
"You yakin mereka masih kat sana? Belum pergi?"
"Yakin, Puan Sri. Saya yakin sangat! Mereka masih berada di dalam apartemen, tu."
"Sudah berapa lama mereka ada kat sana?"
"Tadi mereka sampai kat sini pukul 10.10 a.m, Puan. Sekarang dah pukul 02.15 p.m, berarti sudah sekitar empat jam, Puan".
"Dah empat jam? Dan sama sekali belum ada pergerakan dari mereka?"
"Betul, Puan Sri".
"Okay, korang tetap awasi mereka berdua, terutama Tuan Muda Kei. Laporkan setiap ada hal baru. Tapi ingat, jangan sampai buat mereka curiga, apalagi mengetahui keberadaan kamu!"
"Siap, Puan Sri."
"Kamu sedang bercakap dengan siapa tu, Tifah?"
"Eh, Mak? Bukan sesiapa, Mak. Kawan je. Mak dah lama kat sini?"
"Tak. Belum. Mak tercar-cari kamu sedari tadi. Tak nampak-nampak, pun. Kemane je?"
"Tak de mane-mane lah, Mak. Kat sini je, pun". Puan Sri Latifah menghela nafas panjang, sesekali ia melihat benda keluaran Cartier di pergelangan tangannya.
"Kenape lagi? Masih terpikie Kei dan Naya lah, nih? Tifah ... Tifah ... Dah berapa kali Mak cakap dari tadi?"
"Mak ...? Tifah takut je ... Kei tu buat macam-macam kat Nay ... Mak tahu kan, macam mane si Kei, tu?"
"Macam-macam apa pulak, nih? Tifah, Naya tu bukan budak kecik lagi. Dia dah boleh jaga diri dia sendiri. Dan satu lagi, mereka itu pasangan suami istri, jadi dah halal nak pegi berdua kemana sahaja ..."
"Tapi Mak ..."
"Dah lah tu ... Mak nak jumpa Hamidah kejap." Nek Sya berlalu meninggalkan Puan Sri Latifah.
...***...
Apartement Kei
Naya mengerjapkan matanya beberapa kali, berusaha mengumpulkan kembali nyawanya yang belum utuh.
Ini dimana? Naya melebarkan pandangan matanya. Matanya berusaha mengenali suasana di sekitarnya. Matanya bertemu dengan foto berfigura di depannya.
Bang Kei? Naya berusaha menggeliatkan tubuhnya, tatkala merasa sesuatu yang berat menimpanya. Matanya membeliak kaget tatkala melihat tangan dan kaki besar melingkar di pinggang dan kakinya.
Naya berusaha melepaskan diri dari pelukan, yang iya yakin itu Kei.
Namun bukannya lepas, pelukan Kei malah semakin menguat di tubuhnya.
Hhmm ...Dia pasti udah bangun, nih. Modus aja!!
Naya memutar bola matanya, malas.
__ADS_1
"Engap, ih. Lepasin ... Nay tahu, Abang dah bangun! Jangan modus, deh!" Naya mendengus kesal.
Kei yang memang sudah bangun dari tadi, bahkan jauh sebelum Naya terbangun, tersenyum mendengar omelan Naya.
"Apaan sih, kamu ... Bangun tidur langsung ngomel. Kalo bangun tidur itu harusnya baca do'a dulu, bukannya ngomel ..." Ujar Kei sambil memencet gemas hidung Naya.
"Hei ... Nuduh! Aku baca do'a, ya. Kan ngga harus didengar Bang Kei. Cukup yang tahu Aku dan Tuhan-ku." Ucap Naya bertambah kesal.
"Hei, kamu tuh kenapa setiap bertemu Abang marah-marah terus? Masa dapetnya selalu saat bertemu Abang?"
"Dapet apaan?" Naya yang masih belum mengerti arah pembicaraan Kei mengerutkan keningnya.
Kei tidak menjawab. Hanya matanya yang berbicara dengan tatapan menggoda.
Naya membuang muka dengan mengerucutkan bibirnya.
Kei menggelengkan kepalanya masih dengan senyuman. Ia tidak tahan untuk tidak menggoda Naya. Tangannya kembali terulur untuk menyentuh gadis menggemaskan di depannya.
Kali ini bibir mungil Naya yang menjadi sasarannya. Kei menyentuh lembut bibir berwarna pink yang selalu terlihat basah itu dengan ujung jarinya.
Naya tersentak kaget. Tubuhnya kembali kaku saat ujung telunjuk Kei hinggap di bibir nya. Reflek ia mendorong tubuh Kei.
"Isshh ... Apaan, sih ... " Naya mendelikan matanya sambil beringsut menjauh.
"Kenapa lagi?" Kei turut bergerak mengikuti Naya.
"Iisshh... Udah ah, stop!" Naya menjerit kesal.
"Ngaa usah dekat-dekat kek gitu! Gerah!"
"Aha ... ha ... ha ... Gerah apa gerah??? Tapi kayaknya ... Kamu memang harus sering-sering disentuh, deh. Biar ngga kakuan, gitu ..." Kei masih dengan senyumnya yang terlihat amat sangat menyebalkan di mata Naya.
Naya mencebik kesal mendengar kalimat Kei. Matanya membola, malas. Ia bangkit dari tempat tidur sambil merapikan jilbabnya yang kusut karena tertidur tadi.
"Nay mo pulang sekarang, kalo Bang Kei ngga bisa antar, Nay bisa naik taxi. Takutnya Mama dan Nenek cemas. Nay juga kelupaan bawa charger. Ponsel Nay mati sejak di mesjid tadi".
"Iya, Abang juga mo pulang ini. Tapi mandi dulu, yuk ... Tadi katanya gerah, kan?"
Mandi?? Naya kembali membelalakan matanya. Kei yang menyadari itu, menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ish ... Kamu tuh, kebanyakan buruk sangkanya sama Abang Emangnya kalo mandi kenapa? Mau barengan? Hayukk ..." Kei kembali dengan aksi menggodanya. Ia menaik-turunkan alis hitamnya.
Naya diam tidak merespon Kei. Ia hanya berdiri sambil menghentakan kakinya. Ia harus segera ke kamar mandi untuk berwudhu. Waktu sholat Dzuhur sudah hampir habis. Melanjutkan pembicaraan dengan Kei hanya akan membuatnya semakin kesal.
Kei yang melihat itu hanya tersenyum sambil meraih gawainya yang terletak di atas meja kecil di sisi tempat tidur. Kemudian terdengar pembicaraanya dengan seseorang.
Kei baru saja mengakhiri panggilannya saat terdengar langkah Naya yang mendekat.
Tanpa suara lelaki yang selalu tampil cool saat berada diluaran itu, berjalan menuju sebuah lemari besar di sudut kamar. Ia terlihat mengambil sesuatu dan memberikannya kepada Naya.
Naya mengamati benda yang baru saja diserahkan Kei.
__ADS_1
"Jangan khawatir. Masih baru, belum pernah dipake," ujarnya sambil berlalu menuju kamar mandi.
Naya membuka benda tersebut yang ternyata sebuah mukena. Naya mendekatkan mukena tersebut ke hidungnya. Mhm ... Wangi, seperti habis dari laundry. Katanya belum pernah dipake? Kalau dari laundry, berarti 'kan sudah dipake, kotor, trus dicuci. Dasar tukan ngeles! Pikirnya.
Namun tak urung, Naya tetap memakai mukena tersebut. Setelah selesai melaksanakan sholat, Naya keluar dari kamar. Sudah hampir pukul setengah tiga, ia mulai merasa lapar. Naya bergerak menuju pantry, berharap bisa bertemu sesuatu yang bisa dimasaknya.
Saat tidak mendapati apapun, akhirnya Naya kembali ke kamar dan mendapati Kei yang sedang melaksanakan sholat.
Naya mendekati balcony, berdiri di sana sambil memandangi pemandangan di depannya. Pantai masih sepi karena cuaca yang masih sedikit panas. Hanya beberapa orang yang yang terlihat berjalan menyusuri tepian pantai berpasir putih.
Naya melayangkan pandangannya. Terlihat biru laut bertemu cahaya matahari yang menghadirkan pendar berkilauan seperti permata. Indah, namun sedikit menyilaukan mata.
"Mhm ... Kayaknya kalo agak sorean pasti lebih indah, nih ... Melepas matahari menuju peraduannya, dengan langit jingga yang merona". Naya membatin dengan senyum yang menghiasi wajah rosynya, putih merona.
Naya masih menikmati keindahan Saujana Beach dihadapannya, saat ia merasakan sepasang lengan kokoh melingkari pinggang dan menempel lembut di perut ratanya. Kei!
"Cantik, kan? Namun tidak melebihi cantiknya kamu". Kei tersenyum sendiri dengan gombalan recehnya.
Entahlah, ia selalu saja seperti remaja yang baru mengenal cinta, bila berada di depan seorang Kanaya Khairunnisa.
Seorang gadis yang belum genap berusia delapan belas tahun saat dinikahinya.
Seorang gadis yang dinikahi Kei demi membalaskan sakit hatinya pada Tan Sri Abdul Hamid dan Puan Sri Latifah!
Seorang gadis, teman masa kecil mereka yang merupakan tunangan dari Ken Husain, adik Kei sendiri. Padahal saat menikahi Naya, Kei sudah memiliki Nadia, wanitanya yang telah membersamainya melewati masa-masa kelamnya.
Kei masih ingat, betapa sulit meyakinkan Nadia saat ia memutuskan untuk memenuhi permintaan Nek Sya sekaligus permintaan terakhir Ken, di detik-detik terakhir hidupnya.
Kei meyakinkan Nadia bahwa tiada cinta diantara Kei dan Naya. Ini hanyalah sebuah permainan bagi seorang Kei Hasan untuk mendapatkan little attention dari orang tuanya.
Beberapa tahun berlalu, namun Kei mulai ragu sekarang!
"Aauuggh!" Kei terjengkit kaget saat cubitan kecil Naya bersarang di lengannya yang sedang melingkar di pinggang gadis itu.
Namun bukannya melepaskan, Kei malah semakin mengeratkan pelukannya.
"Please ... Abang ingin seperti ini, sebentar saja ... Jangan marah", ujar Kei dengan suara yang hampir tak terdengar.
Kemudian Kei menyandarkan kepalanya di bahu Naya seraya memejamkan mata. Menikmati sensasi manis di sudut hatinya.
Naya yang mendengar kalimat rendah Kei terdiam tak berkata. Ia yakin pertengkaran Kei dengan Mama dan Papanya semalam pasti menganggu fisik dan psikisnya.
Ya Rabb... Tolong tunjuki hamba ... Apa yang harus hamba lakukan? Bertahan atau melepaskan, sama-sama akan melukakan.
...***...
To be continued
Aduh, Nay ... Kok kayak makan buah simalakama, sih ...?
Buat readers semua ... Terimakasih telah berkenan untuk membaca. Jangan lupa kasih like, vote and comnent, ya ...
__ADS_1