
Di tengah riuh ombak dan gelombang yang meningkahi, derap langkah beberapa pasang kaki itu semakin jelas terdengar.
Sejenak Naya memejamkan mata. Jujur diakuinya, ada rasa takut yang menyelinap perlahan.
Gadis mungil dengan pipi chubby berlesung pipit itu menggigit bibir bawahnya perlahan. Kedua tangannya bertaut seakan saling menyalurkan kekuatan.
Ya Rabb, tidak ada pertolongan kecuali hanya pertolongan-Mu sahaja!
Allahu akbar!
Hanya Engkau yang maha besar, selebihnya kecil hakekatnya!
Perlahan bibirnya mengatup, menyamarkan gemetar yang bertamu tanpa diminta.
Kemudian dengan gerakan pelan namun pasti, Naya yang awalnya terduduk tersandar, bergerak bangkit. Gadis itu menopang tubuhnya agar bisa berdiri sempurna.
Ia tahu, rasa rakut dan cemas hanya akan semakin melemahkannya, dan musuh akan semakin senang menjajahnya. Ia harus kuat sekarang!
Gadis itu menajamkan pandangannya bersamaan dengan hadirnya lima orang berpakaian serba hitam.
Dua orang berperawakan tinggi besar dengan tubuh berotot. Satunya berperawakan sedang, bahkan cendrung lebih thinny, or slimmy? Perawakan khas Eropa dan Amerika.
Sementara dua orang lainnya bertubuh sedikit lebih gempal dengan tinggi rata-rata kebanyakan orang Asia.
Kelima orang tersebut menutupi wajah mereka dengan kain yang yang juga berwarna hitam. Hanya mata saja yang terlihat. Namun Naya juga tidak begitu yakin dengan warna mata mereka.
Perlahan salah seorang yang bertubuh gempal, bergerak maju mendekati Naya.
Gadis itu semakin siaga. Berusaha untuk tetap berdiri tegak dengan mengukuhkan pijakan kakinya pada lantai ruangan itu. Sementara ujung matanya terus menelisik, mencoba mencari celah untuk meloloskan diri, sekecil apapun.
"Mhem... Comel sangat menantu Puan Sri!" Si tubuh gempal semakin mendekat dengan tangan yang terulur, berusaha menyentuh pipi Naya.
Gadis itu menghindar dengan mengelakan mukanya. Matanya sedikit menyipit. Aksen Melayu yang terlalu dipaksakan!
Matanya semakin menelisik, berusaha mengenali ciri tertentu dari wajah-wajah di depannya.
Satu persatu wajah itu dipandangnya. Namun Naya tak menemukan sesuatu yang bisa dijadikan petunjuk.
"Kenape, hah?! Teringin sangat ke nak kenal kite orang?!" Si gempal satu lagi yang sekarang melangkah maju mendekati Naya.
"Apenya yang comel, biase je pun!" Ujarnya semakin mendekat seraya berusaha menarik jilbab gadis itu.
Naya memundurkan tubuhnya. Langkahnya terhenti saat ujung tumitnya telah bersentuhan dengan dinding di belakangnya.
"Bila cantik, comel sangat... Tak kan lah suami die beistri lagi, kan??? Ha..ha...ha...!" Si tubuh gempal itu tertawa dengan perut yang berayun seiring gelak tawanya.
Naya semakin menajamkan mata. Ia sadar sekali kalimat-kalimat barusan adalah bentuk provokasi mereka atas dirinya.
__ADS_1
Bibir gadis itu bergerak membentuk lengkungan kecil. Senyumnya terpulas samar.
"What do you want from me?!" Naya kembali menatap wajah-wajah di depannya satu per satu.
Tanpa menjawab, seorang yang berperawakan semampai namun sedikit lebih thinny yang sekarang berjalan mendekati Naya.
Berhenti tepat di depan gadis itu. Matanya menatap Naya tanpa kedip. Mengintimidasi dengan bahasa tubuhnya yang provokatif.
Berjalan mengitari gadis itu sambil mencondongkan tubuhnya.
Naya semakin merapatkan punggungnya ke dinding, berusaha menghalangi orang itu untuk lewat di belakangnya.
Sekali lagi si thinny berhenti. Kali ini tepat di samping kanan Naya. Jari jemarinya yang bersarung tangan hitam menyentuh tulang rahang menantu perempuan Tan Sri Abdul Hamid itu.
Naya berusaha menepis namun terlambat. Jemari itu sekarang telah mencengkram tulang rahangnya.
Naya sedikit meringis saat jari-jari si thinny itu mencengkram rahangnya kuat dan semakin kuat.
Tanpa suara si thinny semakin mengikis jarak di antara mereka. Mendekatkan mukanya seraya mendesis.
Naya terkesiap! Penciumannya menangkap wangi lembut yang menguar meski sekilas.
Si thinny berpakaian serba hitam terperagap. Ia segera menjauhkan tubuhnya, namun jemarinya masih hinggap di rahang Naya.
Menatap Naya dengan pandangan entah, lama dan dalam.
Kemudian ia segera memutar tubuhnya dan melangkah menjauh. Namun dengan gerakan tiba-tiba ia kembali membalikan tubuh sembari menganyunkan tangannya tepat di pipi kanan dan kiri Naya.
Gerakan tiba-tiba dan unpredictable itu tak sempat dihindari Naya.
Gadis itu hanya bisa merangkum kedua pipinya yang sekarang terasa panas dan perih.
"Just tell me, what do you want from me?!" Naya berusaha mengusir rasa perih di kedua pipinya dengan melantangkan suaranya.
"What do we want from you?! You?!" Si thinny menyentuh ujung hidung Naya dengan jari telunjuknya. Suara yang terkesan dibuat bass.
Naya kembali menyipitkan mata. Dahinya berkerut, namun bibirnya melengkung memulas segaris senyum tipis.
"What can you give us, hah! Do you have something special to give?! Salah seorang dari dua sosok tinggi tegap berotot yang sedari tadi hanya menjadi penonton, sekarang berkata lantang sambil bergerak maju mendekati Naya.
Naya kembali tersenyum, kecil. Gotcha! Gadis itu menggelengkan kepalanya samar. Ia mulai bisa menerka siapa mereka.
"Mhem... Let's see what can you give us", ujarnya dengan mata tajam dan liar menelisik Naya dari ujung kepala hingga ujung kaki gadis itu.
Secara naluri Naya sontak menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
Dengan tatapan tak kalah tajam, Naya menyorot sosok berbadan tegap di depannya.
__ADS_1
"I have nothing, but my husband has everything to give. So, what do you want?! Just tell me!" Naya sengaja menekankan kata 'my husband'.
Sekarang sudut matanya mencoba menelisik perubahan gesture sosok thinny di hadapannya.
"Your husband, hah! Tapi aku lebih tertarik dengan Puan Sri Latifah. Orang terkaya nomor lima dan perempuan terkaya nomor satu di Malaysia!" Si thinny berkata dengan nada yang terdengar sinis.
"Perempuan itu pasti bersedia menyerahkan apapun demi menantu kesayangannya, kan?!" Tersirat kemarahan dalam kalimatnya.
"So does my husband! He will give you everything! So, just let me go!" Naya berupaya bernegosiasi namun tetap dengan kalimat memprovokasi.
"Don't be over confident, girl!"
Naya kembali tersenyum tipis saat mendengar kalimat itu. Ia berhasil memancing ular meninggalkan sarangnya.
"Why not? My husband love me so bad. So ... So ... Bad Love! Jadi, aku yakin dia akan melakukan apapun untuk menyelamatkanku!" Naya terjengkit sendiri dengan kalimat lebay bin alay yang keluar dari bibirnya.
Meskipun tujuan awalnya hanya sekedar mengulur masa, namun Naya akhirnya juga terjebak dengan permainannya.
Entahlah! Ia seperti sedang mempertahankan sesuatu, yang ia yakin adalah miliknya. Sesuatu yang ia juga merasa berhak atasnya. But, what?
"Oh, really?! A bad love! Yeah, so bad! So ... So ... A bad love." Kalimat sarkas meluncur dari si thinny.
Kemudian dengan gerakan cepat, tangannya mengeluarkan sesuatu dari saku jubah hitam yang dikenakannya.
Naya terkesiap! Jaraknya yang begitu dekat, tak akan siap mengantisipasi serangan tiba-tiba dua orang di hadapannya.
Namun tiba-tiba ...
Don't be so worry, babe. It's just a play!" Don't over thinking, okay?
"Love? Of course not. No love at all!
I just wanna see, what can they do when I play a little game to a lovely girl of their beloved son!"
This marriage will be a sweet hell for her!"
"Hurt this girl will hurt them deeply. Absolutely!
"I swear, I will make a little sweet hell for their little girl!"
"Ha ... ha ...ha...!"
Tubuh Naya menegang, namun kemudian kaku membeku saat telinganya menangkap dengan jelas kalimat demi kalimat itu.
...__________*****__________...
Maaf, Naya dan Key telat menyapa. Jangan lupa like dan comment dong...
__ADS_1
Dan sambil nungguin up berikutnya, yuk singgah dulu di sini...