Di Ujung Sayap Rindu

Di Ujung Sayap Rindu
Aku Datang Untuk Menepati Janji (Part 1)


__ADS_3

Kei membuka jaket kulit yang sedari tadi membungkus rapat tubuh tinggi atletisnya.


Sekarang sebuah black t-shirt yang fit body, terlihat hinggap dan menempel ketat di liatnya otot-otot yang membentuk tubuh tegap pewaris keluarga besar Tan Sri Abdul Hamid itu.


Kei melepaskan pandangannya pada hamparan laut biru di hadapannya. Tersamar resah di mata hitam kelamnya.


Beberapa saat setelah sang mama dan kakak perempuannya, Puan Sri Latifah dan Afifah meninggalkan Villa Pusako, di area Bukit Batu Putih, Kei pun segera turun kembali menuju Monkey Bay.


Merayapi terjalnya tebing karang, sedikitpun tidak menurunkan ritme pergerakan lelaki gagah tersebut. Di benaknya yang terpikir hanyalah bagaimana supaya sesegera mungkin bisa menyelamatkan sang istri, Kanaya Khairunnisa.


Sesampainya di pantai, Kei telah ditunggu oleh dua orang lelaki berbadan tegap dengan rambut cepak ala army.


Di sisi kedua lelaki tersebut, terlihat sebuah speed boat mewah yang telah siap untuk dioperasikan dengan sebuah tas ransel kecil berwarna hitam, water resistent, di dalamnya.


Setelah menyampaikan beberapa instruksi, Kei langsung melompat untuk menaiki speed boat tersebut dan melajukannya dengan kecepatan maksimal.


Lelaki itu tidak mau berspekulasi dengan keselamatan istrinya. Baginya sekarang, menyelamatkan Naya jauh lebih penting daripada memikirkan ancaman sang puan.


Meskipun ancaman Puan Sri Latifah beberapa saat yang lalu itu sempat hampir mematikan kewarasannya, namun Kei bertekad untuk menempatkan masalah itu pada urutan terakhir dari prioritas konsentrasinya sekarang.


Ia tahu pasti, mamanya tidak sedang mengancam tanpa alasan. Seorang Puan Sri Latifah selalu bertindak dengan perhitungan matang, namun seorang Kei Hasan tidak akan terhentikan hanya karena sebuah ancaman.

__ADS_1


Kei yakin Puan Sri Latifah pasti juga telah mendapatkan titik koordinat, tempat keberadaan Naya. Bahkan bisa jadi tim pilihan sang mama juga telah bergerak menuju lokasi, akan tetapi tetap saja Kei tidak mau mengambil resiko.


Kei tahu benar ia sedang berhadapan dengan siapa sekarang. Orang lapangannya telah mengkonfirmasi gerombolan yang menculik Naya.


Makanya begitu helikopter yang membawa kedua perempuan kesayangan Tan Sri Abdul Hamid itu mulai mengudara, Kei juga segera bergerak.


Untuk tidak terlalu menarik perhatian, Kei sengaja melakukan perjalanan laut menggunakan speed boat.


Tidak tanggung-tanggung, speed boat yang sedang dilajukan Kei sekarang adalah speed boat yang diproduksi oleh produsen yang sama, yang juga memproduksi mobil dengan merk kuda jingkak.


Dengan kecepatan di atas seratus kilo meter per jam, maka di sinilah Kei sekarang.


Dengan mengerahkan kemampuan terbaik yang dimilikinya, Kei berusaha untuk tetap stabil mengendalikan laju speed boat tersebut.


Gelombang besar datang silih berganti, berusaha menghempas speed boat yang sedang dinaiki Kei.


Mata elang lelaki itu membiaskan binar yang samar saat dari kejauhan terlihat sebuah mercuar tua yang masih berdiri kokoh seakan menyambut kedatangannya.


Setelah memperkirakan jarak yang tepat antara posisinya sekarang dengan mercusuar di depannya, Kei melambatkan laju speed boat dan menghentikan mesinnya.


Lelaki gagah pemilik Noghoghi Holding itu segera membuka tas ransel hitam anti air yang sedari tadi tersampir di dekat kemudi speed boat.

__ADS_1


Mengeluarkan semua semua peralatan yang ada di dalamnya. Mulai dari perlengkapan menyelam lengkap, hingga akhirnya mata Kei tertumbuk pada sebuah pistol, Dessert Eagle. Benda yang hampir lima tahun ini tak pernah lagi disentuhnya.


Menghela nafas sedikit lebih panjang, Kei memejamkan sejenak mata elangnya.


Sayang, Abang sudah berjanji untuk terus menjaga Nay. Maaf, bila kali ini Abang sedikit lalai. Namun Abang pastikan, mereka akan membayar mahal hari ini!


Setelah berpakaian diving, lengkap dengan alat bantu pernafasannya, Kei segera menyampirkan ransel hitam itu dipunggungnya.


Kemudian dengan gerakan cepat tak terduga, lelaki itu sudah melompat dari speed boat dan menyelam di kedalaman laut Selat Melaka, menuju bibir pantai Teluk Rhu di Pulau Rupat.


Kei belum menyadari, pergerakan cepatnya di bawah laut juga diikuti oleh tim gerak cepat dari pasukan pengamanan pribadi keluarga besar Tan Sri Abdul Hamid.


Bedanya, bila Kei melakukan penyelamatan dari laut, maka tim pengamanan keluarganya, melakukan dari udara dengan sebuah helikopter militer.


..._________*****_________...


To be continued


Siapa yang kira-kira akan duluan menyelamatkan Naya, apakah Kei atau tim dari Puan Sri Latifah? Sambil menunggu jawabannya, yuk baca dulu karya teman otor ya..


__ADS_1


__ADS_2