
"Kami para perempuan tu tak butuh janji, tapi kepastian! Sekarang, apa kepastian yang bisa kamu berikan dalam waktu satu kali dua puluh empat jam kedepan?!"
What?!
Kei menelan ludahnya kelat. Dipikirnya masalah sudah terurai, ternyata belum!
"Maksud Mama?" Kei mengangkat kepalanya, memberanikan diri menatap sang Mama.
"Menurutmu?" Puan Sri balik bertanya sarkas tanpa menjawab sang putra.
Kei menghela nafas panjang seraya menghembuskannya kembali dengan perlahan. Matanya beralih kepada Naya. Menatap sang istri sejenak, kemudian lelaki itu kembali mengalihkan pandangannya pada sang mama.
"Kei akan menyelesaikan segala sesuatunya sesegera mungkin, Mama," ujar Kei dengan bahasa diplomatisnya.
Mendengar pernyataan sang putra, Puan Sri tersenyum samar namun kepalanya menggeleng tegas!
"Tunggu! 'Segala sesuatunya, sesegera mungkin', itu maksudnya apa?! Kami, para perempuan belum melihat ada kepastian di dua frasa itu!"
Puan Sri mengarahkan tatapannya pada tek Za dan Naya sekilas, sebelum kemudian kembali menatap Kei tajam.
Kei tersenyum kecil. Wajah tenangnya tetap mendominasi. Ia berusaha keras untuk bisa lepas dari intimidasi sang Mama.
Duh, Puan Sri! Mama ku tersayang ... Engkau sungguh mencabarku!
Pandangan Kei sekarang tertukik kepada Naya yang masih menunduk, diam. Gadis cantik itu lebih banyak mendengar dalam hening kata.
Nay sayang, berat sungguh perjuangan untuk meluluhkanmu!
Namun Abang pastikan satu hal, Abang tidak akan membiarkan apapun dan sesiapapun menjauhkan Nay dari Abang! Tidak akan!
Kei menegakan kepalanya seraya mengulas senyum. Ditatapnya sang Mama dengan tenang dan penuh rasa percaya diri.
"Puan Sri, Mamaku tersayang ..." Kei sengaja menjeda kalimatnya menunggu reaksi dari tiga perempuan di depannya, terutama sang mama.
Tidak mendapatkan reaksi apapun, Kei melirik Naya sekilas sebelum kembali melanjutkan kalimatnya.
"Puan Sri, Mamaku tersayang, Kei pastikan Mama tidak perlu menunggu terlalu lama hingga dua puluh empat jam ke depan ..." ujar Kei sengaja kembali berhenti, menjeda kalimatnya beberapa saat.
"Mamaku tersayang, jangan khawatir ... Mama akan mendapatkan satu per satu kepastian dari sekian banyak kepastian yang akan Kei hantarkan ke hadapan Mama. Dan sekali lagi, Mama tidak perlu menunggu hingga dua puluh empat jam. Kei pastikan, dua hingga tiga jam ke depan, Mama akan mendapatkannya," sambung Kei tegas.
Lelaki gagah dengan rahang kukuh itu lantas mengulas senyum khasnya sambil menatap lamat sang mama, Puan Sri Latifah.
Satu tangan kanan Kei meraih tangan sang Mama, membawanya ke kening dan menciumnya takzim, sementara tangan kirinya tetap mengenggam hangat tangan Naya.
Sang puan memutar bola matanya seraya membuang pandangannya ke sembarang arah.
Sudah tiga kali dalam rentang beberapa masa saja malam ini, lelaki di depannya, 'sang putra yang (pernah) hilang itu mengatakan 'Mamaku tersayang'.
Dua kata 'receh' dan perlakuan takzim Kei mencium tangannya, ternyata mampu sedikit menggoyahkan benteng ke-aku-annya.
__ADS_1
Julangan tinggi gunung es keangkuhannya sedikit demi sedikit mulai mencair oleh cara hangat Kei memperlakukan sang Mama.
Terngiang lagi kalimat Kei di pembicaraan terakhir mereka lewat ponsel tadi siang ... Mama, my longing for you is great!
Sial!!! Bila aku saja yang sudah tua, sudah banyak makan asam garam kehidupan, sudah bisa dengan lebih baik membedakan mana yang kadal mana buaya, masih berhasil terbuai manis tutur katanya, apalagi menantuku Naya???
Puan Sri menggelengkan kepalanya berulang kali, menolak terbius oleh kalimat-kalimat manis namun mematikan dari putranya itu.
Puan Sri tidak menyadari bila semua tingkahnya dipindai dengan baik oleh seorang Kei Hasan.
Kei Hasan sang putra mahkota, pewaris utama kerajaan bisnis yang telah dibangun oleh Puan Sri bersama dengan sang suami, Tan Sri Abdul Hamid.
Kei Hasan, seorang lelaki yang sedang berusaha keras untuk memenangi hati sang istri, gadis cantik di samping sang puan. Dan, apapun cara akan dilakukannya!
Kei menyamarkan senyumnya. Terlihat sekali dia sudah berhasil keluar dari tekanan yang tadi sengaja diciptakan oleh istri Tan Sri Abdul Hamid, sang Mama tercinta.
Bahkan sekarang Kei nampak lebih bisa santai saat pandangannya bertemu dengan manik hitam milik perempuan berwajah khas aristokrat di hadapannya.
Perempuan paruh baya yang sempat menjungkir balikan dunianya selama beberapa tahun ini.
Perempuan yang meskipun belum terlafas kata 'maaf'nya untuk Kei, namun lelaki itu yakin kata empat huruf itu telah ada untuknya.
Kei hanya harus lebih bersabar saja, perempuan yang bergelar 'mama' itu berkenan menurunkan sedikit saja 'gengsi'nya hingga kata sakti itu wujud di lisannya. Semoga! Agar asanya segera berwujud nyata. Asanya??? Siapa lagi kalau bukan juwita di samping sang Mama.
Kei tersenyum tipis, teramat tipis, hingga ia sendiri hampir-hampir tidak menyadari senyumnya itu.
Namun ternyata Kei salah. Segala gerak geriknya ternyata tak lepas dari pantauan seorang Kanaya Khairunnisa.
Abang Kei??? Awas saja!!!
Beberapa saat diam masih mendominasi di ruangan itu. Keempat orang di sana masih terjebak oleh alam pikirannya masing-masing.
Hingga akhirnya suasana hening itu berakhir oleh suara bening namun lugas dari seorang gadis dengan bahasa khas remajanya.
"Om ... Sidangnya udah kelar apa belom? Kok lama amir, sih? Si Amir aja, temanku di sekolah kalo disidang guru BK ngga lama-lama amir."
Kepala Noura melongok dari balik lemari besar yang menjadi partisi ruang tamu dan ruang keluarga.
"Udah lah Om ... Kalo emang belom dapat kata putus, boleh kok Om disambung lagi, entar." lanjutnya asal.
"Tapi sekarang makan dulu yukkk... Aku dah laper banget, nih ... Lagian, kasihan tuh Uni Naya ... Tadi Uni bilang ke aku kalo dianya udah lapar. Tapi karena nunggu Om sama Ayah pulang dari surau, makannya Uni didelay dulu ..."
Noura masih dengan 'riuh' celotehan khas remajanya. Kelamaan menunggu orang-orang dewasa 'bersidang' menyelesaikan urusannya yang entah apa, gadis cantik beranjak remaja itu mulai meringis menangani cacing di perutnya yang sudah melakukan aksi unjuk rasa.
Makanya dengan segala keberanian dan kenekatan khas remajanya, Noura juga mulai melakukan aksi unjuk rasa seperti cacing-cacing di perutnya.
Kei dan Naya sama tersenyum menyaksikan aksi protes gadis itu, sementara tek Za membulatkan matanya penuh dengan mulut yang sudah komat kamit tanpa suara. Tampilan khas emak-emak saat marah dengan gaya yang lebih elegan.
Tinggal Puan Sri yang terpana dengan mulut sedikit menganga. Entahlah! Apakah terpana karena 'keriuhan' yang dipertontonkan Noura barusan, ataukah karena tampilan fisik dan gaya Noura saat merajuk, melakukan aksi protes, yang benar-benar sama persis seperti gaya Naya sepuluh tahun tahun silam. Saat negara api belum menyerang! Wk... wk... wk...
__ADS_1
...*****...
Pukul 23.55 WIB
Tiga jam sudah berlalu sejak makan malam yang terlambat tadi, namun Naya masih belum tidur sepicingpun.
Matanya enggan terlelap meski tubuhnya lelah karena seharian melakukan perjalanan.
Entah kenapa perasaannya menjadi tidak menentu sejak Kei dan Puan Sri terlihat 'tidak biasa' di mata Naya.
Flashback On
Ibu dan anak itu seperti sedang menyembunyikan sesuatu setelah keduanya terlihat sibuk dengan gawainya masing-masing.
Naya masih bisa mengingat dengan jelas, ketika sesaat setelah makan malam, tiba-tiba gawai keduanya serentak sibuk dengan nada dering tanda pesan masuk dan panggilan.
Semakin menguatkan perasaan tidak nyamannya, saat Naya melihat sang suami dan sang mama mertua seperti sengaja menjauh dari keramaian dua keluarga besar yang sedang asyik bertukar cerita di ruang keluarga.
Tak lama kemudian, entah itu sebuah kebetulan, keduanya sama kembali ke ruang itu pada waktu yang bersamaan meskipun dari arah yang berbeda.
Kemudian terlihat Puan Sri mengamit lengan tek Za dan membawanya agak menjauh. Nampak kedua perempuan itu membincangkan sesuatu.
Naya menyipitkan matanya saat Kei bergerak mendatangi tempat duduknya dan berbisik di telinganya.
"Kita ke kamar sebentar, ada yang ingin Abang sampaikan," ucap Kei pelan.
"Bang ... Nay segan, semuanya masih pada di sini. Emangnya Abang mo menyampaikan apa? Di sini aja, ya?" Naya juga berbisik dengan masih berusaha menolak secara halus.
Kei tak menjawab, namun matanya menatap gadis itu lurus, terus tanpa kedip.
Naya menundukan wajahnya, berusaha mengusir jengah. Berharap Kei paham, dan mau sedikit mengalah.
Namun lelaki di depannya seperti sedang menunjukan kuasa. Kei sama sekali tak memutus pandangannya, bahkan kini lelaki itu sudah mengulurkan tangannya ke hadapan Naya.
"Ehem ... Ehemmm!" Afifah mendehem keras, menggoda Naya.
"Udah, Nay... Kamu ngikut aja, ntar ... baby gergasi-mu ngamuk," goda Afifah dengan menghilangkan suara saat mengatakan 'baby gergasi', hanya mulutnya yang terlihat bergerak.
"Nay, kamu istirahat segera ya, nak? Seharian melakukan perjalanan pasti capek, kan? Ayo Kei, antar Naya ke kamar."
Tek Za tiba-tiba sudah berada di dekat mereka. Kalimatnya barusan lebih kepada sebuah perintah bukan permintaan.
Kei yang merasa mendapat dukungan, segera menarik lembut tangan Naya, kemudian mengiringinya menuju kamar di lantai atas.
...__________*****__________...
To be continued
Alhamdulillah, KeiNaya hadir lagi ke ruang baca teman-teman semua. Selamat membaca dan jangan lupa like dan commentnya, ya...
__ADS_1
Terimakasih!