
"Isshhh ... Dari kemaren dokter Dinda terus yang jadi sumber referensi, yang laen kenapa? Ada google, ada youtube, kenapa harus dia terus, sih?!" Naya memberengut dengan mata yang masih memejam.
Kei terkesiap. Menatap lurus wajah imut di depannya, Kei mengibas-ngibaskan tangannya tepat di depan mata Naya yang masih terpejam rapat. Berharap gadis itu akan terganggu dan mau membuka matanya.
Namun ternyata gadis itu tak memberikan reaksi seperti yang diharapkan Kei. Naya kembali tidur dengan dengkuran halusnya.
Kei menggelengkan kepala sambil merem-as kuat rambutnya. Tadi bahagia sempat menangkupi jiwa, karena menyangka sang juwita sedang cemburu padanya. Bila cemburu berarti sudah cinta, kan?
Apalagi melihat bibir mungilnya yang memberengut dengan maju beberapa centi. Terlihat begitu menggemaskan di mata Kei. Hal yang memang sering ditampakan Naya dalam kebersamaan mereka beberapa hari ini.
"Hei, kamu udah bangun apa masih tidur, sih?!" Kembali Kei menepuk lembut pipi sang istri setengah gemas.
"Mhmmm ... Mama, I miss you, too"
"Really, really miss you."
"Entah! Nay pun tak tahu, kemana lah agaknya baby gergasi Mama, nih nak bawa Nay!"
Kei membulatkan matanya mendengar kalimat demi kalimat yang keluar dari bibir mungil itu.
Baby gergasi!
Baby gergasi tu, Aku?!
Haishh ... Angsa kecik nih ternyata suka mengatai-ngatai aku bila bersama mertuanya?!
Kei semakin merasa gemas. Sekarang tangannya terulur menyentuh ujung hidung sang istri, seraya menjepitnya lembut.
"Hei, bangun angsa kecik. Kamu mau dimangsa gergasi?!" Kei masih belum melepas tangannya dari ujung hidung Naya.
Sekarang ia malah sengaja menarik-narik kecil button nose yang sudah mulai berwarna kemerahan.
Naya mulai terusik. Tangannya berusaha menjangkau tangan Kei yang masih bertengger di hidung mungilnya.
Namun bukan Kei namanya bila ia tidak bisa mengambil interests, keuntungan, sebanyak-banyaknya dari gadis di hadapannya.
Tanpa melepaskan jepitannya di hidung sang istri, satu tangan besar Kei yang lainnya sudah menangkap tangan Naya yang masih berusaha membebaskan hidungnya dari Kei.
Kemudian, dengan gerakan cepatnya Kei mendekatkan wajahnya pada Naya, melepaskan jepitan tangannya seraya menyentuhkan bibir pada button nose milik Naya.
Lelaki tampan itu tak berhenti sampai di situ. Perasaan gemasnya menuntun Kei berbuat lebih. Sebuah gigitan gemas ia labuhkan di puncak button nose sang suri hati.
"Auucchh!"
Naya terjengkit kaget. Menggeliatkan tubuh dengan merentang lebar kedua tangannya, gadis itu perlahan meraba hidungnya yang terasa sedikit sakit.
Keningnya berkerut dengan dua alis yang saling bertautan.
Mimpi? Tapi kenapa serasa begitu nyata?
__ADS_1
Dikejar makhluk besar, Naya yang kelelahan akhirnya menyerah. Merelakan diri ditangkap sang raksasa yang kemudian mengkepit tubuh mungilnya.
Namun yang lebih mengerikan adalah saat raksasa itu menangkap kedua tangan Naya dengan satu tangan besarnya, menjepit dan kemudian menggigit puncak hidungnya.
Naya tergidik ngeri, seakan ia masih berada di mimpi itu.
Tanpa sadar, gadis itu kembali meraba, mengelus hidungnya berulang kali.
Memutar kepalanya, Naya menatap Kei yang masih terlelap pulas dengan dengkuran halusnya.
Kemudian pandangannya beralih pada jam dinding di atas jendela. Pukul 04.55 WIB. Sebentar lagi Subuh.
Kembali memutar kepalanya membentuk sudut 90 derajat, Naya mengulurkan tangannya. Menguncang pelan bahu lebar Kei.
"Abang ... Abang, bangun. Dah nak Subuh, nih. Yuk, Abang nak jama'ah kat surau, kan?" Naya masih menguncang pelan bahu Kei.
Kei menggeliatkan tubuhnya sambil mengucek mata. Ujung matanya melirik Naya. Sebuah senyum tipis nan samar terbit di bibirnya.
"Sayang, dah bangun, ya? Pukul berapa, nih?" Kei merentangkan tangannya.
"Sebentar lagi pukul lima, dah nak Subuh."
"What?! Really?" Kei segera bangun dari posisi berbaringnya, duduk sebentar, kemudian bangkit menuju kamar mandi.
Mata hitamnya masih sempat melirik sang istri yang sedang mengelus puncak hidungnya. Kembali Kei tersenyum, kali ini sedikit lebih lebar.
Kei menautkan kedua alisnya saat membaca beberapa pesan masuk dari nomor tak dikenalnya.
Ia dan Naya baru saja selesai mandi, setelah mereka berolah raga pagi dengan berlari di jalan setapak sekitar villa.
Hasil screen shoot dari berbagai media online dengan headlines yang cukup tendensius.
"Rumah Tangga Nadia Jefferson - Kei Hasan di Ambang Perpisahan?"
"Isu orang Ketiga di Balik Retaknya Rumah Tangga Nadia Jefferson - Kei Hasan"
"Siapakah NY, Orang Ketiga Dibalik Retaknya Mahligai Rumah Tangga Kei Hasan dan Nadia Jefferson?"
Headlines berita gosip itu juga menampilkan beberapa foto Kei dan Nadia dalam berbagai kesempatan.
S-hiitt! Dam-m it!
Siapa yang telah menabuh genderang perang dengannya?!
Kei menghela nafas panjang, sedikit lega karena dari semua foto yang terdapat di sana, tidak ada satupun foto Naya yang muncul.
Jarinya bergerak cepat menyentuh nomor yang mengirim pesan tersebut, namun seperti yang sudah diduganya, nomor tersebut tidak lagi aktif.
Kei segera melakukan sebuah panggilan lain.
__ADS_1
"The number you are calling is not active or out of coverage area. Please try again in a few minutes!"
Kei mencengkram kuat gawai di tangannya.
Andrian ...!!! Jaga, kau!!!
Kei mengetatkan rahangnya. Giginya bertemu menimbulkan bunyi gemeletuk.
Lelaki gagah dengan mata hitam kelam itu mengepalkan jari-jarinya, membentuk tinjuan kuat. Terlihat buku-buku jarinya memutih kapas.
Masalah dengan Naya dan Puan Sri Latifah saja belum clear, kini datang lagi masalah yang harusnya bisa ditangani oleh seorang Andrian.
Kei kembali menghela nafas, lebih panjang dan menghembuskannya perlahan. Berusaha mengendurkan kembali otot-ototnya yang tadi sempat menegang.
Sudut matanya menangkap bayangan Naya yang sedang menuju ke arahnya. Mereka telah membuat rencana untuk melihat Danau Maninjau lebih dekat pagi ini.
"Sayang sudah siap? Wow! Cantiknya istri Abang, nih ... You always look more beautiful every single time I see you." Kei tersenyum, melangkah menyongsong langkah Naya.
"Nay sayang, kamu selalu saja terlihat lebih cantik setiap kali Abang pandang." Kei mengerlingkan matanya sedikit nakal.
Naya membolakan matanya sempurna, memutarnya malas kemudian membuang pandangannya ke sembarang arah.
Kei tersenyum. Berpura tidak melihat kekesalan sang istri. Ia memilih menghinggapkan tangannya di kepala sang suri hati kemudian mengecup puncak kepala itu lembut.
"Yuk, Abang mau membelikan Nay palai rinuak. Abang jamin kamu pasti langsung suka!" Kei menarik pelan tangan Naya.
Gadis itu mengernyitkan dahinya. Palai rinuak! Apaan lagi, tuh?
"Udah, pertanyaannya simpan dulu ya. Nanti aja pas di perjalanan, Abang jelaskan. Kita harus berangkat sekarang, selagi masih pagi. Sebentar lagi takutnya tambah panas. Yuk!" Kei mengamit lengan Naya.
Di halaman depan terlihat pak etek Yan, suami etek Nun. Pria separuh baya itu terlihat sedang memanaskan mesin sebuah motor besar. What?! Riding a motorcylce?
Naya mengalihkan pandangannya pada Kei yang juga sedang menatapnya sambil menganggukan kepalanya.
"Iya. Kita naik motor aja, biar simple." Kei kembali tersenyum, kali ini diiringi pandangan teduhnya.
Naya menilik tubuhnya, memandang pakaian yang dipakainya. Pantas saja tadi sang suami wanti-wanti memintanya untuk memakai celana panjang sebagai dalaman. Ternyata naik motornya sudah direncakan oleh Kei. Bibir Naya melengkung mencipta sebuah senyuman kecil. Entah kenapa hatinya sedikit menghangat.
Drrttt ... Ddrrrttt ... Drrrttt ...
Tiba-tiba gawai yang masih di tangan Kei bergetar panjang. Lelaki itu sedikit tercekat saat melihat nomor yang tertera di layar.
Ia memang tidak menyimpan dan memberi nama untuk menandai nomor tersebut, namun Kei tahu pasti siapa yang sedang meneleponnya sekarang.
...__________*****__________...
To be continued
Hai ... Hai ... KeiNaya dah datang nih, kasih like dan comment dong ... Biar authornya tambah semangat untuk update. Aku sedih loh, episode sebelumnya ngga ada yang comment ..😢
__ADS_1