Di Ujung Sayap Rindu

Di Ujung Sayap Rindu
Lelaki Dari Masalalu (Part 2)


__ADS_3

Kediaman Keluarga Besar Tan Sri Abdul Hamid, pukul 06.50 a.m waktu KL.


Naya baru saja selesai melaksanakan bacaan dzikir paginya ketika terdengar ketukan halus di luar pintu kamar.


Segera saja gadis itu berjalan menuju pintu dan langsung memutar knop pintu. Berdiri di sana sang kakak ipar, Afifah, dengan pandangan yang entah. Calon ibu muda itu langsung merangkul Naya seraya mengusap lembut punggung sang adik ipar kesayangan.


Kita turun ke bawah untuk sarapan, ya? Kak Fah dah lapar sangat dari tadi," sahutnya sambil langsung mengamit lengan Naya tanpa menunggu jawaban.


Ada yang ganjil dari cara Afifah memandang dan memperlakukannya. Ada apa? Naya berusaha membuang pikiran buruk dari kepalanya. Sudah pukul 07.00 pagi, tapi ia belum mendapatkan kabar apapun tentang Kei.


"Ng... Papa dengan Mama mana, kak?" Naya sedikit heran melihat kursi meja makan yang masih kosong.


Tak terlihat keberadaan Tan Sri Abdul Hamid dan Puan Sri Afifah. Bahkan Jamal, suami Afifah pun tak terlihat di sana. Naya sedikit menyipitkan matanya dengan pandangan penuh tanya.


"Oh, ya kak Fah lupa. Tadi Mama dengan Papa pesan, kamu dan kak Fah sarapan dulu. Mereka sedang ada tamu. Jadi, kata Mama kita kena makan dulu. Tak payah nak tunggu mereka. Jom, makan!"


Afifah langsung mengambil nasi tanpa memandang Naya. Terlihat ia berusaha untuk tidak bertemu pandang dengan Naya.


"Bang Jamal?" Naya masih dengan rasa penasarannya.


"Bang Jamal? Dia dah langsung ke pejabat (kantor) dah selepas Subuh tadi. Maklum pun, takut terjebak rush hour. Nanti kena macet! Dah yuk makan dulu. Kamu pasti juga sudah lapar, kan?"


Afifah masih saja berupaya mengelak dan mengalihkan perhatian dan pembicaraan Naya yang ujung-ujungnya akan mengarah kepada Kei.


Suasana makan pagi berlangsung dalam hening. Sesekali terdengar denting piring, sendok dan garpu saat ketiganya salung beradu.


Afifah sedikit mempercepat makan saat gawainya bergetar panjang beberapa kali. Sebuah nomor yang tidak dikenalnya muncul tertera di layar gawai. Putri satu-satunya pasangan Tan Sri Abdul Hamid dan Puan Sri Latifah itu mengernyitkan dahi sambil menyipitkan matanya. Sudah panggilan yang ke tujuh hanya dalam waktu lima menit. Who's actually calling? Siapa?


Sambil menyudahi makannya, Afifah meraih gawai yang masih bergetar di atas meja makan.


"Hello? Siapa, ni?" Afifa duluan menyapa peneleponnya.


"I need to talk to Kanaya Khairunnisa! Pass this phone to her!" Terdengar suara berat di ujung sana.


"Who's speaking, please?"


Terlihat Afifah semakin mengerutkan dahinya. Sepertinya ia pernah mendengar suara itu, tapi di mana?


"You don't need to know! I just want to talk to Kanaya Khairunnisa!" Sanggah suara di seberang tanpa menjawab pertanyaan Afifah.


"She is my sister! Of course I have to know who you are! And one more, man! Whose number you're calling now?! It's my number!" Afifah mulai meninggikan suaranya dengan wajah yang terlihat sangat kesal.


Naya yang sedari tadi hanya menyimak dengan seksama, mulai paham siapa yang sebenarnya ingin ditelpon oleh orang di sebelah sana.

__ADS_1


Perlahan tangan kanannya terulur, menyentuh sebelah tangan Afifah yang masih tersampir di atas meja makan. Naya memberi isyarat kepada sang kakak ipar untuk bersedia memberikan gawai tersebut padanya.


Namun Afifah bergeming. Ia tetap mengenggam kuat gawainya tanpa memberikannya kepada Naya.


"*You, nih nak ape, ke? Tak payahlah cakap-cakap bahasa Inggris, tu. I dah tahu pun siapa you!"


"Oh, really*?! Sebuah kehormatan dikenali oleh seorang Afifah Abdul Hamid! Ha...ha...ha...!" Terdengar tawa menggelegar dari seberang sana.


"Sekarang boleh tak I cakap dengan adik ipar you yang cantik tu?" Lanjutnya kemudian.


Afifah masih bergeming ketika sebuah tangan menyentuh pundaknya dari belakang. Sontak Afifah memutar kepalanya.


Puan Sri Latifah telah berdiri tepat di belakangnya. Nampak sang papa, Tan Sri Abdul Hamid dan satu lagi seorang pria yang tidak dikenalinya.


Puan Sri Afifah memberi kode pada sang putri untuk menyerahkan gawainya kepada Naya.


Setelah kode yang kedua dari sang mama, akhirnya Afifah mengulurkan gawai di tangannya kepada Naya.


"Hallo. Assalamualaikum. Maaf, saya sedang bicara dengan siapa, ya?" Naya langsung menyapa penelpon di seberang sana.


Sesaat tak terdengar respon apapun. Hanya helaan nafas panjang beberapa kali yang terdengar.


"Hallo? Hallo? Assalamualaikum."


Naya langsung terpaku dengan lidah yang kelu. Khaira! Hanya satu orang yang memanggilnya dengan panggilan itu!


Flashback On


Paris, Summer 2020


"Khaira, if I had to choose between loving you and breathing, I would use my last breath to say 'I do love you'. (Khaira, jika aku harus memilih antara mencintaimu dan bernapas, aku akan menggunakan napas terakhirku untuk mengatakan ‘Aku sungguh mencintaimu’.)


Azki menatap lekat gadis berhijab rapi di depannya setelah berhasil meluahkan rasa lewat kata-kata yang selama ini tersangkut di tenggorokannya. Gadis yang selalu saja lebih banyak menunduk bila di hadapannya.


Suasana perpustakaan yang meskipun sedikit sepi namun tetap jauh dari kesan romantis untuk tempat mengungkapkan cinta. Namun bagaimana lagi? Azki selalu tidak punya waktu dan tempat yang recommended untuk itu! Kenapa? Gadis cantik di depannya tidak pernah memberinya kesempatan!


Ya! Naya selalu saja punya seribu satu alasan untuk menolak ajakannya secara halus. Sialnya lagi, semua alasan itu pun selalu terdengar make sense (masuk akal) bagi seorang Azki. Maka jadilah National Archieve ini menjadi saksi pernyataan cintanya.


Azki masih menatap gadis di depannya yang sedang mengalihkan pandangannya pada taman di depan pustaka. Terlihat jelas, gadis itu berusaha menghindari temu pandang dengannya. Nampak beberapa kali Naya mengerjapkan matanya.


Ya Rabb! Astaghfirullahal'aziim! Mohon ampun ya Rabb! Mungkinkah sikap pergaulanku banyak yang salah ketika bersamanya? Hingga ia mengungkapkan cinta?


Naya menghela nafas panjang beberapa kali sebelum akhirnya mampu mengumpulkan kembali suaranya yang mendadak seakan hilang.

__ADS_1


"Mhm... Maksud bang Azki?" Naya sengaja menggantung kalimatnya, berharap lelaki di depannya hanya salah ucap saja.


"You know what I mean. Aku ingin menjagamu Khaira. Bolehkah? Menjadi orang yang selamanya ada di sisimu. Menjadi..."


"No, Abang! You can't do that! Maaf, aku selama ini tidak bicara jujur dengan Abang. I'm not a single one. I'm married! Maaf, Abang. Aku sudah menikah. Aku..."


"I know that! I know that you're a married woman!" Azki langsung memutus penjelasan Naya.


"Aku tahu semuanya tentang kamu, Khaira. Kamu putri satu-satunya di keluargamu. Ayah dan Ibumu meninggal dalam sebuah kecelakaan. Tunanganmu, Ken Husain ikut meninggal dalam kecelakaan maut itu. Kemudian kamu menikah dengan abang dari tunanganmu, namanya Ken Hasan. Seorang pengusaha, anak dari Tan Sri Abdul Hamid dan Puan Sri Latifah. Tidak ada orang Melayu yang tidak mengenal mereka!" Azki tersenyum tanpa memutus pandangannya dari Naya.


"I know all about you Kanaya Khairunnisa!" Lanjutnya masih dengan senyum yang menghiasi wajah tampannya. Senyum yang bagi para gadis terlihat begitu menawan, namun tidak bagi Naya. Mengapa senyum itu seakan sedang mengejeknya?


Gadis itu mengangkat wajahnya. Menatap wajah lelaki di depannya dengan sedikit lebih lama. Sesuatu yang jarang dilakukannya.


Naya perlahan menyentuh dada kirinya yang terasa nyeri. Entahlah. Ia merasa sakit saat Azki mengakui bahwa lelaki itu mengetahui banyak hal tentang dirinya. Lelaki itu tahu bahwa ia telah bersuami. Lalu kenapa ia mengungkapkan cinta? Apakah cinta begitu membutakan? Hingga logika kehilangan etika? Menyatakan cinta pada seseorang yang sudah bersuami? Apakah itu beretika?


Oh, no! Jangan ke-geer-an Naya! Lelaki ini sedang menunjukan simpatinya. Bukankah ia mengetahui tentang pernikahanmu? Berarti ia juga mengetahui kehidupan rumah tanggamu! Ia sedang menunjukan rasa kasihannya padamu, seorang istri yang dicampakan oleh suaminya. Ditinggal begitu saja, tanpa kabar tanpa berita!


Naya memejamkan matanya rapat. Dada kirinya semakin perih dan nyeri. Sekali lagi gadis itu menatap lelaki yang telah membuatnya merasa berhutang jasa. Lelaki yang pernah menyelamatkan kehormatan dan nyawanya. Lelaki yang selama hampir dua tahun ini seperti seorang kakak laki-laki yang senantiasa menjaga dan melindunginya, meski tanpa diminta.


"Aku tidak akan berterimakasih atas apa yang telah Abang ungkapkan barusan. Tapi aku kembali ingin mengungkapkan terimakasih yang sebanyak-banyaknya atas kebaikan Abang selama ini. Terimakasih tak terhingga karena telah menjadi teman dan saudara di rantau orang. Sekali lagi, terimakasih!"


Naya mengakhiri kalimatnya dengan menangkupkan kedua tangan di depan dada seraya menundukan kepalanya dalam sebagai ungkapan terimakasih. Perlahan gadis itu bangkit dari duduknya sambil meraih tas punggungnya yang tersampir di sandaran kursi.


Azki yang melihat itu langsung berdiri sembari mencekal pergelangan tangan gadis itu.


"Tunggu! Ka...Kamu marah? Khaira, Aku minta maaf. Aku tidak bermaksud buruk. Aku benar-benar mencinta..."


"Nope! Don't say that again! And, put your hand off! Lepaskan!"


Naya menarik kuat tangannya yang masih dicekal Azki.


"Extremelly sorry! I don't mean that!" Azki segera melepaskan cekalan tangannya pada pergelangan tangan Naya seraya mengangkat kedua tangannya keatas.


Naya membuang jauh pandangannya, menyurukan buliran bening yang mulai mengenang di sudut matanya. Entahlah. Ia tidak tahu pasti apa yang membuatnya menangis sekarang?


Flashback Off


...__________*****__________...


To be continued


Maaf, baru bisa up lagi. Alhamdulillah sudah selesai workshop, diusahakan untuk rutin lagi up. Terimakasih yang masih setia dengan KeiNaya.

__ADS_1


Jangan lupa like dan comment, ya...


__ADS_2