
"Sayang, Mama tidak mengizinkan kamu untuk melakukan hal itu! Tidak! Mama tidak akan mengizinkan kamu!"
Puan Sri Latifah menatap sang menantu dengan pandangan tak terbaca. Perempuan paruh baya itu menggelengkan kepalanya berkali-kali untuk menyatakan ketidak setujuannya atas permintaan Naya.
"Mama, please? Nay akan jaga diri. Nay akan hati-hati, Mama. Kita tidak punya cara lain sekarang. Bila kita tak nak ambik peluang nih, kita tak akan tahu di mana abang Kei?! So, please Mama... Allow me to go?!"
Naya menatap sang mertua dengan penuh pengharapan. Telepon dari Azki barusan memberinya harapan untuk mengetahui di mana keberadaan Kei sekarang.
"Sayang, kamu tidak percaya Mama dengan Papa dapat menemukan Kei?!"
Puan Sri Latifah melayangkan pandangan dan nada protesnya pada Naya.
"No, Mama! Bukan macam tuh! Maksud Nay..." Naya mengerjapkan matanya, gadis itu kehilangan kata-kata untuk menjelaskan maksudnya.
"Mama, maksud Naya bukan macam, tuh!" Tan Sri Abdul Hamid yang sedari tadi masih diam mendengarkan perdebatan sang istri dengan sang menantu akhirnya angkat suara.
"Mama, Naya mengenal Azki jauh lebih baik dari pada kita semua yang ada di sini", ujar Tan Sri sambil melayangkan pandangannya pada Naya sekilas. Kemudian kembali menatap sang istri, berusaha meyakinkannya.
"Jadi kita izinkan Naya untuk..."
"No, Papa! We can't do that! Bagaimana mungkin Papa membahayakan Naya dengan mengizinkannya menemui gerombolan penculik itu?!"
Puan Sri Latifah memandang sang suami dengan tatapan tak percaya. Perempuan paruh baya itu tetap tak bisa membenarkan perkataan sang suami.
Bagaimana mungkin ia membiarkan menantunya menghadang resiko tersebut. Puan Sri tahu pasti, tidak hanya Azki dan Nadia yang tengah bermain sekarang. Ada tangan-tangan lain yang juga ikut ambil bagian, meskipun ia belum bisa memastikan siapa mereka.
Sejenak keheningan melingkupi ruangan tersebut. Naya masih terdiam di tempat duduknya, sementara Puan Sri masih dilanda kebimbangan antara memberi izin atau tidak kepada sang menantu.
Namun suasana hening itu tak berlangsung lama hingga beberapa nada panggilan dari gawai para pemiliknya berbunyi serentak memecah hening.
Puan Sri Latifah, Tan Sri Abdul Hamid dan seorang lelaki yang sedari tadi hanya diam, sama-sama mengangkat panggilan di gawai mereka.
Afifah dan Naya hanya menatap dalam diam saat melihat ketiga orang tersebut saling bergerak sedikit menjauh untuk menjawab panggilan mereka masing-masing.
"Nay, kak Ifah bukan nak ikut campur terlalu jauh dalam urusan pribadi kamu, tapi kamu tahu kan bila Azki tu suka kan kamu? Bahkan sedari dahulu lagi?" Afifah sengaja memelankan suaranya dan bertanya hati-hati demi menjaga perasaan sang adik ipar.
Sesaat Naya terdiam. Terlihat gadis itu menghela nafasnya sedikit lebih panjang seraya menghembuskan kembali perlahan.
"Ya. Nay tahu, kak, " jawabnya dengan suara yang rendah dan lirih.
"Lelaki tu pernah declare kat Nay, kah?" Afifah bertanya masih dengan nada yang hati-hati.
"Yes, he did. Sekitar dua tahun silam." Naya masih menjawab dengan nada yang rendah.
__ADS_1
"And... Jawab Nay?" Afifah masih mengejar dengan pertanyaan lanjutannya.
"Maksud kak Fah?" Naya menyipitkan matanya dengan alis yang sedikit bertaut.
"Mhm... Tak maksud apa-apa pun. Tapi..."
"Kak Fah tak sedang menuduh Nay menjawab 'iya', kan?" Naya menatap dengan pandangan sedikit menyelidik.
"Bila Nay jawab 'iya' pun kak Fah akan dukung Nay. Biar tahu rasa si Kei degil tuh. Biar dia tahu bila lelaki tak satu dia sahaja. Ha..ha..ha." Afifah tergelak sendiri dengan kalimat asalnya.
Naya membolakan matanya demi mendengar pernyataan Afifah, sang kakak ipar.
"Kah Ifah?!" Naya masih membolakan matanya.
"Iya?! Ha...ha...ha... Peace! Gurau je! Tapi kalo kak Fah tengok-tengok, Azki tu kacak juga. Kamu tak kagum ke, walapun sikit? Ha...ha...ha..."
What?! Naya bangkit dari duduknya sambil melayangkan cubitan ringan di lengan calon ibu muda di depannya. Bagaimana mungkin Afifah bisa menggodanya sedemikian rupa?
Afifah masih tergelak sambil berusaha menghindari cubitan-cubitan dari Naya, saat terdengar beberapa langkah kaki yang kembali mendekat. Keduanya langsung duduk rapi di kursinya masing-masing sambil sesekali masih saling melempar pandangan.
"Kita sudah tahu keberadaan mereka. Orang-orang kita sedang menuju kesana. Kalian berdua stay kat sini. Mama dengan Papa akan menyusul mereka." Puan Sri berkata sambil menatap Naya dan Afifah secara bergantian.
"But, Mama?"
Naya menundukan pandangannya. Ada buliran bening yang mulai menghangati sudut matanya. Bukan apa sebenarnya, hanya saja gadis itu merasa perlu untuk ikut dalam misi ini. Ia yakin, pernyataan-pernyataan Azki dalam sambungan telepon tadi bukan hanya sekedar ancaman. Lelaki itu bisa saja berbuat nekat.
Lebih dari empat tahun mereka dekat sebagai teman, sedikit banyak Naya tahu bagaimana karakter lelaki itu. Ibarat sungai, Azki itu seperti Missisipi river. Terlihat tenang di permukaan, namun memiliki arus yang deras dan kuat di bawahnya.
Naya pernah menyaksikan sendiri bagaimana Azki pernah berurusan dengan kepolisian kota Paris, saat lelaki itu mencederai seorang pria jalanan yang menganggu Naya dengan kata-kata rasisnya. Tak tanggung-tanggung, Azki merobek sendiri mulut pria tersebut di depannya. Incident yang membuat Azki kemudian sempat menghuni hotel prodeo selama dua puluh empat jam. Naya tidak tahu pasti bagaimana akhirnya lelaki itu bisa bebas di hari berikutnya.
"Mama, bukan Nay nak membantah Mama. Tapi untuk kali ini, please... Izinkan Nay ikut serta." Naya bangkit dari duduknya, menghampiri sang mertua seraya menjatuhkan tubuhnya.
Naya bersimpuh di lantai. Kedua tangannya mendekap kuat kaki sang mertua.
Puan Sri Latifah terkesiap, tak siap mengantisipasi pergerakan sang menantu yang sudah bersimpuh di kakinya.
"Sayang?! What are you doing?! You don't need to do that!" Puan Sri menjerit tertahan sembari juga meluruhkan tubuhnya dan mendekap kuat tubuh Naya.
"Sayang, apa yang Nay lakukan?" Ujarnya sambil mengusap lembut punggung sang menantu.
"Mama, please izinkan Nay kali ini. Nay ingin bertemu dengan abang Kei. Nay tak nak lagi kehilangan, Mama. Nay sudah kehilangan Ayah, Bunda dan abang Ken. Nay tak nak juga kehilangan abang Kei. Please, Mama, izinkan Nay," bisiknya lirih.
Puan Sri merasakan jantungnya berdegup kencang mendengar pernyataan lirih Naya. Hanya berupa bisikan, dan ia yakin hanya mereka berdua yang mendengarnya dengan jelas.
__ADS_1
Puan Sri menatap sang menantu dalam diam. Tatapan yang dalam dan lekat. Lebih lima tahun silam, mereka sama-sama merasakan sakitnya kehilangan orang yang teramat dicintai.
Bila Puan Sri dan keluarganya kehilangan seorang Ken Hasan, sang putra kesayangan, maka Naya kehilangan kedua orang tuanya. Bahkan di saat yang sama gadis itu juga kehilangan Ken, sang tunangan. Tiga orang! Kehilangan tiga orang yang dicintai pada waktu yang bersamaan!
Puan Sri memejamkan matanya rapat, mencoba mengurai sesak yang tetiba menghimpit dadanya.
"Sayang, maafkan Mama. Maafkan Mama dan kami semua yang telah mengungkung Nay dalam lingkaran permasalahan pelik nih," bisik Puan Sri tak kalah lirih.
"Mama yang telah membawa Nay dalam masalah ini. Bila saja Mama tidak memaksakan kehendak Mama untuk minta Kei menikahi Nay, mungkin masalahnya tidak akan sepelik ini." Lanjut Puan Sri masih dengan suara lirih.
"No, Mama! Don't say that! Sudah berapa kali Naya sampaikan kepada Mama, ini sama sekali bukan masalah Mama. Ini memang sudah jalan-Nya. Nay sikit pun tidak pernah menyesalinya, Mama. Tapi kali ini, bila Nay tidak bisa bertemu abang Kei, Nay akan sangat menyesal, Mama."
"Sayang?!"
"Mama?! Nay belum sempat menggenapi tugas Nay sebagai seorang istri yang baik buat abang Kei, Mama," bisik Naya dengan rasa bersalah yang menghimpit.
"No, sayang! Kei yang tidak memberi Nay kesempatan untuk menjadi seorang istri yang baik buat dia. Anak Mama yang telah menyiakan Nay selama ini! Dia yang telah berdosa pada Nay selama bertahun-tahun?! Mungkin ini balasan yang harus dia bayar atas kejahatannya atas Nay. Bahkan bila Nay berniat untuk melepaskan Kei, Mama akan dukung Nay seratus peratus", Puan Sri berucap lirih namun penuh tekanan seraya pandangannya mencoba menelisik hati sang menantu lewat mata gadis itu.
"No, Mama! Bagaimana mungkin Nay akan berlaku durhaka pada abang Kei, bila seorang Asiyah binti Muzahim yang memiliki suami sekejam Fir'aun saja tetap bisa bermuamalah (berhubungan sosial, hubungan keseharian) dengan baik terhadap suami jahatnya? Bunda Asiyah binti Muzahim mengajarkan kepada kita, cukuplah masalah ketauhidan Allah saja yang memisahkan Asiyah dengan Fir'aun. Dalam hal hubungan keluarga, ia tetap menghormati dan mendahulukan hak suaminya, Mama. Lalu abang Kei? Abang Kei tidak sejahat itu, Mama?!"
Puan Sri tersenyum tipis mendengar penjelasan Naya yang lebih mirip sebuah protes berbalut pembelaan dari seorang istri terhadap suaminya.
"Mhm... Jahatnya Kei...?! Baru beberapa hari menculik dan menawan Nay, dia sudah berhasil mencuri hati menantu cantik Mama. Tak tertinggal sikit pun untuk Mama agaknya..." Puan Sri memiringkan kepalanya dengan tatapan menggoda.
"Mama?!" Naya menyurukan mukanya semakin dalam di dekapan sang mama mertua. Muka putihnya memerah jambu yang untungnya tersamarkan oleh niqab hitamnya.
Puan Sri tersenyum sambil tangannya kembali mengusap lembut punggung Naya.
"Well, Mama izinkan. Tapi dengan syarat, Nay harus pulang dengan selamat bersama Kei," ujarnya kemudian.
"Alhamdulillah. Thank you so much, Mama. I love you more and more!" Naya merangkul dengan erat tubuh Puan Sri saking bahagianya mendapat izin dari mertuanya itu.
"Love Mama, more and more?! Iye ke, nih? Bukankah love Nay dah dirampas bulat dan utuh oleh si baby gergasi tuh?" Puan Sri masih dengan kalimat godaannya.
Tan Sri Abdul Hamid dan Afifah hanya saling tatap dan berakhir dengan gelengan kepala saat menyaksikan 'drama' sang mertua perempuan dan menantunya itu.
"Mike, minta Jordy untuk prepare. Kita berangkat sekarang!" Perintah Tan Sri Abdul Hamid pada lelaki muda seusia Kei di sampingnya.
...__________ ***** __________ ...
To be continued
Happy reading allπππ
__ADS_1