.
Andrian terkesiap, meski sudah mempersiapkan diri akan serangan tiba-tiba dari sang sepupu yang sengaja diprovokasinya, namun tetap saja tangannya bergetar kuat saat kunci motor Kei tepat hinggap di telapak tangannya.
"Wow! Six billions, men! Kapan lagi bisa punya RC213V-S, free dari bigg boss, kan?! Ha...ha..ha..." Andrian masih tergelak dengan tetap mengenggam erat kunci motor Kei di tangannya yang terasa kebas.
"Ck! You berdua nih dari dulu tak berubah!" Seorang pria dengan wajah oriental yang terlihat paling 'tenang' di antara mereka, maju ke depan Kei sambil mengulurkan tangannya.
"How's life, bro? Long time no see, you makin bersinar nampak!" lanjutnya.
Kei tersenyum hangat menyambut uluran tangan pria berwajah oriental itu. Saling merangkul hangat, seakan tak terjadi apa-apa barusan.
Melihat keadaan yang sudah mulai mencair, satu persatu mereka saling berangkulan dengan salam khas mereka, mengadu tinju yang terkepal kuat. Tak terkecuali Andrian, sepupu sekaligus asisten kepercayaan Kei itu maju mengulurkan kembali kunci motor Kei.
"Gue kasihan sama loe, kalo loe harus jalan kaki pulang ke rumah. Bisa-bisa loe ngga nyampe pas press confrence besok, bro! Si AA yang bakalan menang banyak!" Bisik Andrian dengan senyum smirk-nya.
Mata Kei langsung menyala saat mendengar Andrian menyebut nama yang beberapa hari ini selalu berhasil mengobarkan bara di dadanya.
AA! Azki Abraham!
Ada yang kenal?
..._________*****_________...
To be continued
__ADS_1
Alhamdulillah, KeiNaya hadir lagi. Terimakasih banyak buat teman-teman yang masih setia dengan KeiNaya. Ada Attar Emiral Naufal dan Serfi Keyrina yang merupakan "Pembaca Teraktif" dan "Pembaca dengan Bacaan Terbanyak" minggu ini. Sekali lagi terimakasih banyak dan terus dukung dengan like, dan comment, ya teman-teman semua..?