Di Ujung Sayap Rindu

Di Ujung Sayap Rindu
Saatnya Sidang Dimulai


__ADS_3

"Assalamualaikum."


"Wa'alaikumussalaaammm, Uniii ..."


Noura yang masih sibuk di dapur langsung berlari keluar dapur saat telinganya menangkap suara salam dari arah pintu masuk rumah.


Gadis itu terus berlari melintasi beberapa ruangan, menuju ke ruang tamu.


"Noura, elok-elok. Ndak usah balari, beko jatuah!"


(Noura, hati-hati. Ngga usah berlari, nanti jatuh)


Tek Zainab dan pak etek Rul mengikuti Noura yang sudah duluan berlari menuju pintu, menyongsong sang sepupu yang sudah berdiri di dekat pintu masuk rumah yang sedikit terbuka.


"Uni sayaaannggg..." Noura merentangkan kedua tangannya lebar menyambut Naya yang juga melakukan hal yang sama.


Kedua gadis cantik yang berbeda usia sekitar tujuh tahunan itu saling berpelukan setelah sebelumnya diawali dengan cipika-cipiki.


Kei yang berada di belakang Naya hanya menggelengkan kepalanya menyaksikan tingkah kedua gadis di depannya.


Lelaki itu bergerak mendekati tek Za dan pak etek Rul yang juga sedang geleng-geleng kepala melihat Naya dan Noura.


"Baa kabanyo etek, pak etek? Lai sehat? Maaf, baru kini bisa pulang baliak."


(Bagaimana kabarnya, etek dan pak etek? Sehat, kan? Maaf, baru sekarang bisa pulang lagi.")


Kei berucap dengn bahasa Minang yang fasih seraya mengambil tangan keduanya dan menciumnya dengan takzim.


"Alhamdulillah, kami semuanya sehat, tapi sepertinya yang paling sehat tuh, dia..." pak etek Rul yang menjawab pertanyaan Kei sambil dagunya diangkat dan diarahkan pada Noura yang masih berpelukan dengan Naya.


"Naya, kamu rindunya hanya sama Noura saja, ya? Sama pak etek sepertinya tidak. Baiklah kalau begitu Pak etek kembali dulu ke parak (kebun) belakang, ya?" Pak etek Rul segera memutar badan, berpura akan meninggalkan mereka, namun senyum kecil terulas di bibirnya.


Naya segera melepaskn pelukannya pada Noura, bergegas gadis cantik itu memeluk tek Za dan mencium takzim tangan pak etek Rul.


"He...he...he... Pak etek ternyata bisa juga berganyi (merajuk). Maafkan Nay, tek, pak etek. Rindu Nay dengan etek dan pak etek tak terhingga,"


"Kalo dengan Noura?" Noura dengan wajah yang ditekuk langsung menimpali sang kakak sepupu.


"Kalo untuk kamu, rindu uni tak terkira dek sayaaannngggg," bujuk Naya sambil mencubit ringan pipi Noura.


"Udah ya Key, Nay ... Pak etek kembali ke belakang. Mungkin kalian lelah dan butuh istirahat dulu ya," ujar pak etek sambil meninggalkan ruangan itu


"Kamu dan Naya sudah sholat Ashar? Kalo belum, baiknya sholat dulu. Setelah itu langsung istirahat. Kalian pasti masih penat, kan?" Tek Za menimpali ucapan pak etek Rul, sang suami.

__ADS_1


"Ya, tek. Maaf, tadi Kei sedang menyetir, jadi tidak bisa bicara banyak. Nanti setelah sholat Maghrib, Kei akan menemui etek."


"Iya, tidak apa-apa. Silahkan sholat dan istirahat dulu. Nanti malam kita bicara, karena memang banyak yang harus kamu jelaskan, Kei."


Etek Zainab, adik satu-satunya ibunda Naya itu menatap Kei beberapa saat.


Tatapan tek Za memang masih kalah tajam dari tatapan Puan Sri Latifah, sang Mama, namun tetap saja sanggup menggetarkan sudut hati Kei.


"Iya, tek," ujar Kei seraya mengangguk samar.


Lelaki pewaris kerajaan bisnis Tan Sri Abdul Hamid itu hanya mampu mengiyakan semua perkataan tek Za tanpa bantahan sepatah, pun.


Kei tersenyum kecut. Situasinya hari ini hampir mirip dengan lima tahun lalu, saat pertama kali kesini menemui tek Za. Atau kali ini bisa jadi lebih buruk?


Tidak punya bargaining position, daya tawar, di hadapan keluarga besar Naya, Kei hanya bisa menerima dengan mengiya kata.


Perlahan Kei melangkah menuju kamar di lantai dua yang selalu ditempatinya bila pulang kesini.


Sekilas melirik ke belakang, dilihatnya Naya masih asyik bersama Noura. Ternyata keduanya tampak sudah beralih mencari posisi yang lebih nyaman, duduk sebuah sofa besar di ruangan tamu.


Terlihat Naya yang sering tersenyum sumringah dengan sesekali terdengar tawa renyahnya. Tawa yang belum pernah didengar Kei selama beberapa hari ini membersamai sang istri.


Apakah kebahagiaannya memang bukan bersama ku?


Kei melanjutkan langkahnya memasuki kamar yang sudah beberapa bulan ini tidak ditempatinya, saat sayup terdengar suara tek Za melerai kebersamaan Naya dan Noura.


("Sudah dulu, Noura. Jangan diajak juga kakak tu bercerita/ ngobrol. Nanti-nanti masih ada waktu, biarkan kakak tu istirahat dulu. Naya, jangan dilayani juga si Noura tu, Nay juga perlu istirahat.")


Suara tek Za terdengar memenuhi ruangan di lantai satu.


"Iya, tek. Sudah dulu ya, dek. Uni mo istirahat dulu, ntar malam kita sambung lagi." Naya berucap sambil mengacak pelan rambut hitam gadis itu yang sedikit bergelombang.


"Yeiii, kalo nanti malam yang protes bukan hanya Bunda. Tapi, juga si Om juga ikutan protes pasti," sungut Noura dengan wajah sedikit kesal.


"Si Om?" Naya menautkan kedua alis dengan mata yang sedikit menyipit.


"Issshhh si ketek ko, alah acok disampaian jaan manggia 'om' juo. Masih juo manggia 'om'. Harusnyo 'uda' atau 'abang'," gerutu tek Za.


("Issshhhh si kecil ini, sudah sering disampaikan jangan panggil 'om'. Tapi masih juga memanggil 'om". Harusnya 'uda' atau 'abang').


"Ha...ha...ha... Jadi maksudnya si 'om' itu, abang Kei? Hah? Iya?! Ha...ha...ha..." Naya tertawa dengan lepasnya.


"Om ... Om Kei! Ha...ha...ha... Kek nya pas pake banget deh, dek. Om Kei! Ha...ha...ha..."

__ADS_1


Naya kembali tertawa seraya melirik Noura yang hanya mengangkat sudut bibirnya sambil mengusap tengkuknya.


Sesekali sudut mata gadis SMA itu melirik ke lantai dua.


Naya masih tertawa dengan mengulang-ulang panggilan Noura untuk Kei. Sejenak kekesalannya pada Kei beberapa hari ini seperti terbayar lunas.


Etek Za hanya menggelengkan kepalanya saat menyaksikan Naya yang nampak gembira dan Noura yang terlihat takut-takut.


"Nay udah. Kamu apaan, sih... Harusnya kamu menasehati adikmu, ini malah kamu yang dukung," ketus tek Za.


"Ihh etek, kan ngga pa pa abang Kei tu dipanggil 'om'. Emang dah pantas kok. Kan dah tua juga dianya..."


"Nay?!!"


Ketiga perempuan beda generasi di lantai satu spontan melongok ke atas.


Terlihat Kei yang sudah berganti pakaian ala anak rumahan, celana panjang dari katun dan atasan kaos oblong berwarna putih.


Lelaki itu berdiri sambil bersandar pada dinding anak tangga. Kedua tangannya berada di dalam saku celana katunnya.


Mata hitamnya lurus menatap Naya. Tek Za segera menarik lengan Noura, membawanya kembali ke dapur, kembali bersiap menyambut tamu jauh malam ini.


Saat melewati Naya, Noura sempat berbisik dengan mata yang menyipit dan berkedip-kedip mengejek sang kakak sepupu.


"Tuh, si Om-nya marah ... Uni sih, ketawanya langsung gigi empat! Pake nginjak gas, lagi!Selamat mencari rem uni-ku tersayaaannggg..."


...*****...


Kei dan pak etek Rul baru saja memasuki halaman rumah. Keduanya baru pulang dari surau.


Tadi setelah sholat Maghrib, mereka sengaja tidak pulang dulu ke rumah. Menunggu masuknya waktu Isya, keduanya bersilaturrahmi dan ngobrol ringan dengan sesama jama'ah surau yang juga tetangga pak etek Rul dan tek Za.


Kei baru saja akan mengetuk pintu masuk depan rumah, saat telinganya menangkap suara-suara perempuan dan laki-laki yang amat dikenalinya dari arah dalam rumah.


Oh, my God! Persidangan segera dimulai!


...__________*****_________ ...


To be continued


Alhamdulillah wa syukurillah akhirnya bisa up lagi hari ini. Terimakasih tak terhinga atas do'anya teman-teman semua.


Buat yang masih setia bersama KeiNaya, lope lope sekebon duren ya...

__ADS_1


Yang udah baca sampai episode ini, tapi belum juga dijadiin "favorite", pliisss deh ... Jadiin favorite, dong.


Bagi yang udah, terimakasih banyak ya.. dan tetap support dengan like dan comment-nya ya biar aku tambah semangat up nya.


__ADS_2