
Naya melayangkan pandangannya pada loteng kamar Kei yang sedang ditempatinya sekarang. Matanya masih enggan untuk terlelap. Setelah beberapa saat membaringkan tubuhnya, Naya bangkit, duduk di tepi ranjang sambil merapatkan sweater Nek Sya yang tadi sempat dipinjamnya.
Sesaat kemudian ia bangun dari duduknya, berjalan perlahan mengitari kamar sambil kepalan tangannya mengetuk-ngetuk keningnya sendiri. Langkahnya terhenti tepat di depan sebuah jam besar antik, dengan penunjuk waktu yang masih berfungsi dengan baik. Pukul 01.50 dini hari.
Apa yang sebenarnya tadi terjadi di ruang baca? Apakah yang telah dikatakan oleh Tan Sri dan Puan Sri kepada Bang Kei sehingga putra mereka tersebut langsung pergi meninggalkan rumah?
Masih lekat diingatan Naya saat Kei membanting keras pintu ruang baca, keluar dari ruangan itu dan langsung menuju kamar tidur Nek Sya.
Naya tidak tahu apa yang dibicarakan oleh nenek dan cucu tersebut. Naya memperkirakan Kei berada di kamar sang nenek sekitar lima menit saja.
Saat keluar dari kamar Nek Sya, Kei berjalan kearah Naya yang terpaku berdiri di depan pintu kamarnya.
Mata elang itu menatap Naya tak berkedip. Pandangan lurusnya tepat di manik hitam Naya. Lama.
Ada getar lirih di sudut hati Naya saat pandangan mereka beradu. Sontak Naya menundukan pandangannya.
Tak ada kata yang terucap hingga kemudian langkah kaki yang terdengar menjauh.
Belum sempat Naya mendonggakan kepalanya kembali, langkah itu terhenti.
"Aku tidak pernah membiarkan seseorang merenggut yang sudah menjadi milikku, siapapun itu! Bahkan maut sekalipun!!!"
Kei menyatakan kalimatnya dengan suara lantang. Tangannya mengepal kuat dengan buku-buku tangan yang memutih.
Sesaat kemudian Kei membuka kasar pintu, keluar dan kembali menutupnya dengan bantingan yang lebih keras.
Naya yakin Mama dan Papa mertuanya yang masih berada di ruang baca, dan Nek Sya yang sedang di kamarnya, dapat dengan jelas mendengar pernyataan Kei.
Astaghfirullahalazim! Bang Kei?
Naya memegangi dadanya yang terasa nyeri, perih.
...***...
Naya melipat mukenanya. Ia baru saja menunaikan sholat Subuh di kamarnya.
Begadang semalaman karena tidak bisa tidur, membuat Naya merasa lemas dengan kepala yang sedikit pusing.
Nek Sya dan Mama mertuanya yang melihat kondisi Naya memintanya untuk sholat Subuh di rumah saja.
Naya mengiyakan tanpa membantah. Ia ingin tidur sebentar sebelum berangkat menghadiri pesta pernikahan Kak Zahra, sepupu Bang Kei.
Naya merebahkan tubuhnya di tempat tidur, memejamkan matanya, mencoba untuk tidur.
Dua puluh menit berlau, namun Naya tetap tak bisa tertidur. Sudah beberapa kali ia membolak balik badannya, pindah dari sisi satu ke sisi yang lainnya dari tempat tidur itu untuk mencari posisi ternyaman, namun nihil. Matanya tetap nyalang terbuka.
Naya bangkit, duduk sesaat, kemudian memasang niqabnya.
__ADS_1
Perlahan Naya melangkah keluar kamar, ia berniat untuk mencari udara segar.
Baru saja satu langkah dari kamar, Naya berpapasan dengan Mama dan Nek Sya yang baru pulang dari surau.
"Sweety, kenapa tak jadi tidur? Berehat lah dulu. Tengok tu kantung mata Nay. Dah macam mata Panda," Puan Sri menyentuh lembut mata menantunya.
"Iya. Tidur lah Nay. Kata tadi kepala sakit, pusing. Nak kemana? Masih kelam kat luar tuh ..." Nek Sya menimpali perkataan Puan Sri.
"Nay dah okay, Ma, Nek. Nay nak cari angin sikit kat luar tuh ..." ujar Naya diiringi senyum kecil dari balik niqabnya.
"Ah kalau macam tu, minta budak-budak kecik tu temankan Nay, ya? Azmi dan kawan-kawan ada kat surau."
Naya menganggukkan kepalanya tanda setuju.
"Eii, tapi jangan lama-lama ya, pukul delapan kita langsung ke majelis kahwin kak Zahra. Kak Ifah kamu dari Trengganu langsung kat majelis, tu. Nanti kita jumpa kat situ je."
"Iya, Ma. Nay kejap, pun. Okay, Nay pegi ya," berkata begitu Naya membalikan tubuhnya dan berjalan keluar rumah.
Dari surau nampak Azmi dan teman-temannya keluar sambil berlarian. Naya segera menghampiri mereka.
"Mhm ... Azmi dan kawan-kawan boleh temankan Kak Nay, tak?"
"Boleh. Kak Nay nak kemane, ke?" Azmi langsung mesrepon dengan Melayunya yang kental.
"Kak Nay nak jalan-jalan ambik angin sikit. Tak jauh, kat jalan tepi sawah padi tu, je".
Mereka berjalan beriringan. Sesekali mereka saling mendorong teman di depannya, kemudian ditingkahi oleh sorak tawa saat ada yang terjatuh.
Naya tersenyum menyaksikan tingkah pola teman-teman kecilnya.
Setelah berjalan-jalan menghirup udara segar sekitar setengah jam, mereka kembali pulang.
Saat lewat di depan rumahnya Naya tertegun. Matanya menangkap sekelebat bayangan yang sedang tegak berdiri di dekat jendela kaca yang tertutup gorden, menatap ke arah jalan yang kini sedang di lewatinya. Hanya sekilas, kemudian bayangan itu menghilang.
Naya mengerjapkan matanya berulang kali, berharap bahwa bayangan itu muncul kembali. Namun harapannya tak terwujud, bayangan tersebut menghilang.
Naya menggelengkan kepalanya beberapa kali.
Aku yakin ada seseorang tadi di sana. Sepertinya seorang laki-laki, tapi siapa?
"Kak Nay, okay tak?" Azmi menyikut lengan Naya.
"Eh, iya. Kak Nay okay. Azmi dan kawan-kawan nak singgah dulu kat rumah Nek Sya atau ..."
"Tak nak. Kita pulang je, Mak dan Ayah nanti risau kalau kita pulang lambat".
"Okay lah tu. Banyak terimakasih, ya?"
__ADS_1
"Okay, Kak Nay. Kita orang pulang dulu. Assalamualaikum."
"Wa'alaikumussalam." Naya menjawab salam seraya melangkah kembali menuju rumah mertuanya.
Baru saja kaki melangkah menaiki anak tangga, Puan Sri Latifah sudah menyambutnya di depan pintu.
"Alhamdulillah, untunglah Nay sudah pulang, kalau tak, Mama dah mau jalan lah nih, nak jemput pulang."
"Maaf, Ma. Terlambat sikit. Okay, Nay berkemas ya, Ma"? Naya langsung masuk dan melangkah menuju kamar.
"Cepat ya, Nay. Mama, Papa dan Nenek tunggu kat luar, nih ..."
"Okay, MaCan. Kejap Nay siap, nih ..."
"What?! Macan?"
Naya yang sudah akan masuk ke dalam kamar, mengurungkan langkahnya. Tersenyum seraya mengedipkan matanya.
"Iya, MaCan. Mama Cantik ...!
"Mama Cantik? Ha ... ha ... ha ... Pan ...dai anak Mama".
Puan Sri balas mengedipkan matanya.
Naya yang sekarang gantian melongo melihat Mama mertuanya. Matanya membelalak lebar.
Tawa Puan Sri semakin riuh demi melihat reaksi menantu kesayangannya.
Di halaman rumah, Tan Sri dan Nenek Syarifah yang mendengar Naya dan Puan Sri sama-sama menggelengkan kepalanya.
"Latifah, ingat umur. Tawa tuh tahanlah sikit. Tak malu, ke?"
"Iya. Dengar tu cakap Mak. Tak malu ke sama umur? Dah tua, pun. Untung Afifah tuh belum punya anak, kalau tak, dah jadi Opah, pun". Tan Sri menimpali mak mertuanya.
"Isshh Abang, nih ... Tak sering pun ... Itu karena menantu Papa tuh. Pandai sangat bujuk hati Mama. Cakap dia, Mama nih MaCan."
"Macan? Kerana Mama sering mengaum lah, tuh ..."
Isshh ... Abang, nih ... MaCan tu mama cantik, lah ... Bukan macan dalam rimba tu ..." Puan Sri mengkerutkan bibirnya.
Tan Sri yang melihat istrinya cemberut tersenyum tipis. Ia tahu, bagi Puan Sri Latih istrinya, Kanaya Khairunnisa adalah salah satu sumber kebahagiaan.
Itulah sebabnya ia sangat marah ketika Kei, yang merupakan darah dagingnya sendiri, berlaku jahat kepada Naya.
Bagi seorang Puan Sri Latifah, Naya bukan hanya sebagai menantu, namun sudah seperti anak sendiri, yang ia sayangi seperti ia menyayangi Afifah, putri mereka.
......***......
__ADS_1
To be continued