Di Ujung Sayap Rindu

Di Ujung Sayap Rindu
Will You Spend the Rest of Your Life With Me?


__ADS_3

Kei menepikan mobil double cabin berwarna glossy keluaran negeri Paman Sam itu. Setelah mematikan mesin, pandangannya beralih pada kursi penumpang di sebelahnya.


Terlihat sang istri, Naya, masih terlelap dalam tidurnya. Membawa kedua kakinya naik ke atas kursi, gadis cantik itu bergelung dengan kedua telapak yang menyatu dan dijadikan bantalan di pipi chubby-nya.


Kei tersenyum kecil sembari menggelengkan kepalanya. Sudah beberapa kali Kei melihat gaya tidur sang istri yang selalu seperti itu bila di atas mobil, namun tetap saja terlihat menggemaskan di matanya.


Perlahan tangan Kei terulur, menyentuh wajah putih bersih sang gadis. Ibu jarinya bergerak mengikuti sepasang alis hitam yang melengkung rapi.


Ibu jari Kei terus bergerak menjelajah, beralih pada bulu-bulu panjang dan lentik yang menyatu seiring sepasang kelopak mata yang juga mengatup utuh.


Ibu jari lelaki dewasa itu semakin menyusur nakal, setelah hinggap sejenak di puncak hidung mungil sang istri, kini semakin turun, untuk kemudian berlabuh pada sepasang kelopak mawar yang nampak sedikit basah.


Kei baru akan mendekatkan wajahnya saat Naya yang mulai terusik, menggeliat dan perlahan membuka matanya.


Sontak Kei memundurkan tubuhnya, menjauh seperti maling yang hampir saja tertangkap basah.


Mengerjap berulang kali, Naya berusaha menyesuaikan matanya dengan cahaya sekitarnya. Sayup deburan ombak singgah di pendengarannya. Sea?


Gadis cantik itu langsung membuka katupan matanya. Di hadapannya terbentang laut biru dengan riak gelombang yang saling berkejaran hendak menyapa tepian pantai.


Naya langsung mengalihkan pandangan pada lelaki di sampingnya yang ternyata sedang menatapnya dengan sorotan hangat.


"Where are we now? Kita lagi di mana?" Naya sedikit menyipitkan mata sambil mengedarkan pandangannya pada suasana sekitar.


Terlihat banyak kendaraan di sisi kanan dan kiri mereka, baik roda empat maupun roda dua. Sementara di belakang mereka juga terdengar deru lalu lalang kendaran bermotor. Naya semakin menyipitkan matanya.


Kei yang melihat mimik wajah sang istri, melebarkan senyumnya.


"Please guess, where is it? Abang yakin bila Nay tau, Nay akan ..." Kei sengaja memutus kalimatnya, menunggu reaksi sang istri.


Tanpa mempedulikan Kei yang masih duduk di belakang stir, Naya segera membuka pintu di samping tempat duduknya.


Kei yang melihat hal tersebut, kembali tersenyum seraya juga membuka pintu di sampingnya, turun dan melangkah perlahan mengitari mobil, menuju ke arah sabg istri.


Turun dengan segera, Naya kembali memindai sekitarnya. Lautan lepas di hadapan, di samping kiri parkiran mereka, berdiri megah sebuah mesjid dengan ornamen indah, berwarna putih.


Di seberang mesjid, dan dibatasi air laut, ada sebuah bukit kecil yang tidak terlalu tinggi dengan kakinya yang menyentuh pantai.


Naya membulatkan matanya sempurna saat penglihatannya menangkap sebuah tulisan di atas sana.


"Abang ... Are you kidding me?!" Naya berseru tanpa mempedulikan orang-orang di sekitarnya yang mulai memperhatikan mereka.


Rasa haru, gembira dan tidak percaya telah menyatu dalam gelombang suara yang menyeru sempurna. Padang, I am here!!!


"Oh, no! Sayang, kamu belum pake ..." Kei segera mendorong kembali tubuh mungil gadisnya ke dalam mobil tanpa melanjutkan kalimatnya.


Naya masih ternganga dengan mulut separuh terbuka saat merasakan tubuhnya sudah terduduk kembali di kursi mobil.


Gadis itu baru menyadari apa yang terjadi saat kulit wajahnya terasa sejuk ketika angin laut menerpanya tanpa penghalang.


Sontak Naya menyentuh mukanya. Dengan mata yang membulat utuh, tangannya segera menghantarkan serangan bertubi-tubi di perut, lengan dan apa saja bagian tubuh Kei yang bisa dijangkaunya.


Kei yang tidak sempat mengelak, hanya bisa pasrah ketika merasakan sedikit nyeri dan panas bersarang di beberapa bagian tubuh berototnya.


"Udah ... Udah dong, sayang. Iya, Abang minta maaf karena tadi udah membuka niqab Nay tanpa izin. Maaf, ya?" Kei mengeluarkan jurus memelasnya dengan wajah sok innocent-nya.

__ADS_1


Naya mulai menghentikan serangannya, namun matanya masih membulat dengan bibir yang juga mengerucut.


Kei menggeleng dengan senyum yang tertahan.


"Please, jangan menggoda Abang di sini, sayang ..." Kei membisik kecil, berusaha mengusik sang istri dengan kedipan nakalnya.


"Iisshhh, apaan sih?" Naya memalingkan wajah dan membuang pandangannya ke samping kanannya. Bibirnya sedikit berdecak sebal.


Kemudian tangan gadis itu bergerak terampil memasang kembali niqab yang tadi dibuka Kei ketika ia tengah tertidur pulas.


Setelah selesai dengan niqab-nya, Naya segera kembali turun dari mobil. Kei yang sedang bersandar di sisi mobil, melayangkan senyum hangatnya. Tangannya terulur, meraih tangan kiri gadisnya dan kemudian mengenggamnya erat.


"Masih ada waktu sekitar empat puluh menit lagi sebelum azan Dzuhur, sayang mo makan siang dulu atau kita langsung ke ..."


"No! Nay nak main kat pantai kejap!" Tanpa menunggu jawaban Kei, Naya sudah bergerak duluan. Setengah berlari, gadis itu menyusuri bebatuan besar yang disusun sedemikian rupa, menjorok ke arah laut.


"Sayang, tunggu! Kamu pake ini dulu ..." Kei mengacungkan sebuah topi rajut lebar yang tadi diambilnya dari kursi belakang.


Kei tersenyum dengan kepala yang menggeleng beberapa kali. Kemudian langkah panjang dan lebarnya juga bergerak mengikuti arah yang dituju sang istri.


Di depan Kei, Naya sudah berada di tepi susunan bebatuan, berdiri menghadap lautan lepas. Tangannya terentang bebas.


Semakin mendekat, Kei dapat melihat sepasang mata jeli itu mengatup dan membuka, mengerjap indah membiaskan suasana hati sang pemiliknya.


Kei meraba dada kirinya. Ada debar halus yang tengah menalu di sana, berdetak sedikit lebih kencang dari biasa dengan irama senada. Bahagia.


Kei tersenyum, menyentuh lembut tanpa kata lengan Naya yang masih merentang lepas. Perlahan Kei memasangkan topi rajut yang masih di tangannya ke kepala sang istri.


Merasakan sentuhan sang suami di lengan dan kepalanya, Naya menoleh. Menatap Kei lebih lamat, bibirnya kemudian berucap lirih dengan suara yang hilang timbul dihalau angin laut.


Kei tersenyum, mengangguk samar seraya tangannya menarik lembut sang istri untuk duduk di bebatuan.


Beberapa saat keduanya larut dalam keindahan di hadapan mereka. Sesekali terlihat Kei berbicara sambil menunjuk ke tengah laut. Naya yang duduk dengan posisi bersila terlihat antusias menyimak semua yang disampaikan sang suami.


Menikmati quality time, mereka seperti tak peduli dengan matahari kota Padang yang sedang terik membakar.


Kei dan Naya baru beranjak dari bibir pantai saat suara azan sholat Dzuhur dari beberapa mesjid sekitar sahut menyahut meningkahi keramaian kota dan riak gelombang ombak yang menyapu tepian pantai.


Beberapa saat kemudian pasangan suami istri itu luruh dalam sujud panjang bersama para jemaah lainnya di dalam mesjid yang berada tepat berada di tepi pantai tersebut.


Naya baru saja akan melangkah menuju pintu keluar mesjid saat tangannya sudah di genggam kuat oleh sebuah tangan besar yang langsung menghelanya.


Naya menoleh. Terlihat Kei tersenyum lembut dengan tatapan dalam.


Gadis itu menautkan dahinya. Tadi ia berniat untuk menunggu sang suami di jenjang mesjid yang menghadap langsung ke jalan raya di depannya.


Tanpa kata bantahan, meski kepalanya penuh dengan beragam pertanyaan, Naya mengikuti helaan tangan Kei menuju ke arah depan ruangan mesjid, tempat shaf jamaah pria.


Keduanya berhenti tepat di mihrab mesjid, ceruk menjorok ke dalam, tempat imam memimpin sholat jamaah.


Naya semakin menautkan alisnya. Matanya menilik sekelilingnya. Ruang shaf jamaah pria itu memang telah lengang. Hanya ada satu dua orang yang masih mengerjakan sholat, mungkin sholat sunnah.


Kei duduk dan menarik lembut sang istri untuk ikutan duduk di depannya. Menatapnya dengan begitu lembut.


Dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya, Kei berucap pelan tanpa memutus tatapan matanya dari Naya.

__ADS_1


"Sayang, I would like to talk something to you. Ada yang ingin Abang sampaikan ke Nay."


"Ya ...?" Naya menunggu dengan debar penuh tanya. What's up?


Kei diam sejenak. Menghirup pasokan oksigen lebih banyak untuk membantu pernafasannya yang terasa mulai menyempit.


"Sayang ... Abang tidak tahu pasti, bila sayang bisa memaafkan Abang. Tapi seperti yang pernah Abang katakan, Abang akan tetap menanti sampai bila - bila masa, pun." Kei kembali diam, menjeda kalimatnya.


"Sayang, Abang akan tetap menanti masa tu, kerana ... Abang ingin menghabiskan sisa hidup Abang bersama sayang. Selamanya." Kei menatap Naya semakin dalam.


"Sayang, will you spend the rest of your life with me?"


Naya tercekat. Sesaat ia kembali seakan lupa untuk bernafas. Bibirnya kelu oleh gugu yang tetiba hadir.


Mengerjap tak hanya sekali dua dalam alfa aksara, hanya itu yang mampu dilakukan gadis cantik menantu Puan Sri Latifah tersebut.


Meraih kedua tangan halus Naya, Kei kemudian mengenggamnya erat, seakan hendak meyakinkan gadis itu lewat hangat genggamannya.


Naya masih terdiam saat Kei melepaskan satu genggaman tangannya, mengambil dan mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celananya.


Naya kembali mengerjapkan matanya saat melihat sebuah cincin bertahta berlian yang sudah ada di satu tangan Kei.


"Sayang ... Will you?" Kei masih menunggu, namun kali ini tidak sendirian. Puluhan pasang mata telah melingkari mereka. Entah sejak kapan.


"Tarimo se lah, Uni."


"Terima dong kakak."


"Terima."


"Ayo, terima."


Semua suara-suara itu seakan sebuah sugesti yang sedang menyokong, mendukung ... Tidak hanya bagi Kei, namun juga bagi Naya.


Gadis itu masih mengerjap dengan ekspresi yang terlihat sedikit lucu namun selalu menggemaskan bagi seorang Kei Hasan.


Lelaki itu tersentak saat matanya menangkap anggukan samar Naya dengan mata yang memejam rapat.


"Sayang ...? Really? Sayang bersedia?!" Kei sedikit berseru untuk meyakinkan penglihatannya.


Masih tanpa kata, gadis itu mengangguk. Kali ini sedikit lebih kuat untuk meyakinkan lelaki dewasa di hadapannya.


"But, in one condition!"


"Condition? Syarat? Syarat apa?" Kei yang sudah bersiap untuk memeluk sang istri, urung melakukan aksinya.


"Minta Nay secara baik-baik kepada Puan Sri Latifah!"


"What?!!"


...*****...


To be continued


Maaf, telat ya... Silahkan dinikmati. Jangan lupa like dan commentnya, ya..

__ADS_1


__ADS_2