
Batusangkar, pukul 15.20 WIB.
Naya membuka matanya lebar dengan dada yang terus berdebar. Sedari tadi, sejak Kei menyampaikan bahwa mereka sudah semakin dekat dengan negeri kelahiran Ayah dan Bundanya, gadis itu tidak lagi bisa memejamkan matanya. Rasa kantuknya hilang tiba-tiba.
Sepanjang perjalanan, matanya tak lepas dari pemandangan di sekitarnya. Naya membaca setiap tulisan yang dijumpainya terpajang pada plang di tepi jalan yang mereka lewati.
Semua tingkah gadis itu tidak luput dari pengamatan Kei. Lelaki itu menahan senyum sambil sesekali menggelengkan kepalanya.
Naya masih fokus dengan pemandangan di sepanjang jalan yang mereka lewati saat Kei tiba-tiba memberhentikan mobil tepat di depan gerbang sebuah perkampungan.
Naya langsung menoleh ketika Kei menyentuh lengannya pelan. Menyipitkan matanya, pandangan gadis itu menyiratkan pendar penuh tanya.
Kei kembali tersenyum. Menatap gadis itu sejenak kemudian mengalihkan matanya pada gerbang yang berdiri kokoh di sebelah kiri mereka.
"Mo singgah dulu, ngga? Mumpung dah nyampe sini. Rugi kalo ngga mampir", ujarnya sambil kembali mengarahkan pandangan pada gerbang tersebut.
"Maksudnya singgah kat mana?" Naya menautkan kedua alisnya sekarang. Namun tak urung pandangannya pun beralih ke arah pandangan Kei.
"Selamat Datang di Nagari Tuo Pariangan."
Naya membaca pelan kalimat yang tertulis di gerbang tersebut. Kembali menautkan kedua alisnya, gadis itu mengetuk-ngetuk keningnya dengan ujung telunjuk. Terlihat ia seperti berusaha mengingat sesuatu.
Kei ikut mengetuk kening Naya sambil melakukan sedikit dorongan dengan ujung telunjuknya.
Naya menangkap telunjuk Kei yang masih menempel di keningnya dengan mata membelalak tajam. Tersirat kesal di sana.
Lelaki itu menahan senyumnya. Apapun tingkah Naya selalu terlihat menggemaskan di mata Kei.
"Udah, mukanya ngga usah dibikin sok jelek kek gitu, ngga mungkin bisa jelek juga ... Ha..ha..ha.." Kei tertawa setelah menyelipkan gombalan recehnya.
"Ngga usah diketok-ketok kek gitu juga. Itu kening bukan pintu." Kei makin melebarkan senyumnya saat mata Naya kembali membesar mendengar kalimat asalnya.
"Tapi kalo kamu pengen masuk ke sini, maka ngetoknya di ..." Kei sengaja menjeda kalimatnya sambil mengambil tangan sang istri dan menempelkannya ke dada lelaki itu.
Naya kembali membolakan matanya.
"Yeeiii, siapa juga yang mo ma ..."
"Ups, sorry, lupa! Yang harusnya masuk, kan Abang. Bukan kamu!" Kei memotong cepat kalimat Naya sambil menaik turunkan alisnya. Senyum jahil bin tengil terulas di wajahnya.
Naya memutar bola matanya saat mendengar kalimat tak jelas Kei.
"Udah, ngga usah menggulur waktu! Abang sengaja, kan? Kenapa? Takut ya ketemu sama tek Za! Pasti karena ada salah!"
Naya memutar tubuhnya, dan menghadap Kei sekarang. Menatap lelaki itu tanpa kedip, Naya mencoba mendalami hati lelaki di depannya.
"Apaan sih, kamu. Selalu buruk sangka ke Abang," ujar Kei seraya mengulurkan tangannya ke muka gadis itu.
Kei sengaja menutup kedua mata Naya dengan telapak tangannya yang besar.
Lelaki itu menarik nafas dalam dan kembali menghembuskannya perlahan. Tersamar kegundahan dalam senyumnya yang membayang tipis.
Duh! Bagaimana dia tahu aku sedang mengulur waktu?
"Kalo memang ngga gitu, ya udah ... Kita langsung pulang sekarang, kapan-kapan kan bisa ke sini. Nay tahu, ini Nagari Tuo Pariangan yang merupakan desa terindah di dunia versi Travel Budget itu, kan?" Gadis itu menarik tangan Kei dari mukanya.
Naya berusaha melepaskan telapak tangan Kei yang masih menutupi mata gadis itu. Tanpa usaha yg terlalu berarti, Naya berhasil melepaskan tangan Kei dari mukanya.
__ADS_1
"Yuk, jalan lagi. Nay alah taragak bana samo tek Za, pak etek Alam, apolai samo Noura. (Nay sudah rindu sekali dengan tek Za, pak etek Rul, apalagi sama Noura)."
Naya mengerjap-ngerjapkan matanya seraya meraih tangan kiri Kei, mengenggam erat dan membawa tangan itu ke dadanya.
Menempelkan erat tangan itu di dada kirinya, Naya kembali menatap Kei dengan pendar penuh harap.
Berharap lelaki di depannya peka, betapa ia sudah sangat merindui keluarga besarnya. Menginjak langsung tanah kelahiran bunda dan ayahnya adalah salah impiannya sejak kecil.
Kei menghela nafas panjang. Rasa risau kembali datang, namun kali ini lebih dashyat dari risau karena akan 'disidang' tek Za dan keluarga besar lainnya.
Risau yang ini bisa mematikan nalarnya. Kei takut, ia tidak bisa mengendalikan diri. Gadis cantik di depannya selalu saja mencabar, menantang dan menguji kesabarannya.
Kali ini Naya 'merusuh' dengan menempelkan tangan kiri Kei di dadanya.
Lelaki dewasa itu berusaha melepaskan tangannya dari dada kiri sang istri. Aliran listrik langsung menyengat saat tangan Kei hinggap di sana. Berusaha mempertahan kewarasannya, lelaki berahang kukuh itu menggelengkan kepalanya berkali-kali.
"Udah, ihh! Kamu apaan lagi, sih? Iya. Kita pasti ke sana! Jauh-jauh menyebrangi selat Melaka, ke Pekan Baru langsung ke sini ... Yah pastilah kita ke rumah tek Za!"
Kei berkata sedikit keras untuk menyentak kesadarannya sendiri agar tetap waras.
"Huaa? Abang kok gitu? Bentak-bentak Nay? Nay salah apa?? Huaaa..." Tangisan Naya langsung memenuhi ruang mobil.
"Hei...hei... Bukan gitu maksudnya. Abang ngga bermaksud ngebentak kamu ..."
Kei langsung membuka seatbelt-nya dan merengkuh gadis itu kedalam pelukannya, berusaha menenangkan.
Bukannya diam, tangisan Naya semakin kencang dan berhasil menarik perhatian beberapa orang yang lalu lalang di sana.
"Sshhhtt... Udah dong, Nay. Jangan kek anak kecil deh. Iya, kita lang..."
Oh, sshhiittt! Salah lagi gue...
...*****...
Rumah Kediaman Etek Zainab, Batusangkar.
"Benar, Puan Sri. Lama tidak bertemu, banyak yang harus kita bicarakan."
"...."
"Iya. Terakhir bertemu dua tahun lalu saat wisuda master degree-nya Naya."
"....?"
"Kepala batu? Maksudnya, Puan Sri?"
"...."
"Oh, ya Allah ... Jadi maksudnya nak Kei? Ha...ha...ha... Puan Sri ada-ada saja. Hati-hati, Puan Sri. Nanti jadi do'a. Yang kasihannya Naya, nanti menantu Puan Sri bersuamikan kepala batu. Ha...ha...ha... Astaghfirullahal'aziim. Na'uzubillah tsumma na'uzubillah. Jangan sampai kejadian, Puan Sri."
"....?"
"Alhamdulillah, Puan Sri. Kalo pulang kesini cukup sering, lah. Bahkan dulu di awal-awal, hampir tiap bulan datangnya. Tapi satu tahun belakangan ini, rutinnya satu kali tiga bulanan. Tapi kalo nelpon sangat sering, Puan Sri. Kadang dalam satu bulan itu bisa dua sampai tiga kali nelponnya."
"...."
"Iya, Puan Sri. Alhamdulillah."
__ADS_1
"...."
"Hari ini ya, Puan Sri? Baik, kami tunggu."
"...."
"Iya."
"...."
"Iya, Puan Sri."
"...."
"Baik, wa'alaikumussalam warahmatullah.
Tek Zainab menaruh kembali gawainya di atas kursi dekat meja makan.
Ia dan putri bungsunya Noura, sedang sibuk bolak balik dapur dan ruang makan saat Puan Sri Latifah menelpon.
Keduanya mempersiapkan aneka masakan untuk menyambut kedatangan Naya dan Kei.
Pak etek Rul, ayah Noura tadi pagi sengaja memancing di tabek, kolam ikan, milik keluarga mereka untuk bisa membuat palai ikan nila kesukaan Naya.
Adalah Noura yang terlihat paling antusias menyambut kedatangan Naya, sepupunya. Gadis remaja berusia enam belas tahun yang beberapa waktu ini enggan bersentuhan dengan peralatan dapur, kali ini terjun langsung membantu tek Zainab, sang bunda.
Bila biasanya gadis cantik itu selalu memberikan beribu alasan saat diminta untuk memasak, hari ini Noura bertemu kembali dengan aneka bumbu yang sudah beberapa bulan ini tak lagi disapanya.
Tek Zainab tersenyum melihat anak bungsunya yang nampak sangat senang hari ini. Meski tubuh sudah bau bumbu bercampur keringat, tak terdengar gadis itu mengeluh.
Pak etek Rul yang baru saja kembali dari surau melaksanakan sholat Ashar ikut tersenyum kecil menyaksikan putri bungsunya itu.
Pak etek Rul dan tek Zainab sama-sama tersenyum simpul saat pandangan mereka bertemu. Ada pendar haru di mata keduanya.
Setelah beberapa bulan tidak lagi melihat penampakan sang putri bungsu di dapur untuk meracik bumbu dan memasak, hari ini mereka kembali menyaksikan momen haru bagi kedua orang tua itu.
Mereka berdua, terutama tek Zainab sang bunda selalu menekankan pada sang putri, bahwa seorang perempuan, setinggi apapun sekolahnya, sehebat apapun karir dan jabatannya, saat pulang ke rumah, ia kembali ke jati dirinya. Ia akan kembali menjadi seorang istri bagi suaminya, dan seorang ibu bagi anak-anaknya.
Itulah sebabnya sedari kecil tek Zainab sudah membawa Noura ke dapur, berkenalan dan belajar tentang ragam bumbu masak dan cara meraciknya. Hanya saja beberapa bulan ini si bungsu mereka yang sedang dalam fase pubertas, sedang mengalami mood swing.
Gadis remaja itu lebih memilih meng-goal- kan bola basket ke keranjangnya dari pada meracik bumbu masak di dapur. Tambah satu lagi olahraga favoritnya sekarang, silat dan karate.
Tek Za masih terlihat berkaca-kaca, saat tiba-tiba ...
"Assalamualaikum..."
...__________*****_________...
To be continued
Alhamdulillah, akhirnya up lagi hari ini. Terimakasih tak terhinga atas do'anya teman-teman semua.
Buat yang masih setia bersama KeiNaya, lope lope sekebon duren ya...
Yang udah baca sampai episode ini, tapi belum juga dijadiin "favorite", pliisss deh ... Jadiin favorite, dong.
Bagi yang udah, terimakasih banyak ya.. dan tetap support dengan like dan comment-nya ya biar aku tambah semangat up nya.
__ADS_1