Di Ujung Sayap Rindu

Di Ujung Sayap Rindu
Siapa Yang Sedang Bermain Peran?


__ADS_3

Naya memasuki restaurant khas masakan Padang itu dengan tenang. Ia berusaha untuk tidak mempedulikan pria tampan yang berjalan perlahan di belakangnya.


Pria gagah dengan rahang kukuh dan tatapan seperti elang itu berlaku seperti bodyguard yang sedang menjaga seorang Kanaya Khairunnisa.


Kei terus tersenyum saat mengiringi Naya dari belakang. Langkah kakinya yang panjang dan lebar membuatnya harus mengharmonikan gerak kakinya dengan ayunan langkah kaki-kaki mungil Naya agar tetap berada di belakang gadis tersebut.


Sesekali Kei terpaksa berhenti agar langkah lebarnya tidak mendahului Naya.


Flashback On


Setengah jam yang lalu


"Selangkah saja kamu bergerak, maka Abang pastikan program ini tidak berlanjut dan berhenti sampai di sini."


Naya tertegun. Kakinya urung melangkah. Mempertaruhkan nasib seribuan anak muda yang sedang menambal sulam kehidupannya seperti sedang meranggas pucuk pengharapan mereka, dan ... Mengecewakan Bunda Nilam adalah sesuatu yang musykil untuk ia lakukan.


Naya memejamkan matanya rapat. Tangannya mengepal kuat. Dadanya turun naik menahan gejolak yang hampir meledak.


Dasar ni orang! Belum juga berubah. Selalu saja suka memaksakan kehendaknya!


"Pergi? Pergi kemana? Siapa yang mau pergi?"


Naya membalikan badan dengan memasang wajah polosnya. Matanya mengerjap indah. Suara beningnya terdengar datar di telinga Kei.


"Selain ahli main kucing-kucingan, kamu juga semakin jago acting sekarang ya."


Kei melangkah perlahan mendekati Naya. Pandangannya menukik tajam tepat di manik hitam Naya.


Naya mundur beberapa langkah saat Kei semakin merapatkan tubuhnya.


"Maaf, tapi saya tidak mengerti maksud pak Kei. Saya hanya ke toilet, lalu apa salahnya? Ternyata mengurusi hal seperti ini juga bagian dari job desc seorang CEO ya?" Naya menatap Kei sekilas.


"Mhm ... tambah satu lagi keahlian kamu, ... Pandai bersilat lidah! Sudah! Tidak usah bermain kata! Kamu sengaja menghindari Abang, kan?" Kei memiringkan tubuhnya dengan mendekatkan bibirnya ke telinga Naya.


"Kenapa? Kamu takut semakin jatuh cinta dengan Abang?" Kei membisik nakal.


Naya memutar bola matanya malas.


Ckck.. Semakin jatuh cinta padanya? Siapa juga yang jatuh cinta pada playboy cap kadal kayak Lu. Udah punya istri satu, masih juga nambah. Mending juga kalo istrinya dinafkahi, lha Elu?


Nafkah? Iisshh... kenapa malah mikirnya ke situ?


Naya tersenyum kecil sambil menggelengkan kepala beberapa kali dan mengibas-ngibaskan tangan di dekat kepalanya untuk mengusir bayangan liar di benaknya.


"Mhem ... Kenapa kamu senyum-senyum kek gitu? Jangan piktor ... " Kei menyentil kening Naya, seperti kebiasaannya pada Ken dan Naya bertahun-tahun silam.


Naya kembali melangkah mundur setelah mendapatkan sentilan di keningnya. Namun Kei juga terus melangkah mengikuti Naya yang berjalan mundur.

__ADS_1


"Stop! What do you want from me?!"


Naya menyandarkan tubuhnya yang terdesak sekarang pada sebuah pilar. Matanya menatap Kei tajam.


"I want you!"


Flashback Off


Naya tiba-tiba menghentikan langkahnya, kemudian melayangkan pandangannya ke semua penjuru ruangan. Namun ia tak menemukan Bundo Nilam maupun Andrian, asisten Kei yang sudah beberapa kali bertemu dengannya.


Naya terjengkit kaget saat sebuah tangan besar mengenggam tangannya dan langsung menariknya halus menuju sebuah private room.


Naya mendelikan matanya sambil berusaha melepaskan genggaman Kei yang terasa semakin menguat di jemari munggilnya.


"What are you doing?!" Naya menghentakan tangannya kuat hingga terlepas dari genggaman Kei.


Matanya menatap tajam Kei yang masih tersenyum tipis.


"Ini tempat umum, jaga sikap anda!"


"Berarti kalo sepi dan hanya kita berdua, boleh dong ya?" Kei memiringkan tubuhnya sambil mengedip nakal.


Naya menghela nafas panjang. Pandangannya menyapu ke setiap sisi ruangan demi ruangan yang mereka lewati. Berusaha menganggap tidak ada pria tampan di sampingnya.


Akhirnya mereka sampai di sebuah private room. Ada Andrian yang menunggu mereka di depan pintu.


Sementara Naya langsung memasuki ruangan. Terlihat ada Bundo Nilam dan mbak Tika yang duduk saling berdampingan. Di depan mereka berdua ada seorang pria paruh baya yang diyakini Naya sebagai pak Arnold, Marketing Manager dari Noghoghi Holding dan ... seorang perempuan berambut sebahu.


"By... Aku sedang ada pemotretan di sekitar sini, pas tadi ketemu Andrian di depan. Katanya kamu ada di sini juga."


Deg!


Naya menyipitkan matanya saat perempuan cantik itu langsung bergelayut manja di lengan Kei.


Kei hanya tersenyum tipis, menganggukan kepalanya kepada Bundo Nilam.


"Perkenalkan Bundo, ini..."


"Saya Nadia, Bu. Istrinya bapak ganteng ini." Nadia langsung memotong ucapan Kei sambil menyandarkan kepalanya di lengan Kei.


Bundo Nilam tersenyum menganggukkan kepalanya dan mengulurkan tangannya kepada perempuan cantik yang masih menempel pada Kei.


Kei melepaskan sandaran kepala Nadia dengan halus. Sudut matanya melirik Naya sekilas.


Naya yang masih berdiri segera mengulas senyumnya dan mengulurkan tanganya.


"Perkenalkan Bu, Saya ..."

__ADS_1


"Kanaya Khairunnisa. Designer "Sweet Lily in Late Spring", sekaligus owner dari La Cantique Boutique yang terkenal itu, kan?"


Nadia menyebutkan nama rancangan Naya saat musim semi tahun kemaren yang membawanya mengikuti kegiatan Paris Fashion Week.


Nadia tersenyum manis sambil menjawab uluran tangan Naya.


"Aku suka banget dengan rancangan-rancangan kamu dan selalu nungguin loh setiap release terbarunya." Nadia tersenyum.


Kemudian kedua wanita berbeda style itu saling bersalaman.


"Terimakasih sekali bu Nadia. Saya juga bahagia karena rancangan saya ternyata disukai oleh seorang model papan atas seperti Ibu."


"Aduh ... Jangan formal gitu, lah. Ngga usah panggil 'ibu' deh, berasa ketuaan banget aku. Padahal paling aku lebih duluan lahir sekitar tiga atau empat tahun aja dari kamu, kan? Panggil aja 'mbak'. Aku panggil kamu 'Naya' saja. Boleh, kan?"


"Wah, alhamdulillah ... Boleh banget, mbak. Aku senangnya pake banget ini ..."


Mata bening Naya langsung membinar, melukis pendar-pendar cahaya.


Kei yang memperhatikan interaksi kedua wanita tersebut menautkan kedua alisnya.


Siapa yang sedang menyusun skenario dan bermain peran di sini?


Kei dan Andrian saling pandang. Terlihat Andrian menggelengkan kepalanya beberapa kali. Berusaha keras meyakinkan Kei bahwa ia tidak tahu apa-apa.


Gotcha! Nah, loh. Anda sekarang yang pusing kan, Boss? Kirain mereka bakal cakar-cakaran, eh ... ternyata malah akrab-akraban. Andrian tersenyum kecil sambil memberikan tatapan sinisnya pada Kei.


Kei balas memberikan tatapan membunuhnya pada Andrian. Sedangkan Andrian segera melengos, membuang pandangannya dari Kei.


"Oh, ya mumpung ketemu di sini. Aku mo minta tolong kamu untuk merancang outfit acara wedding anniversary kita empat bulan ke depan. Iya kan, By?"


Nadia memecah keheningan di ruangan tersebut.


"Bukannya kamu udah ..."


"No...no! Aku maunya sama Naya aja. Ini impian aku banget lo, By ... Mau ya?" Nadia memasang wajah merayunya. Matanya berkedip beberapa kali.


Kei mengalihkankan pandangannya pada Naya yang ternyata juga tengah menatapnya tak berkedip.


"Okay, terserah kamu saja!"


Naya memalingkan wajahnya demi mendengar jawaban Kei.


...***...


Sepertinya perjuangan semakin panjang Nay, ayo semangggaattt!!


To be continued

__ADS_1


__ADS_2