
"Puan Sri, apakah messageku yang semalam masih belum jelas?! Jangan lagi mengikutiku dan Naya! Segera perintahkan orang-orangmu untuk menjauh, atau ... Aku yang akan menjauhkan Naya darimu, selamanya!" Suara dingin dan datar Kei terdengar penuh tekanan.
"Hei, budak! Kau jangan nak over confident sangat, ye! Aku hanya nak pastikan menantuku aman!" Terdengar nada kemarahan Puan Sri Latifah di seberang sana.
Kei menjauhkan telinga dari gawai di genggamannya. Masih terdengar lengkingan suara sang Mama menumpahkan segenap kekesalannya.
Kei memutar bola matanya sempurna, sementara tangannya masih menjauhkan gawai itu dari telinganya. Suara tinggi penuh amarah Puan Sri juga masih terdengar.
Naya yang berdiri beberapa meter dari sang suami masih menikmati pesona pemandangan di sekelilingnya.
Sayup suara yang amat dikenalinya, singgah di pendengaran gadis itu.
Naya segera mengalihkan pandangannya pada Kei sekarang.
Menatap lekat lelaki dewasa di hadapannya. Lelaki yang beberapa hari ini berhasil memporak porandakan hatinya.
Perlahan Naya mendekati Kei yang masih belum menyadari keberadaan sang istri yang sudah berada tepat di belakangnya.
"Nay nak bicara dengan Mama, please?" Suaranya hampir tak terdengar karena ditingkahi oleh deru kendaraan bermotor yang hilir mudik di jalanan dan juga suara keramaian manusia di sekitarnya.
Kei sedikit terkejut, namun ia dengan cepat dapat menguasai keadaan. Membalikan badannya, bersikap biasa seolah tidak terjadi apa-apa.
"Mau bicara dengan siapa?" Kei menatap gadis di depannya yang juga sedang memandangnya dengan pandangan tak terbaca.
"Itu Mama, kan? Nay nak bicara dengan Mama, please?" Naya kembali berbicara dengan nada lirih hampir tak terdengar.
Kei menghela nafas sambil menatap gadis di depannya beberapa saat. Di saat yang sama, Naya juga tengah menengadahkan kepalanya. Menatap lurus ke kedalaman mata Kei.
Pandangan keduanya bertemu dalam pendar yang berbeda.
Kei yang seakan berusaha meyakinkan sang istri bahwa bukan Puan Sri yang sedang berada di line telepon, dan Naya yang seakan sedang menekan Kei untuk membolehkannya berbicara dengan sang mertua.
Keduanya masih saling bertatapan, tanpa ada yang berniat untuk lebih dulu memutus pandangannya.
Kei tersenyum samar. Hari ini ia menemukan sisi lain seorang Kanaya Khairunnisa.
Kei tahu, gadis di depannya bukanlah Naya yang powerless, tidak berdaya. Ia bisa saja menolak untuk mengikuti Kei yang membawanya pergi ke negeri antah berantah yang belum pernah dijejakinya.
__ADS_1
Meski dengan segenap kekesalan yang terpendam, Naya tetap menuruti Kei.
Namun kali ini, gadis itu bergeming bila berkenaan dengan Puan Sri Latifah, sang mertua.
Dengan senyum yang masih samar, Kei belum menyadari bila ia telah terperosok jauh di kedalaman indah nan mempesona di hadapannya.
Tanpa Kei sadari sepenuhnya, gawai di genggamannya telah berpindah tangan. Ia sendiri yang menyerahkan gawai itu pada keindahan di depannya.
"Assalamualaikum, Mama. Ini Nay."
"Iya, Nay okay, Mama. You don't need to be worry."
"Nay sedang di fly over Kelok Sembilan."
"Iya. It's truly awesome, Mama. Cantik sangat! Nay ingin suatu saat kita bisa kesini bersama kak Ifah to enjoy this panorama."
"Ngg ... Sampai detik nih, masih belum tahu Mama. But I will let you know, soon. Insyaa Allah.
"Okay, bye Mama. Don't be so worry. Everything will be okay. Assalamualaikum."
Naya menutup panggilannya seraya menyerahkan kembali benda persegi empat itu kepada Kei.
Sementara Kei masih dengan kesadaran yang belum sepenuhnya utuh, ikut melangkah mengikuti sang istri.
Setelah memasuki mobil double cabin tersebut, Kei pun melajukan nya dengan perlahan. Hening tercipta. Masih belum ada pembicaraan di antara mereka.
Kei sesekali memandang ke arah sang istri. Namun Naya seperti sengaja mengabaikannya. Gadis itu lebih memilih menatap keluar jendela mobil di sebelah kirinya, seakan pemandangannya di sana lebih menarik perhatiannya.
Kei menghela nafas panjang dan kemudian menghembuskannya dengan sedikit kasar.
"Sayang, please don't be like this. Tolong jangan diamkan Abang macam, nih. Bila Abang salah, Abang minta maaf. Apologize me, please?" Terdengar suara memohon dari bibir Kei. Baginya didiamkan Naya ternyata lebih mengerikan dari pada disembur kata-kata buah kemarahan gadis itu.
Naya bergeming. Matanya belum beralih dari pemandangan di samping kirinya.
"Nay, sayang ... Please?" Key masih merayu untuk mengurai kemarahan menantu kesayangan Puan Sri Latifah itu.
"Okay, let me know ... What should I do to get your apology? Katakan, apa yang harus Abang lakukan untuk bisa mendapatkan maaf Nay? Abang akan lakukan apa saja. Trust me!" Kei mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya, untuk meyakinkan Naya.
__ADS_1
Masih bergeming, Naya memilih memejamkan matanya. Mulutnya tertutup rapat, tanpa berniat untuk merespon sang suami.
Sepertinya lelaki di sebelahnya itu memang perlu diajar bagaimana memuliakan seorang ibu.
Dalam diam Naya menghela nafas panjang, kemudian menghembuskannya perlahan.
Masih dengan mata yang terpejam rapat, Naya berusaha melelapkan diri. Mengurai letih dan penat jiwa, menghadapi lelaki di sampingnya.
Bila seorang perempuan mulia, sang mamanya saja, yang telah bertaruh nyawa untuk menghadirkannya ke dunia, sanggup ia lukai, apatah lagi seorang Naya yang belum tahu pasti kedudukannya di hati lelaki di sampingnya ini.
Lalu, siapalah Kanaya Khairunnisa? Hanya seorang gadis biasa yang 'terpaksa' mengikatkan dirinya dalam sebuah ikatan pernikahan karena permintaan terakhir sang tunangan.
Naya semakin terseret jauh ke dalam ketidakstabilan emosinya. Buliran bening perlahan meluncur dari sudut matanya yang masih terkatup rapat. Berusaha menahan guguannya, gadis itu berharap niqabnya bisa menyamarkan tangisnya.
Kembali Kei merasakan perih di sudut terdalam hatinya. Buliran bening di pipi chubby Naya yang membayang samar, baginya serasa sebuah gelombang besar yang menggulung kemudian menghempaskannya ke tepian pantai ketidakberdayaan.
Tangannya terulur untuk menyentuh pipi itu, namun kemudian ditariknya kembali, takut akan penolakan dari sang gadis.
...*****...
Naya menggeliatkan tubuh, mencoba mengurai kaku yang terasa membelenggu.
Perlahan matanya mengerjap, menyesuaikan diri dengan keadaan sekitarnya.
"Nay sudah bangun? Kita sudah hampir sampai."
Naya menoleh Kei yang masih melajukan mobil di sebelahnya.
Naya melayangkan pandangannya ke depan, terlihat di kejauhan hamparan biru yang menyejukan mata. Laut atau danau?
Naya menyipitkan matanya. Ini di mana lagi?
Tanpa kata, gadis itu kembali mengalihkan pandangannya pada lelaki di sampingnya. Meminta penjelasan lewat sorot matanya.
Kei tersenyum tipis. Matanya tetap lurus dan fokus pada jalanan di depannya, berpura tidak melihat selaksa pertanyaan dan penasaran di mata sang juwita di sampingnya.
Ckc! Naya berdecak kesal. Lelaki ini selalu saja semaunya. Tidak pernah merasa perlu memintai pendapatnya, seakan tindakannya selalu benar dan orang lain salah!
__ADS_1
..._________*****_________...
Memenuhi janji untuk double up ya... Jangan lupa tinggalkan jejak. Banyakin komen dong ... Lope sekebon duren deh..😀