Di Ujung Sayap Rindu

Di Ujung Sayap Rindu
Selalu Ada Hati yang Penuh Maaf (Part 2)


__ADS_3

"We need to talk! It"s an urgent one! Tak kan lah you nak lepaskan dia begitu saja, kan?!"


" ......?"


"Sure! Of course I do!"


" ......?"


"No! Sekarang aku yang tentukan tempatnya! Jangan gegabah lagi! Dia dan si tua itu memasang spy di mana-mana!"


" ........ "


" Okay! Nanti aku bagi tahu alamatnya. Tunggu saja! Aku tidak mau menyampaikannya lewat panggilan ini. So, just be ready!"


" ...... "


"Well, let's see! Siapa yang akan jadi a looser, now?!"


...*****...


Dreetttt.... Dreeetttt... Drrreeeeetttttt...


Naya terlonjak kaget, saat merasakan getaran kuat dari benda persegi empat yang ternyata masih dalam genggamannya. Getaran yang mampu menyentak simpul kesadarannya.


Dalam satu hentakan, gadis itu berhasil mendorong kuat dada bidang lelaki di depannya. Nafasnya masih tersengal dengan dada yang bergerak turun naik tak beraturan. Wajah putih bersihnya pun merona seketika.


Untuk menyamarkan gugup dan ledakan dashyat di dadanya, hanya mengalihkan pandangan yang mampu dilakukan Naya. Sementara tubuhnya masih kaku membeku.


Gadis itu mengerjapkan matanya beberapa kali, berupaya mengumpulkan kesadaran yang masih tercecer.


Kei tersenyum penuh arti saat menangkap 'ledakan rasa' Naya lewat mata jernih berusaha dipalingkan gadis itu.


Ledakan rasa sama yang juga dimiliki oleh seorang Kei Hasan, bahkan sejak dulu lagi.


Dengan senyum yang masih terbingkai di sudut bibirnya, perlahan Kei mengulurkan tangannya dan menopang dagu mungil milik sang istri.


Dengan sedikit memaksa. Kei berhasil mengalihkan kembali mata jeli yang tadi berpaling darinya.


"Kenapa?" Bisiknya seraya menyapu lembut bibir merah yang sedikit membengkak itu dengan ujung ibu jarinya.


"Sayang, setelah semua nih clear, Abang nak bawa sayang healing ke sesuatu tempat", lanjut Kei kembali di sela sapuan jarinya pada bibir sang istri.


"Mhmm?" Naya hanya mampu berdehem dengan mata sedikit menyipit.


Otak dan lidah masih belum sinkron. Lisannya masih kelu untuk bisa berkata-kata. Apalagi sapuan ujung ibu jari Kei di bibirnya yang terasa sedikit kebas kembali menderaskan aliran darahnya.


"Yeah, honeymoon, maybe?" Kei memiringkan sedikit tubuhnya dengan tatapan menggoda.


"Yeiii, healing ya healing aja, kenapa perginya ke honeymoon?" Ujar Naya masih berusaha menghindari tatapan Kei yang selalu saja mampu melumpuhkannya.


"Maksud Abang, honeymoon itu buat healing, sayang... Mau, ya?" bisik Kei setengah membujuk.

__ADS_1


"Ngga!" Tolak Naya tegas, masih dengan tanpa memandang Kei.


"Sayang???" Kei setengah berseru sambil kembali berusaha menangkup pipi mungil milik sang istri.


Saat berhasil mengalihkan kembali wajah cantik itu ke hadapannya, Kei menatap lekat dan dalam tepat di manik coklat itu.


Jawaban Naya barusan bukanlah jawaban yang diinginkannya. Karenanya, ia akan mencari sendiri jawabannya.


Bukanlah Kei Hasan namanya bila ia melepaskan sesuatu yang sudah berada di genggamannya, kecuali memang ia yang ingin melepasnya.


Namun gadis cantik itu masih berusaha menghindar, kali ini dengan memejamkan kedua matanya rapat.


Namun sekali lagi, bukan Kei Hasan namanya bila ia tidak mendapatkan apa yang diinginkannya.


Saat kedua kelopak mata Naya mengatup rapat, Kei segera melayangkan kecupan-kecupan ringan tanpa henti di sana.


Naya kembali gelagapan, apalagi saat merasakan tubuh Kei kembali menempel, tanpa jarak. Seketika saluran pernafasannya kembali serasa menyempit, membuat nafasnya putus-putus.


"Ab...Abaaanngg, stop it!" Sialnya suara yang keluar malah lebih mirip sebuah erangan di telinga Kei.


Lelaki dewasa itu semakin gencar melancarkan serangannya, saat tiba-tiba getaran gawainya kembali menyentak Naya.


*Dreettt... Dreeeettttt... Drrreeeeeetttttt...


"Abbaannggg*! Ada panggilan masuk," desisnya.


Sshhiitttttt!!!


Kei meluapkan kekesalannya dengan merem-as kuat rambutnya sendiri seraya tangannya terulur meraih gawai di dekat Naya.


Naya yang melihat sekilas id caller tersebut menautkan kedua alisnya. Ratu Drama???


"Ya, hallo?"


"Hei, budak! Kamu tuh di sini menantu, pandailah sikit jaga sikap! We have been waiting for you, for having breakfast!" Terdengar suara Puan Sri Latifah dengan penuh tekanan pada setiap kata yang diucapkannya.


Kei sedikit terkejut. Menjauhkan gawai dari telinganya, Kei melihat ikon waktu di layar gawai. Pukul 07.20 WIB!


Menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal, lelaki itu kembali menatap sang istri seraya mengisyaratkan kata 'Mama' dengan gerakan bibir tanpa suara.


Naya yang terjengkit kaget segera melepaskan diri dari kungkungan sang suami. Dengan tubuh yang masih belum sepenuhnya stabil, ia berusaha menjaga keseimbangan saat hampir saja terjatuh karena gerakannya yang tiba-tiba.


Untuk saja Kei sigap menyanggah tubuh munggil itu.


"Sayang??? Hati-hati, kamu bisa jatuh?!" Kei berseru dengan tatapan yang sedikit tajam.


"Nay sayang? Hallo? Kamu kenapa?!" Terdengar nada cemas dalam suara Puan Sri dari gawai yang masih tersambung.


"Ngg, no Mama! Nay okay je. Nay balik kat sana. Tunggu kejap." Naya berusaha menormalkan nada suaranya.


Kamu kat mana, sayang?!" Masih terdengar jelas nada cemas Puan Sri Latifah.

__ADS_1


"Nay kat rumah sebelah, Mama." Naya menjawab sambil berjalan pelan, diiringi langkah Kei di belakangnya.


"Rumah sebelah? Kat mana, tuh?" Puan mengisyaratkan tanya.


"Nanti Nay cerita kat Mama, sekarang Nay tutup dulu, ya? Assalamualaikum Mama." Naya menutup panggilan seraya menyerahkan kembali gawai Kei.


"Abang, sih?! Orang-orang pasti udah nungguin kita. Ntar dikira, kita ngapa-ngapain lagi," sungut Naya kesal.


"Lha, tadi kan memang ngapa-ngapain? Lupa, ya?" Kei kembali menggoda dengan tatapan yang semakin menyebalkan di mata Naya.


Tak lagi menanggapi, Naya melengos, sengaja membuang pandangannya.


Kei tergelak seraya mengulurkan tangannya, meraih pinggang sang istri.


Naya yang tidak menyangka gerakan tiba-tiba Kei, terkejut namun tidak bisa menghindar saat tangan besar itu sudah melingkar kuat di pinggang rampingnya.


Gadis itu membulatkan matanya penuh sambil mencubit kuat tangan Kei. Namun ternyata 'serangan kecil' Naya tak berarti apa-apa bagi Kei. Lelaki itu bergeming. Tangannya tetap melingkar kukuh di pinggang ramping itu bahkan sesekali menggelitiknya nakal.


"Aarrgghhh, jangan! Nay ngga tahan geli!" Naya menjerit tertahan.


"Mmh... Ehem... Duh, yang lagi dimabuk cinta! Dunia serasa lengang, yang ngehuni cuma berdua aja, ya?" Tiba-tiba Afifah muncul dari balik pintu teras samping rumah tek Za.


Naya segera berusaha merenggangkan tubuh mereka dengan memberi jarak. Namun Kei dengan tidak tahu malunya, sengaja semakin merapat.


Wajah putih Naya merona oleh jengah yang menerpa. Afifah tersenyum sambil menggelengkan kepalanya menatap dua sejoli di depannya.


Beriringan ketiganya melangkah menuju ruang makan. Terlihat semuanya sudah lengkap berkumpul di sana.


"Maaf, kita telat," cicit Naya sembari menundukan wajahnya.


"Maaf, tek, pak etek ... Tadi ada yang perlu kita bicarakan sebentar," timpal Kei.


"Sebentar??? Duh bagi orang yang sedang bercinta, satu jam jadu terasa satu menit, ya?" Afifah kembali menggoda dengan kalimat asalnya.


"Fah?!" Puan Sri menatap sang putri tajam.


"Uppss, maksud Fah, orang yang sedang pacaran, Mama. Duh, salah cakap je nih mulut.." Afifah kembali tersenyum seraya melakukan gerakan mengunci mulutnya.


Tak mampu lagi berkata, wajah Naya semakin merona oleh sentilan yang diluncurkan Afifah.


Puan Sri kembali melayangkan tatapan tajamnya pada sang putri, sambil tangannya menarik halus Naya.


"Nay duduk kat Mama sini, ya?" Sambung Puan Sri dengan mendudukan sang menantu di sampingnya.


"Setelah selesai semua acara di sini, nanti sore kita kembali ke KL untuk persiapan press confrence, esok pagi!"


Uuhuukk!!! What?!


..._________*****_________...


To be continued

__ADS_1


Alhamdulillah, KeiNaya hadir lagi. Maaf, ya sedikit telat...


Happy reading!


__ADS_2