Di Ujung Sayap Rindu

Di Ujung Sayap Rindu
Detik-Detik Penculikan (Part 1)


__ADS_3

Flashback On (Lanjutan)


Rumah Kediaman Naya, pukul 11.20 pagi menjelang siang waktu Malaysia.


Naya keluar dari kamarnya setelah berkemas. Gadis berhijab rapi dengan niqab menutupi wajahnya itu terlihat elegant and chic dengan tampilan outfit-nya.


Cara gadis itu mempadu-padankan warna pakaiannya sungguh menawan mata yang memandangnya.


Naya mengkombinasikan gamis berwarna dusty pink-nya dengan hijab berwarna mauve purple. Tak ketinggalan, untuk mempertegas kesan cerahnya (seperti hati Naya saat ini, cie..cie...), menantu kesayangan Puan Sri Latifah itu sengaja memakai niqab berwarna soft rossy pink.


Baru saja keluar dari kamar tidurnya, Naya berpapasan dengan mak Midah yang juga baru keluar dari dapur.


Perempuan berusia enam puluhan tahunan itu tampak sibuk bolak balik dapur dan ruang makan. Sepertinya mak Midah sedang mempersiapkan menu makan siang untuk sang puan kesayangan.


"Amboii dah cantik sangat nih? Puan nak kemana? Bukannya tadi tuan Kei bilang puan sedang sakit dan perlu berehat?" Mak Midah menatap Naya dari ujung kepala hingga ujung kaki.


"Alhamdulillah, Nay dah merasa lebih okay, Mak. Tadi mungkin karena belum sarapan saja." Naya mengulas senyum manis dari balik niqabnya.


"Nih, Mak dah buatpun gulai ikan permintaan Puan", ujarnya seraya memperlihatkan sebuah cawan besar dengan ikan gulai yang tampak menggugah selera.


Naya membulatkan matanya sambil membungkukan tubuhnya sambil mengipas-ngipaskan tangannya dia atas wadah berisi ikan gulai itu, berusaha membaui aromanya.


Wangi rempah dan bumbu yang telah berpadu dengan santan kelapa langsung menguar dan hinggap di indra penciumannya. Benar-benar menu yang sangat menggugah selera.


Mak Midah tersenyum melihat kelakuan sang puan majikan. Namun ada satu yang menarik perhatian perempuan tua itu.


Dari gerak dan tingkah Naya, mak Midah yang sudah hampir tujuh tahunan membersamainya di rantau orang, dapat membaca suasana hati gadis muda tersebut.


Binar dan pendar bahagia membias jelas dari mata bening gadis berusia dua puluh tiga tahun itu.


Kembali mak Midah tersenyum kecil sambil menatap lekat gadis cantik di depannya.


Meski tidak tahu pasti apa yang telah terjadi dengan Naya namun mak Midah yakin anak lelaki Puan Sri Latifah, Kei Hasan adalah salah satu sumber kebahagiaan sang puan.


Naya menegakan kembali tubuhnya dan mendapati mak Midah masih menatapnya lekat dalam diam.


"Mak...? Mak kenapa lihat Nay macam tu?" Naya menautkan alisnya.


"Tak. Mak hanya seronok tengok puan yang macam nih. Lebih comel, lebih ceria". Mak Midah berbicara dengan wajah tak kalah ceria. Senyum menghiasi seluruh permukaan wajah tuanya.


"Maaaakķk..." Naya memalingkan muka untuk menyembunyikan wajah jengahnya.


Meski tertutup niqab namun gadis itu yakin perempuan tua yang sudah dianggapnya keluarga sendiri tersebut pasti dapat menangkap wajah merah meronanya.


"Alhamadulillah, mak ikut gembira. Semoga kegembiraan ini sentiasa mengiringi puan Naya dan tuan Kei. Semoga bahagia ini berterusan," lirihnya tulus.


"Aamiin ya Rabb. Nay hanya mengharapkan doa dari Mak selalu. Mohon jangan pernah berhenti mendo'akan Nay, yak Mak?" Naya mengenggam tangan keriput, dimakan usia milik mak Midah. Membawanya ke kening kemudian menciumnya takzim.


Mak Midah tergugu dalam haru. Inilah yang senantiasa membuat perempuan tua kepercayaan Puan Sri Latifah itu selalu merasa beruntung memiliki majikan seperti Naya.

__ADS_1


Sikap low profile sang puan majikan tidak pernah menempatkan mak Midah sebagai orang gajian, namun lebih menganggapnya seperti keluarga sendiri.


"Mak berharap sentiasa melihat Puan dilingkupi kebahagiaan di sisa umur Mak yang mungkin tak lama lagi ..."


"Eits, mak cakap apa nih? Takkan lah melow yellow sangat. Nay tak suka kalau mak cakap macam tu!" Naya langsung menutupkan telapak tangannya di mulut mak Midah agar perempuan tua yang disayanginya itu tidak meneruskan kalimatnya.


"Dah, ah. Nay berangkat dulu ya. Abang Kei minta Nay untuk datang kat apartemen dia".


"Apartemen yang Teluk Kemang kat Port Dickson tu? Jauh tu Puan?" Mak Midah sedikit menyipitkan matanya.


"Sorang je, ke? Tuan Kei tak nak jemput?" Terlihat kekhawatiran terselip di nada kalimat mak Midah.


"Tak. Takkan lah Nay pegi sorang-sorang, Mak. Bang Andrian cakap, bang Kei dah minta bang Putra buat jemput Nay." Naya berusaha mengurai kecemasan perempuan tua di depannya.


"Maksud, Puan?" Mak Midah semakin mengernyitkan keningnya. Banyak nama yang disebutkan Naya barusan sedikit banyak agak menggelitik rasa penasarannya.


Sebagai orang gajian di keluarga Tan Sri Abdul Hamid dan Puan Sri Latifah sejak berpuluh tahun silam, tentu saja mak Midah mengenali dua nama yang barusan disebutkan Naya.


Namun firasatnya sebagai seorang yang sudah tua berkata lain. Ada sesuatu yang janggal, tapi apa? Ah, entahlah.


"Puan yakin nak pegi? Tak nak call Tuan Kei dulu ke?" Mak Midah masih menyiratkan kecemasannya.


"Insyaa Allah, tak apa. Nay sudah cuba call Abang Kei, tapi tak angkat. Mungkin sedang sibuk kut. Tadi dia cakap nak bertemu teman lama untuk urusan bisnis. Jadi abang tu tengah sibuk lah tu" terang Naya untuk menghilangkan kekhawatiran mak Midah.


"Tapi...? Ah, Puan tak nak cuba gulai ikannya dulu?" Mak Midah masih berusaha menahan Naya dengan menawarinya untuk makan dulu.


"Tak. Nay nak makan nanti bersama dengan Abang sahaja. Mak tak apa, kan?" Naya takut bila penolakannya akan membuat mak Midah berkecil hati.


Naya dengan perasaan yang sedikit merasa bersalah, pun menyeret langkahnya, menyusul mak Midah yang sudah duluan di depannya.


Kedua perempuan berbeda generasi itu sampai di teras depan rumah bersaman dengan masuknya sebuah Toyota Alphard SC ke halaman rumah Naya.


Setelah berhenti, seorang lelaki berbadan tegap turun dan bejalan menghampiri mereka.


Adalah Pùtra, sepupu Kei yang sekaligus bekerja sebagai asisten Puan Sri Latifah yang menjemput Naya.


Lelaki yang berambut cepak khas angkatan itu tersenyum dan membungkukan sedikit badannya saat sudah berada di hadapan Naya.


"Assalamualaikum Puan, Mak. Saya diminta Tuan Kei untuk menjemput Puan." Putra menyapa keduanya sembari memberitahukan maksud kedatangannya.


"Wa'alaikumussalam. Iya. Saya sudah diberitahu Bang Kei. Terimakasih bang Putra sudah berkenan menjemput." Naya menjawab salam Putra juga dengan sedikit membungkukan tubuhnya tanda penghormatan terhadap lelaki yang berusia sepantaran dengan sang suami.


Kemudian menantu kesayangan Puan Sri Latifah itu menoleh ke arah mak Midah yang berada di sampingnya.


"Mak, Nay pergi dulu. Mak hati-hati kat rumah, ya? Mhm... Gulai ikannya nanti Nay cuba bersama Abang Kei saat makan malam. Mhm... Dah tak sabar Nay..."


"Dah tak sabar nak makan ikan gulai ke atau tak sabar nak jumpa Tuan Kei". Berbisik, Mak Midah sengaja menggoda sang puan majikan.


"Maaakkk...?!" Naya membolakan matanya utuh. Tangannya sontak mencubit ringan lengan mak Midah dengan muka yang langsung merona. Aish ... Nampak sangat kah?

__ADS_1


Menghilangkan jengahnya, Naya langsung meraih tangan mak Midah dan menempelkannya ke kening.


"Dah, Nay berangkat, ya Mak?"


"Iya. Puan hati-hati. Jaga diri". Mak Midah melepas sang puan majikan dengan perasaan yang entah.


Perempuan tua itu tetap berdiri di teras hingga mobil yang dikendarai Putra menghilang dari pandangan.


Meski yang membawa Naya adalah Putra, orang kepercayaan Puan Sri Latifah, nanun entah mengapa tetap saja terselip kekhawatiran di hati perempuan tua itu.


Bagi mak Midah, Naya bukan hanya seorang yang dihormati karena majikannya, namun juga disayanginya seperti anak sendiri.


... *****...


Sementara itu di atas mobil yang dilajukan Putra dengan kecepatan sedang, Naya lebih banyak diam sambil memperhatikan sekitarnya.


Hanya beberapa pertanyaan basa basi Putra yang juga dijawab Naya seadanya. Selebihnya lebih banyak keheningan yang tercipta.


Untuk mengurai rasa jenuh yang mulai hadir, Naya mengeluarkan sebuah mushaf kecil dari dalam tasnya.


Sebuah al Qur'an kecil yang merupakan salah satu dari seperangkat mahar yang diserahkan Kei sesaat setelah lafas akad nikah lima tahun silam.


Mengingat itu, sebuah senyum tipis hadir menghiasi bibir mungil gadis cantik bermata jeli tersebut.


Tanpa sadar jemarinya mengusap lembut mushaf kecil itu dan mendekatkannya ke dada sebelah kiri. Ada debar yang membuncah di sana.


Aish, memeluk pemberiannya saja sudah sebahagia ini? Apatah lagi dapat memeluk sang pemberinya? Eh?


Naya mengetuk kecil keningnya beberapa kali. Berusaha mengusir pikirannya yang mulai liar berkelana. Aish, ketularan Bang Kei, nih!


Kembali Naya mengetuk kecil keningnya. Kali ini tanpa sadar dengan mushaf pemberian sang suami.


Ah, mungkin dengan tilawah Qur'an dapat memperbaiki kembali kepalanya yang sedikit error.


Naya mulai membaca baris demi baris tulusan berbahasa Arab di hadapannya dengan suara lirih, nyaris tak terdengar.


Sesekali gadis cantik itu menjeda bacaannya. Matanya berbinar penuh cahaya saat pandangannya sudah menangkap birunya laut di kejauhan. Mereka sudah memasuki kota pantai Port Dickson.


Naya segera menutup mushaf di tangannya saat tetiba gadis itu merasakan sedikit oleng.


Putra yang sedang berada di belakang kemudi terpaksa membanting stirnya ke kiri saat sebuah Toyota Land Cruiser hitam metalic memotong laju kendaraan mereka.


Naya terkesiap. Tubuhnya tidak siap menerima kejutan itu. Gadis itu merasakan kepalanya sudah berbenturan dengan kursi penumpang depan, di samping Putra.


..._________*****_________ ...


To be continued.


Maaf ya, baru bisa up sekarang. Sambil menunggu up berikutnya, yuk mampir dulu di karya temanku.

__ADS_1



__ADS_2