
Naya POV
Dia meletakan kembali gawainya di atas dashboard. Lelaki bergelar suami itu kembali fokus dengan jalanan di depannya. Matanya lurus menatap lalu lintas akhir pekan yang mulai ramai di hadapan.
Aku memilih menunggu dalam diam. Menunggu penjelasan dari lelaki yang terlihat lempeng saja, seakan tak terjadi apa-apa. Tiada penjelasan yang perlu disampaikan. Mungkin seperti itu yang ada di benaknya.
Aku menghela nafas, sedikit lebih panjang dan kemudian menghembuskannya sedikit kasar.
Selalu saja tebal tirai rahasia yang dibentangkannya di hadapan ku.
Kenapa tek Za menelponnya? Sejak kapan ia menjalin komunikasi dengan adik Bunda?
Bila mendengar kalimat demi kalimat yang tadi meluncur dari lisannya saat menjawab telpon, terlihat ia sangat dekat dengan tek Za. Tak terdengar canggung dalam nadanya. Hanya saja ia terkesan menghindari pembicaraan panjang, seolah ada yang berusaha ditahannya. Ada sesuatu yang ia tak ingin aku mendengarnya. Tapi apa?
Sejak incident penculikanku beberapa hari yang lalu, ia terkesan menutupi banyak hal dari ku. Tengah malam saat ku terjaga, aku tahu ia sedang melakukan pembicaraan telpon dengan seseorang yang kuyakini sebagai Andrian, asisten sekaligus sepupunya. Banyak hal yang mereka bicarakan, meskipun tak bisa kutangkap secara utuh, namun aku bisa menyimpulkan mereka sedang membicarakan Nadia.
Pun tadi saat makan siang di restoran. Ia tersedak hanya karena sebuah panggilan atau pesan masuk di gawainya. Siapa yang menghubunginya, sampai ia sebegitu terkejutnya? Nadia kah?
Dasar nasib! Kehilangan ponsel dan dompet saat incident itu membuatku seperti get lost in the jungle. Tersesat di rimba belantara.
Aku benar-benar buta dengan situasi dan kondisi di sekitarku. Aku tidak update dengan informasi. Malangnya ia seperti sengaja tidak memberiku akses informasi dan komunikasi. Padahal bila ia mau, apa susahnya membelikan ku sebuah ponsel baru? Poor me!
Aku yakin sesuatu telah terjadi terkait aku, dia atau Nadia. Terlihat ia sedikit uring-uringan dengan emosi yang tidak stabil. Berkali-kali aku memergokinya sedang marah di telepon.
Aku tahu dengan kemampuan manajemen konfliknya, ia berusaha menyembunyikan kepanikan yang sebenarnya sedang menderanya. Di depanku ia bersikap seolah tak terjadi apa-apa. Berusaha menunjukan bahwa everything is okay! Mhm ... apa dia lupa bahwa aku adalah anak psikologi? Gesture dan body language-nya memaparkan dengan jelas. Ia tidak sedang baik-baik saja!
Dengan kondisi yang sedang miskin papa, tidak ada yang bisa aku lakukan sekarang. Menanti dan menunggu adalah solusi sementara yang terkesan bodoh dan sangat tak berdaya guna!
Bodoh??? Sepertinya aku memang begitu bodoh, atau jangan-jangan malah dunggu?
Bagaimana tidak?! Bertahun ia mengabaikanku. Mengacuhkan ku dalam keterpurukan sebuah mahligai bernama rumah tangga. Mengikat kuat dalam mitsaqan ghalizhon, namun kemudian membiarkanku terlepas tak bertuan. Digantuang indak batali! (Seperti digantung, tapi tidak pakai tali, antara ada dan tiada, namun nyata -- pepatah Minangkabau).
__ADS_1
Tidak pernah datang mengunjungiku di negeri orang. Sekalinya datang, hanya untuk mempertontonkan kemesraannya dengan perempuan itu.
Masih tersimpan jelas di memoriku hari itu. Aku sedang terlibat sebuah project dari kampus bersama Prof Anne di Museum Louvre selama dua minggu, saat mataku menangkap kehadirannya di sana. Ada getar yang tiba-tiba menyambar saat mata kami beradu pandang.
Namun malang lagi bagiku, beberapa purnama tak bersua setelah mengantarku ke Perancis, satu bulan setelah pernikahan kami, ternyata ia hadir bukan untuk membebaskan rindu yang sekian lama telah merantai, membelenggu.
Dua hari kemudian baru kuketahui bahwa ia telah menikah lagi dengan perempuan yang kutemui bersamanya hari itu. Perempuan tersebut seseorang yang diberitakan media sebagai kekasihnya yang berprofesi sebagai seorang model. Cantik, terkenal, punya banyak fans, dari keluarga terpandang. Terlihat sempurna di mata dunia yang penuh fatamorgana dan tipu daya.
Aku yang bodoh! Resepsi pernikahan mewahnya bahkan disiarkan live di beberapa tv berbayar yang di kemudian hari kuketahui sebagai miliknya. Mengapa aku sama sekali tidak mengetahuinya? Betapa bodohnya!
Butuh waktu untuk kembali bisa menegakkan kepala tanpa gugu!
Bila ia memang telah punya kekasih sebelum menikahiku, kenapa ia menerima untuk meneruskan perjodohan, menggantikan bang Ken?
Sebagai lelaki ia punya power lebih untuk menolak. Ia punya cukup kuasa untuk membantah. Namun kenapa ia malah menerima sahaja? Bersedia menikah namun kemudian malah melemparku ke neraka dunia!
Lima tahun aku berusaha mengubur rasa, mengalihkan luka dengan menganggapnya tidak ada. Bersyukur bahwa incident Museum Louvre adalah sebuah 'kecelakaan' yang kemudian sembuh oleh jarak dan waktu.
Sempat punya cita-cita untuk menuai pahala dengan berbakti kepada suami setelah ketiadaan Ayah dan Bunda, kualihkan untuk mendulang pahala dari mertua rasa ayah dan ibu kandung. Tan Sri Abdul Hamid dan Puan Sri Latifah.
Menghadirkan mereka berdua dalam setiap doa setelah ayah dan bunda adalah salah satu bentuk baktiku. Berusaha memenuhi semua hak mereka atas ku sebagai menantu mereka berdua. Tidak mau mengecewakan, aku selalu berusaha untuk menuruti apapun keinginan mereka berdua, terutama Mama.
Mengambil jurusan Fashion Designer sama sekali bukan passion-ku, namun demi mengabulkan permintaan sang mama mertua, aku berusaha menepis jengah.
Dan tiga bulan yang lalu, saat luka tak lagi berdarah, bahkan nyaris sembuh sempurna, aku memutuskan untuk pulang. Bukan Seremban ataupun Kuala Lumpur pilihanku, namun Jakarta adalah jawaban atas istikharah panjangku untuk memulai karya.
Memang berharap untuk bertemu dengannya agar segera bisa mengakhiri kisah yang sudah over loaded luka, namun tak pernah menyangka akan bertemu secepat ini dengannya.
Saat itu, keinginanku untuk memberi manfaat bagi sekitar, membawaku terlibat dalam proyek Yayasan Cahaya Umat milik Bundo Nilam dengan Noghoghi Holding yang ternyata adalah miliknya.
Berusaha menghindari pertemuan dengannya setelah proyek selesai, ternyata takdir malah mempertemukan kembali aku dan dia di Seremban. Dan kali ini tidak tanggung-tanggung, dipertemukannya malah di rumah Mama mertua.
__ADS_1
Duh! Kenapa takdir sebegitu bercandanya dengan ku? Bagaimana tidak? Niat untuk mengakhiri kisah malah tersandung oleh harapan dua orang perempuan yang begitu tulus menyayangiku, nek Sya dan Mama.
Harapan besar yang tertumpang begitu berat di pundak ringkihku. Harapan mereka, memintaku untuk menyulam kembali benang emas yang kian lapuk dan rapuh bahkan hampir putus dimakan geligi pertikaian, kesalahpahaman dan ego semata.
Bisa apa aku? Menolak dan mengecewakan keduanya adalah sebuah kemustahilan yang nyata. Tidak mungkin aku akan melakukannya.
Aku tidak tahu, cinta kah atau balas jasa yang menuntunku untuk melangkah. Ah! Ternyata beda keduanya tak terlihat nyata.
Beberapa hari di Seremban, lelaki ini seperti berusaha meluluhkanku. Mencoba menawanku dengan berbagai cara. Mulai dari gaya flamboyan sang playboy jalanan, atau kembali seperti duo abang dulu, Kei-Ken yang senantiasa ada di masa kecilku, hingga super hero penyelamat dunia.
Beberapa kali ku akui, aku memang terlena, hampir terjerat utuh dalam pesonanya. Entah sebagai istri yang belum pernah 'disentuh', atau sebagai gadis muda yang mudah terjebak oleh bujuk rayu sang cassanova. Entahlah!
Dan hari ini ia kembali berniat menawanku. Di sebuah tempat mulia, dihadapan banyak orang. Bagaimana mungkin aku akan mempermalukannya dengan sebuah penolakan?
Bagiku dia tetap seorang abang yang dulu pernah menjagaku dengan begitu baik bersama bang Ken, bahkan berjanji untuk selalu menjagaku, selamanya! Dulu, dulu sekali!
Namun di atas semua alasan-alasan itu, mulai dari perasaan cinta atau balas budi dan jasa ke Mama dan nek Sya, atau dia sebagai orang yang lebih tua, seorang abang yang pernah menjaga dan berjanji akan senantiasa menjaga, ada satu alasan yang kusimpan rapi di sudut hati yang paling dalam.
Alasan yang menjadikanku halal baginya dan dia pun halal bagiku. Dia yang paling berhak atasku dan atas semua yang ada padaku.
Alasan yang meneguhkanku atas qolbun (hati) yang memang suka berbolak-balik. Hari ini katanya iya, besok bisa berubah tidak. Detik ini tidak, sedetik berikutnya bisa berubah iya.
Alasan itu adalah ...
..._________*****_________...
To be continued
Alhamdulillah, bisa double up. Mencicil yang terhutang beberapa hari kebelakang. Doakan bisa lunas hutangnya, ya...
Salam sayang semuanya, dan selamat menikmati. Jangan lupa like dan commentnya, ya...
__ADS_1