
Kei turun, mengitari bagian depan mobil dan membukakan pintu di samping Naya.
Melangkahkan kakinya perlahan, Naya mengikuti Kei yang sudah duluan berjalan di depannya dengan sebuah tas ransel hitam yang yang tersampir di punggung kukuhnya.
Mereka memasuki sebuah bangunan yang cukup besar bila dibandingkan dengan banyak bangunan lainnya yang tadi dilihat Naya sepanjang perjalanan mereka menuju dataran tinggi ini.
Bangunan berlantai dua yang lebih mirip seperti villa untuk tempat peristirahatan itu nampak terawat dengan baik. Terlihat dari tanaman yang terdapat di sekitarnya dan sebuah kolam ikan di samping villa.
Naya terus mengekori Kei yang sesekali melirik ke belakang dan terkadang menunggui gadis itu.
Namun Naya sengaja melambatkan langkahnya, menghindari berjalan bersisian dengan lelaki itu. Kepalanya ditekuk sedemikian rupa. Masih enggan bertemu pandang.
Kei menghela nafasnya, sedikit lebih panjang, kemudian kepalanya menggeleng samar. Angsa kecik nih harus segera dijinakan. Bila tidak, màsalah bisa bertambah runyam!
Kei tersenyum sendiri dengan lintasan yang muncul di kepalanya. Ia sengaja memberhentikan langkahnya. Menatap lurus sang istri yang kini tengah menuju ke arahnya.
Naya masih berjalan pelan, tanpa mengangkat wajah, gadis itu terus mengikuti langkah panjang Kei.
Bruukkk! Aauucchh!!
Naya meringis kecil saat keningnya membentur bidang kuat di depannya.
Naya sedikit mendongakkan kepala sambil mengusap keningnya untuk bisa melihat dengan jelas benda keras yang barusan ditabraknya.
Terlihat Kei sedang menatapnya lekat. Tangan lelaki itu kemudian terulur untuk mengusap kening Naya yang sedikit memerah.
"Sayang, kalo jalan jangan nunduk terus. Untung ngga nabrak tiang beton, kan? Sakit?" Kei berucap lembut sambil mengelus kening sang istri.
"Abang yang salah, kenapa berdirinya di tengah jalan!" Naya bersungut sambil membuang pandangannya.
Sekarang tangannya ikut naik ke atas, tapi bukan untuk mengusap keningnya yang terasa sedikit ngilu, melainkan mengangkat tangan Kei yang masih hinggap, mengusap lembut di sana.
Kei mengernyitkan alis hitamnya yang berbaris rapi. Menatap gadis di depannya sejenak, kemudian kembali kepalanya menggeleng samar.
Membalikan badannya, Kei kemudian melanjutkan langkahnya, menaiki sebuah tangga menuju lantai dua.
Naya juga kembali mengikuti langkah panjang Kei. Sesekali tangannya masih mengusap keningnya yang tadi membentur dada bidang sang suami.
Berhenti di depan sebuah pintu, Kei memutar knop-nya. Terlihat sebuah ruangan yang luas dengan tempat tidur besar berada di tengahnya. Beberapa furniture lainnya juga tersusun dengan apik.
Naya yang juga telah memasuki ruangan yang ternyata merupakan kamar tidur utama itu, langsung melepas
__ADS_1
niqabnya yang berwarna peach, senada dengan gamisnya.
Kemudian gadis itu melangkah menuju jendela yang sedang terbuka lebar. Sedari tadi hatinya tergelitik untuk mengintip pemandangan sekitarnya dari sana.
Mata gadis itu langsung membinar indah saat pandangannya bertemu dengan hamparan menghijau laksana permadani di depan sana.
Menukikan pandangannya sedikit lebih jauh, nampak danau dengan air yang membayang biru.
Naya tersenyum. Tanpa sadar tangannya merentang, dengan mata yang memejam gadis itu menghirup udara segar alami di sekitarnya.
Menghirup lebih lama dan panjang kemudian kembali melepaskannya perlahan.
Gadis itu tidak sadar bila tingkahnya kembali membius, memesona seorang Kei Hasan.
Sorot mata lelaki tampan yang biasanya setajam elang itu sekarang berubah menjadi sendu dan sedikit berkabut.
Kei melangkah perlahan. Berdiri tepat di belakang sang istri, Kei bisa menghidu wangi khas yang menguar lembut dari tubuh Naya. Vanila!
Kei semakin merapatkan tubuhnya dengan kedua tangan yang memegang tepi jendela bagian bawah. Bertumpu di situ dengan dagu yang menumpang di bahu mungil sang istri.
Naya terkesiap! Ia sudah sempurna berada di kungkungan lengan kukuh Kei sekarang. Punggungnya menempel di dada bidang lelaki itu.
Naya dapat merasakan hembusan hangat nafas Kei yang menerpa lehernya yang masih tertutup jilbab.
No ... No! Jangan lagi terpedaya oleh manis kata dan tingkahnya, Naya!
Untungnya lobus frontal dan lobus parietal-nya berfungsi dengan baik.
Gadis itu sejenak memejamkan mata, memikirkan cara cepat dan tepat untuk meloloskan diri dari tawanan lelaki yang sedang memeluknya itu.
"Ehem... What time is it now? Kita belum sholat, kan?" Naya berujar lirih seiring suara Azan yang terdengar saling bersahutan di surau-surau sekitarnya.
Alhamdulillah. Gadis itu mengerjapkan mata sambil bernafas lega.
Sementara Kei terpaksa merenggangkan tubuhnya. Menghela nafas panjang kemudian menghembuskannya kasar.
...*****...
Naya memegang kepalanya yang masih sedikit pusing. Sehabis menunaikan sholat Dzuhur dan makan siang tadi Naya merebahkan tubuhnya yang terasa tidak nyaman..
Kepalanya pusing dengan mual yang juga menyerang. Gadis itu berusaha memanipulasi rasa sakitnya dengan mengalihkan perhatiannya.
__ADS_1
Ia mencari peralihan fokus dengan bermain di kolam ikan bersama Lily, gadis kecil berusaha 10 tahun, cucu tek Nun, penjaga villa ini.
Namun usaha Naya tidak berhasil, pusingnya malah semakin bertambah parah.
Rasa mual yang menyerangnya tak jua mereda. Naya bahkan beberapa kali harus bolak balik kamar mandi untuk mengeluarkan muntahnya.
Setelah mengeluarkan semua yang tadi dimakannya saat makan siang, baru gadis itu merasa sedikit lega.
Dengan diiringi usapan lembut tangan Kei di kepalanya, akhirnya gadis itu terlelap dalam mimpi.
Sekarang Naya bangkit dari tempat tidur sembari menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya. Suhu memang terasa sedikit lebih sejuk di sini.
Melangkah perlahan, Naya sayup menangkap obrolan di luar kamar, tempat dia tidur barusan. Terdengar suara bariton Kei yang sesekali ditingkahi suara bening seorang perempuan.
Pelan Naya menarik pintu kamar yang sedikit terbuka.
Terlihat Kei sedang duduk membelakangi posisi Naya sekarang. Ada Lily yang nampak duduk dengan nyamannya dalam pangkuan Kei.
Perhatian Naya beralih pada sosok perempuan berusia sekitar dua atau tiga tahun di atasnya. Duduk dengan posisi tepat dihadapan Kei dan Liliy.
Gadis berambut sebahu itu nampak terlihat semakin cantik dengan kacamata yang bertengger manis di pangkal hidung mancungnya.
Naya semakin mendekati sofa tempat duduk mereka. Namun sepertinya Kei belum menyadari kehadiran sang istri di tengah mereka.
"Ehemm, Abang?" Naya bersuara sedikit lirih.
"Eh, sayang sudah bangun?" Kei langsung berdiri sambil tetap membawa Liliy dalam pangkuannya.
Lelaki itu menarik lembut tangan sang istri, menuntunnya untuk duduk di sampingnya.
"Sayang, kenalkan ini dokter Dinda, dokter di klinik masyarakat sekitar sini. Dok kenalkan ini Naya, istri saya." Kei memperkenalkan Naya dan perempuan muda yang ternyata seorang dokter.
"Tadi Abang cemas sayang kenapa-napa, jadi Abang minta tolong tek Nun untuk mencarikan dokter. Tapi pas dokternya sampai, sayang masih tidur." Kei tersenyum sambil tangannya mengusap lembut pucuk kepala sang istri.
Naya hanya tersenyum kecil menanggapi penjelasan panjang Kei. Kemudian mengulurkan tangannya pada perempuan cantik berkaca mata di depannya.
"Saya Naya, Dok. Senang bertemu dokter. Maaf, lama ya menunggunya. Padahal saya udah ngga apa-apa. Udah jauh lebih baik kok." Naya melirik Kei sekilas yang ternyata juga sedang menatapnya dengan pandangan yang dalam.
...___________*****___________...
To be continued.
__ADS_1
Jangan lupa, tinggaljan jejak ya.
Love you full