Di Ujung Sayap Rindu

Di Ujung Sayap Rindu
Aku Tidak Terlalu Butuh


__ADS_3

Naya mengayunkan langkahnya menyusuri koridor kampus. Sesekali ia mengangguk kecil saat beberapa mahasiswa yang mengenalnya menyapa.


Pagi ini adalah hari terakhir jadwal Ujian Akhir Semester Genap.


Beberapa mahasiswa nampak masih ada yang sibuk berjibaku dengan buku-buku tebal di tangannya. Ada yang sedang berdiskusi dengan membuka dikta-diktat yang juga sama tebalnya.


Namun beberapa ada juga yang sesekali berteriak dengan temannya sambil jemarinya lincah bergerak menekan tombol-tombol di smartphone mereka. Online game!


Dari balik niqabnya Naya tersenyum kecil. Ia jadi ingat saat menjalani masa-masa menjadi a college student selama enam tahun.


Masa-masa yang penuh perjuangan. Apalagi saat harus menghadapi saat-saat menyedihkan harus kehilangan orang-orang tercinta. Ayah ... Bunda .. dan Bang ... Ken.


Naya menghela nafas panjang beberapa kali. Bayangan wajah ketiga orang terkasih tersebut silih berganti hadir menyapanya. Beberapa saat Naya memejamkan matanya. Ada yang perih saat buliran-buliran bening meluncur tanpa permisi.


"Assalamualaikum ukhti sholehah, kalo jalan jangan sambil melamun, nanti kesasar..." sebuah suara lembut keibuan menyadarkan Naya.


Astaghfirullahalazim. Naya mengangkat wajahnya.


"Wa'alaikumussalam, Bundo?!"


Naya langsung menyalami dan mencium takzim punggung tangan Bundo Nilam. Wanita paruh baya tersebut tersenyum sambil mengusap lembut punggung Naya.


"Bundo, pa kabar? Maaf, ya Naya ngga bisa hadir pas acara penutupan workshop waktu itu. Naya mengganti jadwal kuliah yang dimundurkan."


"Ya, ngga apa-apa. Bundo paham kesibukan bu dosen, bu designer. Eh, tapi Bundo beneran surprise loh, pas tahu kamu juga seorang designer. Apalagi pemilik dari La Cantique Boutique. Setahu Bundo, itu butik langganan kelas menengah ke atas, kan?"


"Ish, Bundo nih... Ya, engga lah. Kita terbuka untuk semua kalangan, kok. Kita tujukan release rancangan itu untuk semua orang yang suka."


"Wah, kalo gitu sesekali Bundo boleh dong kesana."


"Dengan senang hati, Bundo. Kita welcome. Kalo ndak laweh jo tapak tangan, jo nyiru kami tampuangkan. He..he..." Nilam tertawa kecil sambil menutup mulutnya.


"Wow! Keluar Minangnya. Kirain Bundo, karena lahir dan besar di rantau orang, kamu ngga tahu lagi petata petitih orang-orang tua kita dulu." Bundo Nilam memasang wajah kagumnya.


"Alhamdulillah. Indak lah, Bundo. Ayah dan Bunda kalo di rumah tetap pake bahasa Minang. Meski jauh di rantau orang, beliau berdua tetap mendidik Naya sebagai perempuan Minang", berkata begitu pandangan Naya melayang jauh. Kembali wajah Ayah dan Bunda seperti menari di pelupuk matanya.


Bundo Nilam yang menyadari kalau pembicaraan mereka telah mengingatkan Naya dengan kedua orang tuanya yang sudah meninggal, berusaha mengalihkan perhatian gadis tersebut.


"Oh, ya sekali lagi Bundo minta maaf, kalo karena kesibukan kita kemaren, ada jadwal ngajar yang kamu tinggalkan. Jadi mengganti yang itu, ya?"


"He..he..iya Bundo. Tapi bukan meninggalkan jadwal mengajar, Naya hanya memundurkan jadwalnya. Lagian sudah dengan persetujuan mahasiswa, kok."


"Alhamdulillah. Syukurlah." Bundo Nilam tersenyum.


"Btw, Bundo ada acara apa di sini?"


"Ngga. Ini si Najma tugas makalahnya ketinggalan. Padahal syarat untuk bisa ikut ujian matakuliah itu harus ngumpulin makalah ini".


"Ujiannya pukul berapa, Bundo?"


"Katanya siangan, sih. Sekitar pukul dua. Tapi pagi ini sampai pukul 12 nanti, ujiannya full."


"Kalo gitu, Bundo titip aja makalahnya sama Naya. Pagi ini Najma ujiannya di kelas Naya."


"Bener, nih? Ngga merepotkan kamu, kan? Rencana Bundo mo nunggu Najwa aja. Tadi katanya masih di jalan sama temannya."


"Kalo sama Najwa, kasihan Najwa nya Bundo. Mereka kan beda fakultas. Lumayan jauh jaraknya. Jadi biar sama Naya aja, Bundo."

__ADS_1


"Alhamdulillah. Kalo begitu makasih banyak, ya. Untung Bundo bertemu kamu."


Bundo Nilam mengulurkan kumpulan kertas berjilid itu ke Naya.


"Iya, Bundo. Sama-sama. Naya langsung ke kelas aja, ya? Sekitar lima belas menit lagi ujiannya dimulai. Assalamualaikum, Bundo." Naya kembali tersenyum dari balik niqabnya sambil menyalami Bundo Nilam.


...***...


Grand Kito Mall


Pukul 16.10 WIB.


Naya mendorong pelan troli belanjaannya. Matanya jeli menyusuri rak demi rak.


Sudah setengah jam lebih ia berada di bagian grocery ini, kembali memperhatikan ulang tempat ikan-ikan basah biasa dipajang, namun ia belum juga menemukan ikan bilis yang dicarinya.


Tadi malam saat sang Mama mertua meneleponnya, Naya berjanji untuk membawakan ikan tersebut sebagai buah tangan.


Sepertinya memang butuh perjuangan untuk bisa mendapatkan ikan bilis yang konon hanya hidup di Danau Singkarak, Sumatera Barat sana.


Naya sengaja mendatangi mall ini karena Bundo Nilam yang memberitahunya bahwa ia bisa mendapatkan ikan bilis tersebut di sini. Makanya setelah dari kampus, Naya langsung ke sini.


Naya masih menelisik satu persatu rak ikan basah saat matanya tertumbuk pada ikan kecil-kecil yang tersimpan dalam sebuah wadah pastik yang tertutup rapat di dekat kumpulan ikan-ikan kering.


Naya mendekat, tangannya terjulur untuk menyentuh wadah plastik yang berisi ikan-ikan kecil itu yang ia yakini adalah ikan bilis.


Namun belum sampai ujung jarinya menyentuh wadah plastik tersebut, sebuah tangan lain lebih duluan memegang dan langsung mengambilnya.


Naya terkesiap. Matanya bersirobok dengan mata seorang perempuan paruh baya berbadan subur.


"Aduh, maaf ya Neng. Keduluan sama si mbok. Mbok juga perlu ini, dari tadi udah tiga emoll yang kita datangi, eh ketemunya baru di sini. Jadi sekali lagi maaf ya, Neng."


Si mbok menangkupkan kedua telapak tangannya dan menaruhnya di depan dada sebagai ungkapan permintaan maafnya.


Naya tersenyum melihat si ibu di depannya. Ia tersenyum dengan menganggukkan kepalanya.


"Ngga apa-apa, Mbok. Memang rezekinya Simbok berarti. Mungkin rezeki saya di tempat lain," Naya masih tersenyum tulus.


"Ada apa, Mbok?"


Sebuah suara yang cukup dikenal Naya mendekat ke arah mereka.


"Mbak Nadia?"


"Kamu ...?"


Nadya mengerutkan keningnya. Ia menatap lekat sosok di depannya.


Penutup wajah - niqab yang dipakai sosok itu sedikit menyulitkan bagi Nadia untuk mengenalinya. Namun suaranya tidak asing baginya.


Nadia mencoba menelisik sepasang mata bening dengan bola hitam yang jernih tengah menatapnya tak berkedip. Owh, dia!


Naya tersenyum dari balik niqabnya. Ia lalu mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Nadia.


"Aku Naya, mbak. Lupa ya?"


"Kamu Naya? Aduh, maaf ya. Aku ngga ngenalin kamu. Habis aku cuma bisa lihat mata aja..."

__ADS_1


"Iya, ngga pa pa. Mbak lagi belanja juga?"


Jelas kekaguman tersirat dari kalimat Naya. Seorang model papan atas dan bintang iklan terkenal mau ikut belanja kebutuhan dapur adalah 'sesuatu' bagi Naya.


"Ngg ... Iya, nih. Aku lagi cari makanan kesukaannya ..."


"Babe ... Ketemu, ngga?"


Kalimat Nadia terpotong oleh sebuah suara khas yang sangat Naya kenal.


Sesosok tinggi tegap dengan rahang kukuh berjalan mendekati mereka.


Naya segera menundukkan pandangannya. Ia enggan jika harus bertemu lagi dan lagi dengan sosok tersebut.


Pertemuan demi pertemuan beberapa minggu kemaren sudah cukup melelahkan hatinya.


Membuat tidurnya kembali tak lelap, sama seperti saat ia melewati hari-hari yang menyesakkan selama hampir empat tahun ini.


"Eh, by. Kamu udah nyampe? Itu, yang nyari Simbok. Gimana Mbok? Dapat, kan?"


"Alhamdulillah. Dapat, Nya. Si Eneng cantik ini bersedia mengalah, jadinya ... Simbok yang dapat ikan bilisnya." Simbok tersenyum sambil mengacungkan wadah plastik berisi ikan bilis.


"Jadi kamu juga suka dan lagi nyari ikan ini?" Nadia mengalihkan pandangannya pada Naya yang masih menunduk.


Naya mengangkat wajahnya dan menghadapkan pandangannya lurus pada Nadia. Senyum masih terpatri di wajahnya yang tertutup niqab.


"Iya, mbak. Aku juga lagi nyari ikan bilis itu. Udah pusing-pusing ... eh, maksudnya udah muter-muter dari tadi. Aku ngelihat dari jauh, pas dideketin ... udah keduluan sama Simbok. Memang bukan rezeki Aku kayak nya, Mbak."


"Kan kamu duluan yang ngelihat, ya udah ... Kamu aja yang ambil."


Kei yang sedari tadi hanya diam, menimpali pembicaraan mereka.


"Kita cari di tempat lain saja, babe", ujarnya sambil melirik Nadia.


"Eehh, ngga usah Mbak. Aku aja yang nyari di tempat lain. Meski aku juga lagi nyari ikan bilis itu, juga lebih duluan ngelihatnya, tapi yang berhasil meraihnya kan bukan aku. Berarti kata Allah memang bukan rezeki aku. Atau bisa jadi kata Allah aku ngga butuh-butuh amat, mungkin kata Allah, yang lebih membutuhkan itu Mbak Nadia. Makanya Allah memberikannya buat Mbak Nadia." Naya berucap panjang lebar untuk meyakinkan Kei lewat Nadia.


Nadia dan Kei saling mengernyitkan dahinya. Sejenak mereka bertatapan.


"Jadi kamu ingin mengatakan, meskipun kamu yang duluan menemukan sesuatu, namun bila dia - sesuatu itu, diinginkan dan didapatkan oleh orang lain, maka kamu akan berikan begitu saja karena kamu merasa tidak terlalu membutuhkannya? Begitu?! Dermawan apa bodoh?"


Kei menatap Naya lekat. Tatapan elangnya seperti hendak mencabik.


Naya yang gantian mengerutkan keningnya. Tatapan dan perkataan Kei barusan sama tajamnya bagi Naya.


"Maaf, maksud Pak Kei apa? Saya tidak paham." Sekilas Naya menatap Kei namun sejurus kemudian dia mengalihkan matanya.


"Maaf, saya duluan Mbak ... Mbok. Assalamualaikum." Naya beranjak menjauh setelah menganggukan kepalanya pada Nadia dan Simbok.


Kei mengetatkan rahangnya. Tangannya mengepal kuat. Buku-buku jarinya memutih. Kemarahan jelas tersirat di sana. Pandangan matanya lurus dan tetap mematri Naya hingga bayangan gadis tersebut hilang ditelan oleh riuhnya pengunjung mall.


...****...


To be continued


Kenapa Kei begitu marah? Emangnya Naya salah apa?


Yang tadi sedang beranalogi siapa? Naya atau Kei?

__ADS_1


__ADS_2