
Naya mendelikan matanya. Ia sangat kesal dengan Kei yang sedari tadi tidak menjawab pertanyaannya. Dan sekarang mereka sudah berada di depan sebuah apartemen mewah.
Naya bersikukuh tidak mau turun. Masih dengan menyilangkan kedua tangannya di depan dada, dia malah memejamkan matanya. Kurang tidur semalam membuat matanya susah untuk diajak berkompromi sekarang. Ia sangat mengantuk.
Kei yang melihat Naya bertahan untuk tidak turun tersenyum sambil menggelengkan kepalanya beberapa kali. Ish, keras kepalanya tak hilang-hilang meskipun sudah beberapa tahun di rantau orang!
Kei perlahan membungkukkan badannya, mendekatkan bibirnya pada telinga gadis itu.
"Bener, nih? Ngga mau turun? Atau jangan-jangan ... Kepengen Abang gendong, ya?" Kei berbisik di telinga Naya seraya langsung memposisikan tangannya di bawah lutut dan pinggang gadis cantik itu.
Naya yang tidak menduga gerakan mendadak Kei, sungguh terkejut. Ia berusaha melepaskan tangan Kei dari bawah lutut dan belakang punggungnya, namun Kei lebih dulu mengantisipasi gerakan Naya dengan mendekap erat tubuh istrinya tersebut.
"Sshhtt ... Udah, jangan gerak-gerak terus, nanti jatuh", Kei mengeluarkan Naya dari mobil dengan terus mengendongnya.
Naya tidak dapat menahan gemuruh di dadanya. Ia merasakan jantungnya berdetak lebih cepat. Ia hanya bisa memejamkan matanya sambil melingkarkan kedua tangannya ke leher Kei.
Kei menatap gadis cantik dalam gendongannya. Mata Naya yang terpejam rapat, sesekali bergerak namun tidak terbuka. Kei tersenyum. Muka chubby yang putih merona itu semakin kelihatan cantik di matanya.
Cup! Cup!
Kei mencuri kecupan sekilas di mata dan pipi kiri Naya seraya tersenyum penuh kemenangan.
Naya kembali kaget. Tubuhnya menegang seketika. Tangannya yang sedang melingkar di leher Kei terasa kaku dann mulai mengeluarkan keringat dingin.
Kei yang merasakan kekakuan tubuh Naya tersenyum kecut. Ia tahu, atmosfer kehidupan rumah tangga mereka yang tidak 'normal' layaknya pasangan suami-istri lainnya yang menyebabkan hal tersebut.
Kebersamaan mereka yang intim seperti ini bisa dihitung dengan jari. Apalagi setelah Kei sengaja menyelenggarakan pesta pernikahannya dengan Nadia secara meriah, live di dua stasiun TV miliknya, hanya enam bulan setelah pernikahannya dengan Naya. Tan Sri dan Puan Sri otomatis menutup celah komunikasi Kei dan Naya. Nomor telepon Kei sengaja disabotase. Ia sama sekali tidak bisa menghubungi Naya.
Namun bukan berarti Kei mengalah dan membiarkan hal itu. Ia memang tidak bisa menelpon dan menemui Naya secara langsung, namun ia mengetahui apapun aktifitas istrinya itu dua puluh empat jam.
Pergi kemana Naya, dengan siapa dan apa yang dilakukannya tidak luput dari pantauan seorang Kei Hasan.
"Aauuggh", Naya menjerit tertahan saat kakinya membentur dinding lorong yang mereka lewati.
"Maaf... Maaf, ya? Mana yang sakit?" Kei tersadar dari lamunannya. Tangannya refleks menyentuh halus kaki Naya.
Mereka sudah sampai di depan pintu unit apartemen Kei. Naya yang masih berada dalam gendongan suaminya berusaha melepaskan diri untuk turun.
"Turunkan Nay, please?" Naya berkata dengan sorot mata memohonnya.
__ADS_1
Namun Kei tetap tidak melepaskan kunciannya pada tubuh Naya, meskipun ia kesulitan merogoh kartu akses masuk di kantong celananya.
Setelah berhasil membuka pintu, Kei melangkah masuk. Ia langsung menuju kamar satu-satunya di apartemen tersebut. Menurunkan tubuh Naya dengan hati-hati, Kei seakan tidak ingin menyakiti tubuh mungil istrinya.
Begitu menurunkan tubuh Naya di tempat tidur, Kei segera melangkah menuju kamar mandi. Ia ingin membersihkan tubuhnya yang terasa gerah.
Naya segera bangkit dari tempat tidur begitu ia mendengar pintu kamar mandi yang ditutup Kei dari dalam. Sejenak Naya mendudukkan dirinya di tepi ranjang big size tersebut.
Bola matanya begerak memutar mengitari ruangan kamar yang cukup luas itu. Akhirnya mata Naya tertumbuk pada sebuah figura foto yang cukup besar menempel di dinding kamar. Sepertinya ia cukup familiar dengan foto dalam figura itu.
Naya bangkit dan berjalan mendekat. Matanya membola dan mengerjap beberapa kali. Foto itu ..?
Flashback On
Seorang gadis kecil berlarian di sepanjang pasir putih yang berkilauan seperti mutiara saat ditimpa cahaya matahari sore.
Kaki kecilnya yang polos tanpa alas kaki, sesekali disapuh riak ombank yang mengejar tepian pantai.
Naya terus berlari, menghindari kejaran Kei yang sedari tadi berusaha menangkapnya.
Dengan tubuh kecil imutnya, Naya meliuk gesit meloloskan tubuhnya dari jangkauan tangan panjang Kei yang hampir saja bisa menjangkaunya.
"Aaawwwkk!" Kei menjerit sambil memegangi telapak kakinya.
Naya yang masih berlari di depannya, berhenti menatap Kei curiga. Gadis kecil itu menyipitkan matanya.
Kei yang melihat keraguan di mata Naya segera melanjutkan aksinya.
"Aduuuhhhh ... Saaakiiittt ..." Kei kembali mengaduh. Ia tetap memegangi telapak kakinya sambil meringis. Sudut matanya mencoba melihat reaksi Naya.
Naya, gadis kecil itu mulai goyah, antara ragu dan iba. Perlahan ia melangkah mendekat, namun tetap menjaga jarak.
"No ... No ... No! Kamu tetap stay kat sana, Nay. Jangan kesini. Bahaya! Nanti kamu juga di gigit ..." Kei berusaha menghalangi Naya?
"Digigit? Digigit apa? Yang menggigit Abang, apa?" Naya terlihat panik dan tanpa sadar semakin mendekat kepada Kei.
Kei tersenyum tipis. Teramat tipis hinga Naya tidak menyadarinya.
Saat Naya sudah berada dalam jarak jangkauan Kei, secepat angin Kei bangkit dan melentingkan tubuhnya. Tangan besarnya menangkap tubuh Naya dan mengunci pergerakan gadis kecil itu.
__ADS_1
Naya yang memberengut kesal karena termakan umpan jebakan Kei, berusaha lepas dengan mencoba menggigit lengan Kei. Namun Kei dengan lincah berkelit. Keduanya bergelut di atas pasir putih.
Kak Ifah yang memperhatikan mereka dari tadi menertawakan keluguan Naya.
"Ih ... budak kecik satu nih, mudah sangat makan tipu." Kak Ifah mengejek Naya sambil melemparinya dengan cangkang kerang yang tadi mereka kumpulkan.
Sedangkan Ken sibuk dengan kameranya, mengambil banyak foto dengan berbagai angle. Pergelutan Kei dan Naya pun tak luput dari bidikannya. Bahkan Ken sengaja memvideokan aksi Kei saat mengerjai Nada tadi.
Flashback Off
"Ehheemm, rindu Ken?"
"I-iya. Eh, nggak!" Naya menggelengkan kepalanya lalu menunduk.
Kei tersenyum sinis menanggapi gelengan Naya. Entah kenapa muncul perasaan aneh di sudut hatinya saat melihat Naya menatap lamat foto masa kecil mereka, hanya Kei dan Naya! Tidak ada Ken di sana! Namun tetap saja Kei merasa tidak rela bila foto Kei bersama Naya malah mengingatkan gadis itu kepada bekas tunangannya.
"Ken memang selalu bisa membuat rindu semua orang, kan?" Gumam Kei pelan seperti lebih ditujukan kepada dirinya sendiri.
Naya mengangkat kepalanya. Gumaman Kei seperti menyadarkannya. Kei lah tempat sebenar untuk merindu, bukan Ken.
"Ngg ... Kita sebenarnya mo ngapain di sini?" Naya berusaha mengalihkan perhatian Kei.
"Yah tidur, lah".
Eh? Naya terjengkit kaget mendengar kalimat Kei.
"Kenapa? Nggak usah berpikir yang aneh-aneh, kamu!" Kei mendorong tubuh Naya kearah tempat tidur.
Katanya jangan berpikir yang aneh-aneh, tapi kelakuannya aneh!
"Temani Abang tidur kat sini. Abang nggak tidur semalaman. Abang yakin kamu juga nggak, kan?" Kei menarik tangan Naya untuk tidur disebelahnya.
Naya memposisikan dirinya bertahan. Tangannya berpegangan erat pada sisi tempat tidur, seraya menggelengkan kepalanya.
"Minta ditemanin tidur aja nggak mau, apalagi bener-bener ditidurin," ucap Kei asal.
Eh! *Makin ngaco ngomongnya!
...***...
__ADS_1
To be continued