Di Ujung Sayap Rindu

Di Ujung Sayap Rindu
I Will Never Let Her Go!


__ADS_3

Kei PoV


Aku melajukan Fista 488-ku dengan kecepatan sedang, membelah jalanan kota Seremban, negeri yang telah memberiku banyak cerita.


Sebelum check-in tadi aku menghubungi Nadia, memberitahunya bahwa aku akan mengunjungi nenek. Seperti biasa ia selalu mendesakku ingin ikut berkunjung menemui nenek, namun masih tetap kutolak.


Aku tidak mau kedatangannya akan melukai Nek Sya karena aku tahu pasti nenekku itu belum bisa menerima pernikahanku dengan Nadia.


Supaya tidak terlalu menarik perhatian, aku menitipkan kendaraanku di sebuah masjid dengan parkiran luas berjarak sekitar seratus meter saja sebelum ke rumah nenek.


Beberapa kali aku menganggukkan kepala sambil tersenyum kepada lelaki dan perempuan paruh baya yang kutemui.


Tidak sampai lima menit aku telah berada di depan sebuah rumah panggung paling besar di kampong ini.


Kulangkahkan kaki perlahan melewati halaman rumah yang luas. Sejenak aku terhenti, mataku melirik rumah bergaya modern, dengan desain minimalis tepat di samping rumah panggung nenek.


Sekilas melintas wajah si pemilik rumah di benakku. Pertemuan tiga hari yang lalu sebenarnya masih membuatku kesal, namun kenapa juga terselip ... rindu? S-hiitt!


Aku menaiki jenjang rumah dengan perlahan. Aku ingin membuat big surprise untuk nenek dengan memajukan waktu kedatangan.


Sesaat setelah memasuki rumah aku melayangkan pandangan pada seisi ruangan. Tak ada sesiapapun di sana.


Tetap dengan gerakan perlahan aku mendatangi ruangan demi ruangan, bahkan kamar tidur Nek Sya, namun tetap saja aku tak menemukannya. Mungkin sedang keluar, pikirku.


Kemudian langkah kaki membawaku pada sebuah ruangan yang terletak di antara ruang baca dan kamar tidur utama. Terpikir untuk berehat sejenak sambil menunggu Nek Sya.


Kuulurkan tangan untuk mendorong pintu yang kuyakini tidak terkunci karena dari semenjak kami kecil, seluruh ruangan di rumah ini memang tidak pernah dikunci.


Mataku langsung terpaku pada pemandangan di hadapanku. Hanya berjarak sekitar tiga meter saja dari tempat ku berdiri, sesosok tubuh sedang berdiri di depan cermin. Sepertinya dia baru saja selesai mandi. Terlihat dari bathrobe yang tergeletak di lantai.


Tubuh putih pualamnya terpampang nyata, meski sedang membelakangiku namun aku tetap bisa melihat jelas bagian depannya dari pantulan cermin.


Seketika waktu seakan terhenti. Jantungku berdetak lebih cepat dengan pompaan darah yang memanas.


Ia nampak sedang melakukan massage pada tubuh depan bagian atas yang terlihat ...


Aaarrrggghhh!


"Nay, Naya? Kamu kenapa? Nenek kat surau , nih ..." terdengar suara Nek Sya dari arah samping rumah.


Nenek cakap apa tadi? Na-y? Naya?!


Jadi? Dia ..?


"Kei? Kamu ...?!" Nenek langsung menarik tanganku menjauhi kamar. Aku tersenyum tipis. Jadi, yang almost naked di kamar ku itu, Naya?


Nek Sya menyemburkan semua perbendaharaan kosakata yang mewakili ungkapan marahnya karena aku masuk kamar tanpa izin.


Izin? Eh? Itu kan kamarku! Mesti minta izin sama siapa?


Aku menggelengkan kepalaku beberapa kali. Namun bayangan tubuh di depan cermin itu tetap menggodaku. ******!


"Eii.. budak! Jangan nak tepikie yang macam-macam ye? " bentakan Nek Sya kembali menyadarkanku.


"Alah, nenek. Tak macam-macam pun, satu je." Aku tersenyum sambil menaik-turunkan alis. Namun senyumku langsung menghilang saat Nek Sya mengayunkan tangkai sapu yang sedang dipegangnya. Rupanya beliau sedang bersih-bersih di surau.


"Nek, Kei lelah sangat, nih. Nak berehat kat kamar Nenek kejap, ye", ujarku sambil melangkah menuju kamarnya.


Aku tidak tahu berapa lama tertidur. Tidur sebelum Maghrib sesuatu yang jarang kulakukan selama ini, karena sedari kecil nenek selalu melarang kami.


"Tidur sebelum Maghrib tu tak baik, tak sehat. Bisa hilang akal. Kalau nak dapat sunnah Nabi, tidurlah kejap nak Dzuhur atau sesudah Dzuhur", nasehat nenek selalu.


Aku melirik jam dinding di dekat lemari. Pukul 5.40 petang. Bergegas aku masuk ke kamar mandi.


Setelah mandi, masih dengan handuk yang melilit sebatas pinggang, aku keluar mencari Nek Sya.

__ADS_1


"Heiii, kamu nih? Keluar tak da baju, tak malu ke?" Aku terkejut, nenek sudah ada di belakangku. Sepertinya dia baru saja dari kamar yang ditempati Naya.


"Nenek ... Kei nak pakai baju lah, nih. Tapi baju Kei kat kamar sebelah tuh," ujarku menunjuk kamar yang baru saja didatanginya.


"Tunggu kejap, nenek ambik ya", nenek berbalik mengambilkan bajuku.


Aku mencoba mendekati pintu kamar dan bermaksud melongokkan kepala ke dalam, saat tiba-tiba pintu tersebut sudah ditutup dengan keras dari dalam.


Neneeekkk ...?


Sampai menjelang waktu Maghrib pun aku masih belum melihat Naya keluar dari kamar. Beberapa kali kulihat nenek masuk dan keluar kembali dari kamar itu.


Apakah ia marah, atau ... malu? Tapi kenapa? Aku 'kan suaminya! Suami? Eh!


"Kejap lagi Maghrib, nenek nak ajak Naya sholat jama'ah kat surau, ye ..."


Aku menyipitkan mataku, menatap nenek yang juga sedang menatapku dalam.


Nenek sedang memberitahuku ... atau sedang ... Minta izin?


"Hei, budak ...! Kamu tu suami dia! Izin tak kalau Naya sholat kat surau, tu?


Aku menggaruk kepalaku. Ucapan nenek seperti sedang menyindirku. Aku hanya menganggukan kepala beberapa kali.


Aku segera duluan menuju surau supaya Naya tidak lagi mengeram di dalam kamar.


Aku tahu, dia tidak mau keluar karena tidak ingin bertemu denganku.


Setelah sholat Maghrib, aku sengaja tidak langsung pulang. Aku ingin memberi Naya waktu untuk makan malam duluan. Aku tidak mau dia sampai tidak makan karena menghindari pertemuan dengan ku.


Tadi sekilas aku melihatnya keluar dari surau melalui pintu samping yang terhubung langsung dengan rumah.


Aku sengaja berlama-lama bermain dengan Azmi dan teman-temannya. Anak-anak kecil itu menodongku untuk bermain kuda-kudaan.


Mereka membuat undian untuk menentukan giliran. Aku tersenyum menyaksikan mereka saling berebut untuk mendapatkan giliran pertama. Ternyata Azmi yang beruntung.


Baru satu kali putaran Azmi menaiki punggungku, anak lelaki itu menarik-narik daun telingaku sambil membisikkan sesuatu.


"Ade bidadari kat pintu. Alamaakkk ... comel sangat ..."


Aku menoleh ke arah pintu. Terlihat Naya sedang berdiri disana dengan matanya lurus menatap ke arah kami. Sesekali kulihat senyum menghiasi bibirnya.


Ini pertama kali aku melihat kembali wajahnya secara utuh, sejak ia memakai niqab hampir lima tahun yang lalu. Eh, bukan ding.. Aku telah melihat wajahnya tadi siang meski sekilas, namun aku lebih mengingat matanya yang terbuka lebar, membola indah saat incident itu terjadi. Kaget ... Shock ... Marah ... dan Malu ... Melebur jadi satu, namun yang pasti di mataku ia terlihat seperti sekuntum mawar berselimut embun pagi. Basah merona ditimpa cahaya mentari. Ahai ..!


"Terpesona ... Aku terpesona ..." Azmi berbisik kembali di telingaku. Dari mana lah budak kecik nih dapat tahu lirik lagu tu.


"Itu lah suri hati Abang Kei," ucapku juga berbisik.


"Iye, ke nih ..." Budak kecik nih seperti menuduh ku berbohong.


Aku tak menjawab Azmi, mataku sekarang lurus menatap Naya yang masih belum menyadari kalau Aku dan Azmi tengah memperhatikannya.


"Kakak comel, mari sini. Kita orang sedang main kuda-kudaan, kakak nak ikut, ke?"


Aku berusaha menahan senyumku, kalimat Azmi barusan terdengar ambigu di telingaku.


Aku menatap Naya yang terlihat menundukan wajahnya, jelas ia menghindari beradu pandang denganku. Selintas aku dapat menangkap semburat merah di pipi putihnya.


Kemudian masih dengan mengalihkan pandangannya, ia menyampaikan bahwa makan malam telah siap.


Teman-teman Azmi yang ikut mendengarkan Naya, langsung antusias mendengar kata 'makan'.


Akhirnya kami balik menuju rumah. Di meja makan telah terhidang sajian makan malam.


Naya meminta Azmi dan teman-temannya untuk memindahkan hidangan makan malam ke lantai ruangan supaya lebih leluasa.

__ADS_1


Aku melihat Azmi dan Naya yang saling berbisik-bisik, sepertinya mereka sedang membicarakan sesuatu.


"Comel sangaaatt ... Boleh sayang sikit, tak?" Itu kalimat yang sempat tertangkap oleh indera pendengaranku.


"Tak boleh! Kalau itu Abang yang bagi nanti", bisikku di telinga Naya.


Aku tersenyum gemas melihat Naya yang mendelikan matanya demi mendengar perkataanku.


Saat makan malam akan dimulai, Azmi kembali membuat drama. Saat teman-temannya meminta Azmi berdoa, ia malah menodongku untuk memperkenalkan Naya dulu.


Saat aku memperkenalkan nama Kanaya Khairunnisa, eh si budak kecik tu malah membocorkan apa yang kubisikan padanya saat di surau tadi.


Kak Naya permaisuri hati Abang Kei!


Sialnya, teman-temannya malah meledekku dengan berbagai kalimat menyudutkan. Nek Sya tertawa sangat lebar menikmati permainan Azmi dan teman-temannya, sedangkan Naya nampak berusaha menahan tawa dengan menutupi mulutnya. Kenapa dimataku dia malah semakin kelihatan manis? Eh, gilaa!!


Aku sengaja pura-pura marah dengan menatap tajam anak-anak kecil itu. Eh, kenapa mereka malah takut beneran? Apakah tampangku sedemikian menakutkan?


Ketika yang lainnya mencari perlindungan di belakang Nek Sya, Azmi malah mengkerut dalam pangkuan Naya yang menatapku dengan bola mata yang membesar, namun kenapa di mataku dia malah semakin menggemaskan? Damn it!


Reflek tangan kananku terulur untuk menyentuh mata yang membola indah itu, namun ternyata ia lihai juga mengelak.


Tak hilang akal, tanganku yang sebelah jauh lebih cepat mengantisipasi penolakan Naya, mendarat cantik di pipi putih pualamnya. Aku mengedipkan mata. Kei Hasan tidak pernah kalah!


Keriuhan kami dihentikan oleh sebuah suara yang amat sangat kukenal. Seseorang yang sentiasa berusaha kuhindari selama hampir lima tahun ini.


Bukannya ingin berlaku seperti Si Tanggang atau Malin Kundang, aku hanya tidak siap jika terus membuka front konfrontasi dengannya. Aku takut, tidak bisa mengendalikan diri dihadapannya. Dia, Puan Sri Latifah!


Aku berusaha menulikan telinga dan membutakan mata saat Papa dan Mama masuk. Dengan sudut mata kulihat Naya langsung berdiri menyambut mereka. Mhm ... Terlihat keterkejutan di mata Mama saat melihatku, namun aku tetap berusaha untuk tidak mempedulikannya. Aku melanjutkan makan malamku. Sementara Azmi dan teman-temannya bersegera keluar rumah setelah mereka selesai.


Sesaat kemudian azan Isya berkumandang dari surau sebelah rumah. Mungkin Pak Cik Amin, yang memang biasa mengurus surau itu, menjadi muazin dan imam tetap di sana. Aku bergegas menuju surau, untuk sholat berjama'ah.


Setelah selesai sholat, aku sengaja berbual lama dengan Pak Cik Amin, berharap ketika tiba di rumah nanti Papa dan Mama sudah tidur. Tadi kulihat mereka langsung pulang dari surau setelah berbasa-basi sebentar dengan jama'ah lainnya. Mungkin mereka kelelahan sepulang dari rumah Mak Lung Hamidah.


Setelah hampir pukul sebelas malam, aku melangkah menuju rumah. Membuka pintu perlahan agar tak membangunkan orang rumah. Baru saja aku berniat untuk membaringkan tubuh di sofa ruang tamu, sebuah deheman mengejutkanku. Mama!


"We need to talk. Come to the library! Eh, macam tu je? Singkat dan penuh titah!


Aku melangkah menuju ruang baca keluarga, sekilas kulirik kamarku yang ditempati Naya, tertutup rapat!


Aku langsung memasuki ruang baca yang terbuka lebar.


"Tutup balik!" Mhm ... Masih saja, selalu titah!


"Well, straight to the point, apa maksud kamu kembali berusaha mendekati Naya?!" Perempuan separuh baya yang tetap kupanggil 'Mama' itu -meskipun hanya dalam hati-, menatapku dengan sorot mata tajam.


"Wow! Ternyata seorang Puan Sri Latifah masih terus menaruh spy untukku! Great thanks! I really... really appreciate it. Aku tersanjung kerana Puan Sri masih sangat perhatian dengan seorang Kei Hasan!


"Kei! Behave well! Kamu sedang berbicara dengan Mama mu!" Papa menatapku tak kalah tajam.


"No need, Papa! Mama tidak memerlukan itu darinya. Mama hanya minta dia menjauhi Naya!" Ujarnya lebih tajam.


"Did you listen to me? I want you to get out of her way! Lepaskan Naya secara baik-baik. Kamu tidak menginginkan dia, kan? Kamu hanya ingin membalas kami dengan cara menyakitinya, kan? Dan lima tahun ini kamu sudah berhasil! Sangat ... Sangat berhasil!" Masih dengan tekanan Mama menatapku.


Aku menggelengkan kepala berkali-kali. Balas menatapnya berani.


"Why?! You don't love her at all as you told years ago, right?!"


Aku tidak terkejut Mama mengetahui pembicaraan teleponku dengan Nadia sesaat setelah akad nikahku dengan Naya beberapa tahun silam. Apa sih yang tidak diketahui oleh seorang Puan Sri Latifah?!


"So, please ... Lepaskan Naya. Dia tidak patut menjadi tumbal kemarahanmu. She has no sin. She doesn't even know anything. So, please ..." Matanya yang tadi tajam, hilang entah kemana. Baru kali ini aku melihat seorang Puan Sri Latifah yang desperated! Sirna semua garang dan angkuh yang selalu dipertontonkannya jika sedang di depanku. Apakah aku bahagia? No! Big no! Melihatnya yang putus asa, kalah, ternyata tidak semenyenangkan yang aku kira!


"Kei, tolong bebaskan Naya dari pernikahan yang menyakitkan ini, son! Dia juga berhak untuk bahagia. Bila kamu tidak bisa 'memandang' kami, orang tuamu, tolong 'pandang' arwah Pak Cik Zain dan Mak Cik Dijah. Dia pasti sedih melihatmu memperlakukan Naya seperti ini," Papa menatapku dalam.


Aku menggepalkan tanganku. What?! Mereka memintaku melepaskan Naya? No! Itu sesuatu yang paling tidak bisa aku lakukan. No, never!

__ADS_1


Aku beranjak meninggalkan mereka. Aku tidak ingin marahku semakin memperkeruh suasana. Naya sedang ada disini, tepat disamping ruang ini. Aku tidak yakin dia tidak mendengar kami.


To be continued


__ADS_2