
Langkah gegas Kei meningkahi deburan ombak Selat Melaka yang menyatu harmoni bersama sang waktu yang terus merangkak naik.
Setibanya di depan pintu villa utama, Kei segera saja memasuki rumah besar berlantai tiga yang merupakan bangunan utama di area Villa Pusako.
Kei langsung menghentikan langkahnya saat telinganya menangkap percakapan sang kakak dengan seseorang di ujung telepon.
"Are you sure?! How could it be?! Kau yakin? Bagaimana bisa?!"
Kei berjalan semakin pelan mendekati sumber suara, berharap mendapatkan petunjuk walau sekecil apapun tentang keberadaan Naya.
"Dasar tak guna!!! Bagaimana bisa kalian begitu ceroboh?! Stupid! Bila sampai terjadi sesuatu yang membahayakan adik iparku, jaga kalian!!!"
Gelegar kemarahan anak perempuan Tan Sri Abdul Hamid itu mampu menembus sekat setiap ruang di villa Pusako.
Perempuan cantik yang sedang hamil muda itu memijat-mijat keningnya sambil terus berjalan hilir mudik di ruangan besar itu.
Puan Sri Latifah yang sedari tadi hanya duduk diam mengamati sang putri semata wayang itu perlahan bangkit dari duduknya.
Perempuan yang masih terlihat cantik di usianya yang sudah setengah abad itu menyentuh lembut bahu Afifah sambil menuntun sang puteri untuk duduk di salah satu sofa di tengah ruangan tersebut.
"Honey, calm down. Tenang dulu, sayang. Mama yakin Naya kita baik-baik saja." Puan Sri Latifah mengusap lembut punggung Afifah, berusaha menenangkan anak perempuannya itu.
"Tapi Mama, Fah takut sesuatu yang buruk berlaku pada Nay. Dia sedang sendirian di luar sana. Tiada sesiapa yang menjaganya. Ini sudah berlangsung dua jam, tapi kita belum dapatkan titik terang keberadaannya. Bagaimana bila dia ...?" Afifah tidak jadi melanjutkan kalimatnya, terlalu takut dengan bayangannya sendiri.
"Sayangnya Mama... Don't say that. Setiap perkataan tu do'a tau? Maka ucapkan yang baik saja. Mama yakin, Naya kita is okay. Ada Allah yang sentiasa jaga dia." Puan Sri Latifah kembali berusaha meyakinkan Afifah, sang puteri.
Isteri Tan Sri Abdul Hamid itu bukannya tidak cemas dan khawatir dengan kondisi sang menantu. Namun perempuan paruh baya yang telah banyak mengecap asam garam kehidupan itu berusaha menyembunyikan resah di sudut terdalam hatinya.
Semua kalimat menangkan dan meyakinkan yang ia ucapkan untuk sang puteri sebenarnya lebih ia tujukan untuk dirinya sendiri.
Ya! Puan Sri Latifah sedang mensugesti dirinya sendiri. Meyakinkan hati bahwa sang menantu sedang baik-baik saja. Ada dzat yang Maha Melindungi sedang menjaga Naya.
"Mama, apakah sudah ada kabar dari orang lapangan kita?" Afifah menatap penuh harap pada sang mama.
Tidak langsung menjawab pertanyaan Afifah, Puan Sri memilih tersenyum kecil sambil kembali mengusap lembut punggungnya.
__ADS_1
Puan Sri tidak mau membahayakan kondisi Afifah yang tengah berbadan dua. Meski sang anak dan menantu laki-lakinya belum mau memberitahukan tentang kabar gembira itu karena ingin memberikan surprise, namun sebenarnya the queen of Tan Sri Abdul Hamid's Kingdom itu sudah jauh hari mengetahuinya. Apa yang tidak bisa dilakukan oleh seorang Puan Sri Latifah?
Namun kini, apakah itu masih berlaku? Dua jam sudah berlalu, tapi ia belum mendapatkan kabar apapun tentang Naya, kecuali berita bahwa menantunya menghilang setelah kendaraan yang dikemudikan oleh Putra, sang asisten, mengalami kecelakaan
Sepertinya telah terjadi kesalahan dalam lv-cp's project, upaya untuk menyelamatkan mahligai rumah tangga Naya dan Kei, yang digagasnya bersama sang puteri. But, how come? Bagaimana bisa?
Sepertinya ada tangan-tangan lain lain yang juga tengah bermain, but who? Beberapa nama memang sempat terlintas di kepalanya, namun insting dan jam terbangnya di lapangan yang cukup tinggi, mengeliminir nama-nama itu.
Tetiba sebuah nama baru menghinggapi pikiran sang puan. Sebuah nama yang ia dan Naya kenal dengan baik. Sedikit terasa musykil, memang. Makanya ia berusaha mengusir nama itu dari pikirannya. Namun sialnya nama itu tak jua mau beranjak pergi.
It's impossible! But, nothing's impossible! Tidak mungkin! Namun, tidak ada juga yang tidak mungkin! Semua kemungkinan bisa saja terjadi sekarang.
Akhirnya, mau tidak mau Puan Sri Latifah menyerah kepada feelingnya. Perempuan paruh baya dengan tonjolan garis aristokrasi kuat di wajahnya itu menggerakan jemarinya di keyboard telepon genggamnya.
"Aku minta informasi detil tentang AA. Apa, dimana dan bersama siapa saja dia selama satu bulan ini!" Puan Sri langsung memberikan perintah begitu teleponnya tersambung.
"Satu lagi, temukan posisi dan keberadaannya hari ini. Aku tunggu dalam lima belas menit ini", pungkasnya seraya menutup sambungan.
"Mama, what should we do now? Apa yang harus kita lakukan bila Kei sampai tahu keadaan ini?!" Afifah berseru cemas. Kekhawatiran semakin terlihat jelas di wajah cantiknya yang sekarang agak memucat.
"Wow! Hebat! Setelah Naya menghilang, ada yang sedang mencari celah untuk memfitnah orang lain. Playing victim!" Rahang Kei mengeras. Sedari dari ia berusaha keras menahan diri, berdiam dengan bersandar pada sebuah lemari besar, berdekatan dengan lorong menuju ruang utama.
Posisi Puan Sri Latifah dan Afifah yang sedang membelakangi lorong masuk ruang utama menyebabkan keduanya tidak menyadari kehadiran Kei.
Kei bersandar dengan kaki menyilang. Kedua tangannya bersedekap di depan dada. Matanya membiaskan amarah yang tengah berusaha diredamnya.
Menunggu beberapa saat, Kei berharap kedua perempuan di depannya berinisiatif untuk memberitahunya tentang keadaan Naya.
Namun kembali Kei harus menelan kekecewaan yang dalam. Harapannya masih terlalu tinggi.
Puan Sri masih diam dalam berdirinya. Memandang Kei tak berkedip. Sementara Afifah yang sedang duduk di sofa melihat Mama dan adik lelakinya secara bergantian. Tidak tahu apa yang harus dilakukannya.
Kei masih menatap keduanya penuh intimidasi. Rahangnya masih mengeras dengan mata yang tetap menyala.
"Tidak adakah yang mau menjelaskan kepada ku, apa yang sedang terjadi sebenarnya dengan istriku?!" Kalimat sarkas Kei meluncur dengan sengaja menekankan kata 'istri' untuk menegaskan posisinya di hadapan mama dan kakaknya.
__ADS_1
Bibir Puan Sri Latifah melengkung membentuk seulas senyum tipis. Teramat tipis, hingga tiada seorangpun di ruangan itu yang menyadarinya kecuali Puan Sri sendiri.
"Mama yakin kamu sudah tahu apa yang terjadi, lalu apalagi yang harus kami terangkan?" Puan Sri tak kalah dingin dan sarkas menanggapi.
Afifah yang berada di antara keduanya hanya diam tanpa suara. Lisannya tercekat di kerongkongan. Ingin bicara, namun dua orang yang sangat dikenalinya itu seperti gunungan salju yang siap untuk saling membekukan.
"Oh, really?! Nothing to be explained, huh?! So, what about this one?!" Kei mengangkat gawainya dan memperlihatkan screen shoot percakapan Andrian dengan seseorang yang berlaku sebagai dirinya.
"Aku minta penjelasan dari Puan Sri yang terhormat. Apa maksudnya ini?" Kalimat dan pandangan Kei penuh tekanan. Matanya tak berkedip menatap Puan Sri Latifah, sang mama.
Namun sepertinya Kei salah mencari lawan tanding sekarang. Puan Sri bukan hanya bersinar lebih terang, namun sangat terik. Kei seperti menentang matahari.
Hanya beberapa saat mampu beradu pandang, Kei memutar bola matanya.
...________*****________...
Lalu di mana Naya? Siapa yang sedang bermain sebenarnya?
Sambil menunggu lanjutan episode Naya dan Kei, silahkan pantengin dulu karya temanku ya...😊😊
Berharap pada pernikahan dengan Derald seorang aktor muda yang terkenal atas dukungan moril darinya, membuat Aline di butakan cinta oleh pria tersebut.
Derald hanya memanfaatkan kebaikan Aline. Tak ada cinta tulus dari Derald untuk gadis berkacamata dengan jerawat di wajahnya itu.
Hatinya sudah di butakan oleh cinta. Aline tak bisa membedakan mana itu cinta sejati dan cinta palsu hingga perselingkuhan Derald dengan Chyntia yang sama-sama bekerja di dunia entertainment itu sudah menyadarkan Aline. Tersimpan rasa ingin mengalahkan mereka berdua.
Kehadiran pria berpenampilan preman bermata elang itu membawa perubahan untuk Aline. Gadis itu bermetamorfosa menjadi seorang artis yang cantik dan bisa mengalahkan ketenaran kedua orang yang menghina dirinya.
Kedekatan Aline dan Galen menumbuhkan perasaan di antara mereka.
Bagaimana kisah Aline selanjutnya setelah perubahan terjadi dalam dirinya?
Lalu siapa yang memenangkan cintanya?
__ADS_1