
Naya perlahan mengangkat kepalanya, sedikit menengadah untuk dapat melihat dengan jelas wajah lelaki di hadapannya.
Tatapan mata yang biasanya tajam menghunjam, kini terlihat lebih menyorotkan pendar teduh.
Satu detik ... Dua detik ... Tiga detik ... Entah di detik yang ke berapa, Naya mengalihkan pandangannya, menatap ke sembarang arah. Tak sanggup beradu pandang lebih lama lagi.
Sedangkan sang pemilik sepasang mata itu tetap menatap lekat gadis di depannya. Tanpa kedip, ia masih berusaha meyakinkan Naya.
"Maafkan Abang karena telah menyeret Nay dalam perseteruan di keluarga Abang. Maaf, karena Abang terlalu pengecut untuk mengakui bila Abang sayangkan Nay sejak dulu-dulu lagi." Kei berhenti sejenak, menatap sang istri di depannya.
"Abang terlalu bodoh, dengan menyiakan banyak masa selama, nih. Lima tahun Abang lukakan Nay. Maafkan Abang." Kei membuang tatapannya jauh."
"Abang sudah menceritakan semuanya. Sekarang semuanya terpulang kepada Nay." Kei menghela nafas panjang dan menghembuskan perlahan.
Lepas sudah gunungan beban yang selama ini menghimpitnya.
Bertahun ia memendam semua gelombang rasa. Terasing dalam benteng kukuh keangkuhan yang didirikannya, seorang diri.
Dan hari ini, benteng keangkuhan itu telah rubuh menimpanya. Kei sempat merasa kalah, namun tak apa. Bila kalahnya untuk meraih cinta gadis di depannya, ia rela.
"Nay?" Kei menyentuh lembut lengan Naya. Gadis itu bergeming. Mukanya masih berpaling.
"Sayang ... Sayang berhak untuk tidak percaya cerita Abang. Sebagaimana sayang juga berhak untuk benci kan Abang, belum bisa maafkan Abang atas apa yang telah berlaku." Kei mendekatkan tubuhnya pada Naya, menyentuh dagu lancip di wajah mungil itu.
"Tak apa, sayang benci kan Abang, tak percaya cerita Abang, belum bisa memaafkan Abang. Tak apa! Tapi Abang mohon ... Abang mohon dengan sangat, tolong sayang percaya dengan rasa yang Abang punya untuk sayang. I love you from the bottom of my soul."
Dengan gerakan perlahan, Kei merangkum pipi mungil sang istri, membawa muka itu untuk kembali menghadapnya.
Kei tercekat. Pipi mungil berisi itu telah dipenuhi buliran bening yang mengkristal saat ditimpa cahaya matahari pagi.
"Sayang, please ... Bila sayang benci kan Abang, belum bisa memaafkan Abang, okay tak apa. Seperti yang Abang pernah katakan, Abang akan tunggu, sampai bila-bila masa pun, Abang akan tetap tunggu, sayang. But, please ... Don't cry ... Tolong jangan menangis lagi. Please ...?" Ibu jari Kei mengusap lembut pipi yang menghangat karena buliran-buliran bening itu.
Membawa tubuh mungil itu ke pelukannya. Kei mendekap erat seraya satu tangannya mengusap punggung gadisnya.
"I hate you! Nay benci kan Abang!" Really ... Really hate you!" Naya memukul-mukul dada Kei.
"Iya, Abang tahu."
" I hate you with all my heart!" Naya masih memukul dengan segenap daya yang dimilikinya.
"Iya, Abang terima."
__ADS_1
"Nay benci! Be ... e ... n...n ... Ci!" Naya masih berusaha bersuara dalam sedu sedannya.
"Iya. Iya. Abang tahu, Abang terima. Nay benci kan Abang. Amat sangat ben...ci!" Kei tersenyum samar sambil tangannya terus mengusap lembut punggung gadis di pelukannya.
...*****...
Naya berusaha melelapkan diri dengan memejamkan mata. Setengah jam yang lalu mereka baru saja meninggalkan villa setelah pamit dengan tek Nun dan pak etek Yan.
Menyandarkan tubuhnya sempurna pada sandaran kursi mobil, Naya berharap bisa melepaskan beban yang agak menghimpit dadanya.
Sedikit banyak, pembicaraan jarak jauhnya dengan Puan Sri Latifah, sang mama mertua satu jam yang lalu agak mengusik hatinya.
"Mama hanya ingin meyakinkan Nay, bahwa apapun yang terjadi, Nay akan tetap menjadi anak menantu Mama. Tak kesah apapun cabaran yang menimpa."
"Mama minta Nay bersabar sedikit sahaja lagi, ya?"
"Satu lagi, tetaplah bersama si baby gergasi tu, Mama yakin dia akan banyak membutuhkan bantuan Nay sekarang!"
Naya membuka matanya, seraya sekilas Naya menoleh lelaki berahang kukuh itu. Ada apa sebenarnya? Kenapa Mama bicara macam tu?
Kembali memandang Kei, Naya mengerjap-ngerjapkan matanya dengan kening sedikit berkerut. Baby gergasi satu nih juga kenapa?
"Nih, Mama."
Mama?
Biasanya di hadapan Naya, Kei menyebut sang mama dengan "Puan Sri", "Mertua Nay". Tapi hari ini? Sepertinya jernih dan bening air Danau Maninjau membias dan memantul juga ke hati si baby gergasi.
Naya tersenyum samar dari balik niqab berwarna toscanya. Alhamdulillah, batinnya. Masih dengan senyumnya, Nay kembali menatap sekilas Kei yang masih fokus dengan jalanan di depannya.
"Jangan liat-liat terus, ntar Nay tambah 'benci' dengan Abang." Kei tersenyum tipis saat menekankan kata 'benci'.
Naya langsung membuang pandangannya saat mendengar kalimat Kei, yang baginya lebih seperti sebuah sindiran. Maksudnya apa, coba?
Mengalihkan perhatiannya pada pemandangan di sisi kirinya. Hamparan daerah persawahan yang luas, dengan padi yang mulai menguning.
Kei tersenyum tipis. Tangannya terulur, menyentuh kepala tertutup hijab itu sambil mengusapnya lembut.
Beberapa saat hening melanda keduanya. Naya mulai kembali memejamkan mata. Sesekali menguap kecil.
Kei yang melihat itu segera menepikan kendaraannya. Mendekat ke kursi yang diduduki sang istri, Kei memajukan tubuhnya. Berhenti tepat di depan Naya, Kei mengulurkan tangannya.
__ADS_1
Naya terkesiap, matanya langsung membuka saat menghirup aroma mint yang begitu dekat dengannya.
Tubuhnya sedikit menegang saat merasakan kedekatan yang intim dengan Kei. Menahan nafas, Naya kembali memejamkan matanya.
"Abang turunkan tuasnya, ya? Biar sayang nyaman tidurnya. Nanti bila waktu sholat dah masuk, Abang akan bangunkan." Kei tersenyum seraya mencuri sebuah kecupan di pipi kiri Naya.
...*****...
Seremban - Negeri Sembilan, Malaysia.
"Is it seriously, Mama?!" Afifah menyipitkan matanya. Laporan dari orang lapangan sang mama membuatnya sedikit terkejut.
"But, why?! Mama pernah cakap, dia yang ditugaskan Kei untuk 'menjaga' Naya selama lima tahun, nih?"
"Entahlah, apapun bisa terjadi, sayang. Kadang cinta bisa menggelapkan mata." Puan Sri mengangkat bahu sambil berucap pelan.
"What?! What do you mean, Mama?" Naya mengkerutkan keningnya.
"Maksud Mama, dia cintakan Naya?! But, how come? Bagaimana bisa?!"
"How come? Maksud kamu?" Puan Sri yang gantian menautkan alisnya.
"Iya, maksudnya, Fah kenal sangat dengan dia selama, nih... Professional, loyal and dedicated one! So, it seems impossible ... But, seperti yang Mama cakap, bila dah cinta, apapun bisa jadi, kan?"
"Well, let's see ... Kita lihat dulu, sejauh mana dia ikut 'menari' dalam gendang yang dimainkan 'perempuan rubah', tuh!"
"Atau, si perempuan tuh yang sebenarnya terjebak dalam permainan sepupu Fah tuh, kan? Who knows?!" Afifah berjalan hilir mudik. Satu tangannya berada di belakang punggung, sementara telunjuk tangan yang lainnya mengetuk-ngetuk hidung mancungnya.
Puan Sri Latifah tersenyum samar. Analisa yang cukup tajam dari seorang Afifah Abdul Hamid.
Tim lapangan Puan Sri memang belum menemukan 'jejak kaki' sang keponakan dalam case penculikan Naya beberapa hari yang lalu. Namun insting perempuan yang masih terlihat cantik di usianya yang sudah paruh baya itu, menyatakan keterlibatan tak langsung orang kepercayaan Kei tersebut.
Puan Sri mengernyitkan dahinya saat melihat pesan masuk di gawainya.
Kei?! Tak salah ke, nih?
...________*****________...
To be continued
Silah tinggalkan jejak ya...
__ADS_1