Di Ujung Sayap Rindu

Di Ujung Sayap Rindu
Waktu dan Kesempatanmu Terbatas, Bro!


__ADS_3

Kei memasuki rumah utama yang masih ramai oleh kerabat dan handai taulan keluarga besar Tan Sri Abdul Hamid. Sebagai abang tertua di keluarganya, Tan Sri memang terlihat sibuk mengurus pernikahan keponakannya beberapa minggu ini. Bahkan hingga malam ini beliau masih belum beranjak pulang, masih sibuk melayani keluarga jauh yang datang silih berganti.


Kei memindai setiap sisi ruangan, berharap segera menemukan sosok jelitanya. Siapa lagi kalau bukan Kanaya Khairunnisa.


Setelah beberapa saat matanya memindai, Kei belum jua berhasil menemukan Naya. Kei kembali mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan itu.


Saat matanya menyapu sebuah sudut ruang, tak sengaja pandangannya bersirobok dengan sepasang netra yang menatapnya tajam.


Kei berdecak kecil saat pemilik mata itu bergerak cepat menyongsong langkahnya.


Oh shiitt! Not now! Kei menggeleng pelan sambil memutar langkah untuk menghindari perempuan cantik itu.


"Stop! We have to talk." Afifah bergerak lebih cepat dan gesit dengan menarik kerah kemeja yang dipakai oleh adik lelakinya.


"Please, not now! Kejap je, kak Fah. Kei cari Naya dulu" ujar tanpa berusaha menghentikan langkahnya.


"Kalau kak Fah cakap sekarang, berarti harus sekarang. Jangan nak mengelak!" Afifah membulatkan matanya.


Kei berdecih. Tiga orang perempuan di rumahnya sama saja. Nenek Syarifah, Mama Latifah dan sekarang kak Afifah. Sebelas dua belas. Tidak ada yang mau dibantah. Eh, tapi tunggu dulu... Ketiga-tiganya ternyata ada F A H-nya?! Ha..ha.. Kei menggelengkan kepalanya diiringi senyum kecil saat menyadari nama mereka semua.


"Tak perlu senyum-senyum macam tu. Tak kacak pun". Afifah tersenyum sinis sambil menghela Kei keluar rumah utama.


Kei memutar mata, malas menanggapi Afifah, kakak semata wayangnya. Ia memilih diam, mengikuti helaan tangan Afifah sambil netranya masih terus menyusuri setiap sudut yang bisa dijangkau pandangannya. Namun tetap saja ia tidak menemukan Naya.


Mereka keluar rumah melalui pintu belakang. Afifah tidak melepaskan cengkramannya di lengan Kei, seakan takut bila adik lelakinya itu akan melarikan diri darinya.


Saat tiba di tepi kolam renang yang relatif sepi, Afifah menghentikan langkahnya secara mendadak. Gerakan Afifah yang tiba-tiba membuat Kei yang berada tepat di belakangnya terkejut dan hampir saja terjatuh ke dalam kolam renang. Namun gerak refleks lelaki tampan itu bekerja dengan baik. Ia melentingkan tubuh ke samping kanan, menghindari pinggiran kolam renang.

__ADS_1


"Ish, kak Fah nih. Kalo ngerem jangan mendadak. Kasih kode, kek". Kei bersungut sambil memegangi lengan Afifah.


Afifah menautkan alisnya. Kalimat Kei yang barusan sedikit terdengar asing di telinga Melayunya.


Kei yang menyadari itu terbahak tak mampu menyurukan gelinya.


"Ha...ha... Maksudnya jangan berhenti tetiba. Nasib elok tak jatuh, kan?"


Afifah diam, tak menanggapi Kei yang masih terbahak. Ia menatap Kei tajam, seperti pemburu yang sedang memindai mangsanya. Mata perempuan cantik itu tak berkedip, lurus menghunus tepat di manik kelam Kei.


Kei menelan ludahnya, kelat. Lama sangat, ia tak bertemu pandang dengan iris tajam di depannya. Selama beberapa tahun ini ia sengaja menghindar dari empat pasang mata perempuan yang senantiasa menghakimi saat bersua. Puan Sri Latifah dan Afifah Abdul Hamid!


Kehadiran kembali sosok Naya dua bulan terakhir dalam circle kehidupan Kei, sedikit banyak telah mengubah suasana hati lelaki itu. Ia terlihat lebih cair saat bertemu dengan keluarga besarnya, tidak lagi kaku dan terkesan menghindari setiap pertemuan seperti dulu.


Ia sendiri juga heran saat menyadari bahwa tadi ia telah kembali bisa tertawa lepas seperti dulu. Dulu sekali, saat kerajaan api belum menyerang... he..he..


"Kak Fah nak bicara apa? Next time bisa tak?" Kei sengaja berbicara mendahului Afifah, berusaha memutus tatapan penuh intimidasi di depannya.


"No more for next time, bila you tak juga nak berubah! Waktu you tak banyak, Kei. Bila kali ni, you masih menyiakan Naya. Maka I pastikan, you takkan lagi bisa melihatnya"


Afifah menjeda kalimatnya, mendalami iris kelam di depannya.


"You mungkin bisa mengelabui banyak orang termasuk Mama, berpura seakan you membenci Naya dan hanya menjadikannya sebagai mangsa untuk balas dendam terhadap Mama dan Papa. Namun, jangan you berharap itu berlaku untuk I. No! Absolutely not! I know you better than others, Kei. You love Naya! You love her so bad, bro!"


Afifah kembali diam sejenak, menjeda kalimatnya. Menatap Kei yang masih terlihat santai tanpa berusaha memutus kalimat demi kalimat yang meluncur dari bibir sang kakak.


Ckc! Afifah berdecak dalam hati. Sosok di depannya telah kembali ke casing sebelumnya, casing yang dipakai Kei selama beberapa tahun ini. Dingin dan membekukan!

__ADS_1


Namun Afifah tak mau kalah dari Kei, sang adik lelaki yang kali ini harus menerima pelajaran darinya karena masih saja menyakiti Naya, meskipun secara tidak langsung.


Kehadiran Nadia, istri kedua Kei dalam resepsi pernikahan Zahra tadi siang, bagi Afifah adalah kesalahan Kei secara tidak langsung. Harusnya seorang Kei Hasan bisa mengantisipasinya. Namun nyatanya Nadia hadir di depan Naya dan sang Mama. Bahkan dengan percaya diri memperkenalkan dirinya sendiri di hadapan Puan Sri Latifah.


Afifah menggelengkan kepalanya saat mengingat kembali betapa percaya dirinya sang model tersebut di hadapan mereka tadi siang.


"Well, finished? Sekarang giliranku yang bicara", ujar Kei balas menatap sang kakak.


"Naya itu urusanku. Sekiranya ada masalah antara aku dan Naya, maka kami berdua yang akan menyelesaikannya. Orang lain di luar kami berdua, tetaplah orang ketiga. Siapapun itu!"


Kei sengaja mengunakan kata 'aku' , 'orang lain' dan 'orang ketiga' untuk menegaskan posisinya.


Beberapa saat, kedua orang kakak beradik anak Tan Sri Abdul Hamid dan Puan Sri Latifah tersebut sama berdiam diri. Saling mengukur lawan tanding di depannya.


Afifah tersenyum tipis. Teramat tipis, hingga hanya ia sendiri yang menyadarinya.


"Well, time and chance, Apa mereka berdua masih ada untuk you? Let's see!"


Afifah melangkah perlahan meninggalkan Kei yang masih berdiri di tepian kolam renang. Baru beberapa langkah, perempuan cantik itu berhenti dan dengan tanpa menoleh, ia kembali membuka suara.


"Look! Your chance and time are not limitless. Watch out, bro!"


Shiitt! Kei mengetatkan rahangnya. Tangannya mengepal kuat dengan buku-buku jari yang memutih. Hati dan telinganya terasa panas mendengar kalimat bernada ancaman dari mulut seorang Afifah Abdul Hamid.


__________*** __________


To be continued

__ADS_1


Mohon terus dukungannya dengan memberikan like, vote and comment, ya. Thank you all.


__ADS_2