
"Sayang, please don't be like this. Abang yang salah atas semua, nih ... Tolong jangan menangis lagi," bisik Kei di telinga sang istri.
Tangan Kei kemudian mengusap lembut kepala berbalut hijab tersebut. Perasaan bersalah semakin mencengkramnya dalam. Perlahan Kei mengarahkan pandangannya kembali pada Puan Sri dan tek Za.
"Mama, etek ... Kei tahu sulit bagi Mama dan etek untuk bisa memaafkan Kei, but please ... Tolong beri Kei kesempatan untuk memperbaiki semuanya." Kei menatap Puan Sri Latifah dan etek Zainab bergantian, sebelum kemudian melanjutkan kembaki kalimatnya.
"Mama, tek Za ... Tolong beri Kei kesempatan untuk bisa memenuhi janji Kei pada pak cik Zain dan mak cik Dijah ... Pada Ken juga. Dan, di atas itu semua ... Janji Kei pada ALLAH saat ijab kabul lima tahun lalu. Please, Kei mohon dengan sangat, Mama ... Izinkan Kei untuk kembali setia pada janji," lirih Kei semakin meluruh.
Lelaki berahang kukuh dengan tatapan yang biasanya tajam menghujam bak elang itu, sekarang lebih banyak menundukan kepalanya.
Dadanya bergemuruh bersama sesak yang datang menimpa. Hilang sudah Kei yang keras, angkuh tak terbantah.
Sekarang ia seperti pesakitan menunggu vonis grasi dari ibunda Ratu. Apakah diterima atau ditolak! Wwkk...wwkk!
Manik hitam lelaki itu menyiratkan permohonan yang sangat. Berharap diberi kesempatan untuk menyulam kembali sutra yang pernah ia cabik dengan sengaja.
Puan Sri Latifah masih terdiam. Kalimat Kei barusan mengingatkan perempuan paruh baya itu akan Afifah, sang putri.
Kalimat sama yang pernah disampaikan Afifah, saat membujuk sang puan untuk bersedia memaafkan adik lelakinya itu.
Namun entah kenapa, ragu masih membelenggu hati sang puan. Ragu, bila sang putra hanya sedang 'berlakon, bersandiwara'. Hanya berniat untuk 'menawan' sang menantu kesayangan, bukan niat 'mencinta' sebenarnya.
Puan Sri tidak mau tertipu lagi oleh 'kadal kecil berbakat buaya' di depannya. Cukup sudah yang lima tahun ini!
"Apa yang membuatmu yakin untuk kembali setia pada janji?! Bukankah kau yang duluan ingin mengungkainya?! Ada apa?! Bukankah patut kami bertanya, ada apa sebenarnya?"
Terdengar suara berat Puan Sri penuh tekanan, dengan senyum sinis menghiasi wajahnya.
"Ma, Kei sudah lelah jadi budak durhaka! Kei lelah, Mama ... Dulu, dulu sekali ... Kei memang sempat berbangga bisa membuat seorang Puan Sri Latifah terluka saat Kei menyakiti menantu kesayangannya." Kei beralih mengenggam tangan Naya saat mengucapkan kalimat itu.
Kei tahu kalimatnya barusan. pasti akan kembali mengingatkan sang istri pada kenangan pahit masalalu mereka.
"Maafkan Abang, sayang," bisik Kei kembali di telinga Naya.
Gadis itu masih tak sanggup berkata-kata. Baginya sekarang, diam adalah luahan dari semua rasa yang ia punya.
Kei menghela nafas, sedikit lebih panjang. Ada beban yang sedikit demi sedikit mulai terurai dari hatinya.
"Kei minta maaf pada Mama, tek Za dan juga ... Naya. Kei tahu, saat Kei menyakiti Naya, Mama lebih sakit! Ketika Kei menyiakan Naya, Mama lebih menderita. Bahkan bila tek Za mengetahui semuanya lebih awa, Kei yakin, etek tak kan sudi menerima Kei selama beberapa tahun ini."
__ADS_1
"Etek, maafkan lidah ini yang sangat lihai bersilat kata, hingga etek terpedaya." Kei menatap tek Za dengan sungguh saat mengucapkan kalimatnya.
"Mama... Maafkan budak ingkar ... durhaka, nih. Budak yang sentiasa membuat Mama dalam masalah, permalukan keluarga dan ... Dengan sengaja menyakiti menantu kesayangan Mama. Maaf." Kei tak sanggup menatap sang Mama ketika mengucapkan kalimat itu.
"Ma, tek Za ... Kei memang layak mendapatkan hukuman. Bila menjauhkan Kei dari Naya selama lima tahun ini belum cukup untuk menghukum Kei, silahkan tambah lagi hukumannya ... Tapi satu permohonan Kei, jangan lagi jauhkan Nay dari Kei, please?"
Kei mengangkat sedikit kepalanya setelah mengucapkan kalimat itu. Menatap Puan Sri beberapa saat, Kei memohon kepada sang mama lewat sorot matanya.
Puan Sri Latifah masih bergeming. Membuang pandangannya jauh, berusaha menghindari manik hitam sang putra di hadapannya.
Istri Tan Sri Abdul Hamid itu masih belum yakin dengan kesungguhan lelaki di depannya. Apalagi ia juga belum tahu, apakah Naya mau menerima kembali sang putra setelah apa yang dilakukannya?
"Mama, Kei memohon izin dari Mama untuk membawa menantu kesayangan Mama menaiki biduk yang akan Kei kayuh."
Biduk ... Kayuh ...? Belagak nak jadi pujangga, pula?!
"Kamu yakin nak bawa menantu aku naik biduk? Sorry, I won't let it happen!"
"Mama?!" Naya terkejut sendiri dengan kata yang terloncat dari mulutnya.
Meski hanya satu kata, namun mampu mewakili hatinya secara utuh. Terselip nada protes dan penolakan atas kalimat Puan Sri barusan.
Tanpa sadar Naya langsung membekap mulutnya sendiri. Seketika merah jambu merona di pipi putih pualamnya.
Akhirnya kedua perempuan tersebut dapat melihat dan membaca perasaan Naya secara terang benderang.
Hanya dengan satu kata saja, yang terlontar dari lisan Naya, kedua perempuan yang sudah lama mengecap asam garam kehidupan itu dapat nengetahui dengan jelas bagaimana hati gadis cantik yang sangat mereka sayangi itu terhadap Kei.
"Kenapa? Nay yakin mau naik biduk dia?" Puan Sri mengarahkan dagunya kepada sang putra, masih dengan nada sinisnya.
"Mama bahkan mampu membelikan Nay berpuluh kapal pesiar!" Puan Sri kembali berucap pedas.
"Etek juga masih sanggup membelikan Nay kapal feri, kenapa Nay memilih biduk?" Tek Za ikut menimpali Puan Sri dengan kalimat yang asal.
Naya menunduk dalam diam. Pipi putih pualamnya masih menyisakan pendar merah jambu.
Kedua tangan yang ditaruhnya di atas pangkuan, saling bertaut kuat.
Entah kenapa dengan hatinya, Naya tidak tahu. Ia hanya merasa tidak rela saat sang mama mertuanya tidak mengizinkannya untuk bersama Kei.
__ADS_1
Naya tahu, Kei sedang beranalogi dengan istilah 'biduk' dan 'kayuh'. Ia bukan lagi remaja labil, apalagi anak ingusan yang tidak mengerti analogi itu. Kei sedang membicarakan tentang mahligai rumah tangga mereka.
Tadi alam bawah sadarnya merespon dengan sangat baik, hingga meluncurlah penolakan lewat satu kata tersebut.
Namun sekarang, saat kesadaran sudah sepenuhnya kembali, lidah gadis itu terasa kelu. Satupun kata tidak ada yang wujud dari lisannya.
Kei mengerutkan keningnya saat tadi mendengar timpalan demi timpalan kalimat yang keluar dari lisan tiga perempuan beda generasi di hadapannya. Kalimat yang bahkan terdengar 'asal' dan 'tidak jelas' di telinga 'normal' Kei.
Kei semakin menautkan kedua alisnya dengan mata yang menyipit, saat tanpa sengaja sudut matanya menangkap saling kedip mata antara sang Mama dengan tek Za.
Kei masih berusaha mencerna dan menelaah apa yang sebenarnya terjadi. Mencoba merangkai potongan demi potongan puzzle itu menjadi utuh.
Tiba-tiba senyum tipis menghiasi wajah dengan rahang kukuh itu. Kei tersenyum semakin lebar bahkan membias hingga ke matanya yang biasa kelam.
"Maaf, Ma dan tek Za, tapi naik feri dan kapal pesiar masih kalah romantis dari naik biduk. Iya kan, sayang?"
Kei mengerlingkan matanya pada Naya yang terlihat sedang mengerjapkan mata berulang kali sambil menggigit tipis ujung kukunya.
Tingkah paling menggemaskan yang selalu diperlihatkan sang istri bila sedang berpikir keras.
"Sayang??" Kei menyentuh lembut salah satu punggung tangan Naya yang tersampir bebas di pangkuannya.
"What? Ap.. Apa? Ab...bang cakap apa?" Naya tersentak kaget dengan mata yang membulat utuh.
Kalimat yang keluar dari lidahnya pun terbata.
"Nope!" Kei tersenyum lembut seraya mengenggam hangat tangan sang istri.
"I just wanna say, I love you so much! So much...much love! An INFINITE LOVE! Kei setengah berbisik dengan sengaja menekankan kata 'cinta yang tak terbatas'.
"Cckk! " Puan Sri berdecak kesal sembari memutar bola matanya.
"Tak terbatas, konon! Dah, jangan nak berdrama sangat!" Puan Sri menepuk kasar tangan Kei yang masih mengenggam tangan Naya.
"Kami para perempuan tu tak butuh janji, tapi kepastian! Sekarang, apa kepastian yang bisa kamu berikan dalam waktu satu kali dua puluh empat jam kedepan?!"
What?!
..._________*****_________...
__ADS_1
To be continued
Alhamdulillah, bisa up lagi hari ini. Selamat membaca, jangan lupa like dan commentnya, ya... Sekali-sekali ramein dong ...