Dihamili Adik Kelas

Dihamili Adik Kelas
Tembok Diberi Nyawa


__ADS_3

...Kamu itu seperti tembok yang diberi nyawa. Diam, tapi bernafas....


...~Laura~...


Seperti tembok yang diberi nyawa, itulah julukan yang paling cocok dinobatkan pada seorang Arga. Sepanjang perjalanan mereka pulang, Arga terus fokus mengendarai motornya. Sesekali Laura menggoda Arga agar mau berbicara kepadanya. Namun tetap saja, segala macam bentuk celotehan Laura tidak akan mampu membuat Arga mau mengobrol dengan Laura. Cowok itu masih saja dingin, padahal cuaca hari itu sangat panas.


Kenapa bisa dingin terus, sih?


Ahh, kapan kamu melelehnya, Arga?


Akhirnya motor Arga mulai memasuki halam rumahnya. Cowok itu segera memarkirkan motornya secara sembarang. Terik matahari yang menyakiti kulitnya membuat cowok itu ingin segera masuk ke dalam rumah. Apa lagi ada Laura di belakangnya, semakin menambah hati Arga panas saja. Bawaannya pengin emosi di dekat Laura, tuh.


"Siang, Om." Laura tersenyum riang begitu turun dari motor Arga. Gadis itu langsung berlari kecil menghampiri papah Arga yang sedang sibuk membaca koran. Menarik tangannya, lalu mencium dengan penuh rasa hormat. Sementara Arga langsung nyelonong masuk ke dalam kamarnya. Ia memang sedikit kurang akrab dengan papahnya.


"Loh, kaki kamu kenapa?" tanya papah Arga saat melihat perban di lutut Laura.


"Tadi cuma kecelakaan dikit kok, Om, ngga masalah. Cuma jatuh dan ngga sengaja kesandung batu."


"Kalau begitu tidak usah latihan saja, Ra. Nanti biar Om suruh Arga anterin kamu pulang."


Yes! Laura girang dalam hatinya. Semakin banyak waktu berduaan dengan Arga.


"Hemm ... ya sudah, deh." Laura berpura-pura memasang raut wajah kecewa. Padahal dalam hati ia girang sekali, karena untuk kedua kalinya ia mendapat kesempatan dibonceng oleh Arga lagi.


"Nanti biar Laura yang bilang sendiri sama, Arganya. " Laura memasang wajah kecewanya lagi. Tidak sia-sia lututnya lecet. Yang penting pulang bareng Arga.


Mamah Arga datang menghampiri. Sebagai menantu yang baik, Laura langsung sigap menyalami. "Eh, ada Laura, makan dulu yuk ... Arga lagi makan tuh, di dalam."


"Ngga usah tante, Laura masih kenyang. Tadi Laura sudah makan siang sebelum pulang. " Gadis itu memegangi bagian perutnya sebagai gerak tubuh penolakan. "Ya sudah, Laura mau ketemu Arga dulu yah, Om, Tante," gadis itu langsung masuk ke dalam.


Tidak susah mencari seorang Arga, Laura sudah hafal betul tata letak rumah Arga. Secara Laura memang sudah dekat dengan keluarga Arga sejak SMP. Awalnya Laura biasa saja terhadap Arga, namun semenjak memasuki usia remaja tepatnya kelas dua SMA, hati Laura mulai ditumbuhi kelenjar-kelenjar aneh yang begitu menyiksa. Cewek itu tidak dapat menghentikan perasaanya terhadap Arga. Dari situlah aksi memburu cinta Arga berawal.


"Argaaa!"

__ADS_1


"Ya Tuhan kenapa di mana-mana ada dia, sih?" Arga mendengkus kesal. Mendadak tidak nafsu makan kalau begini caranya.


"Arga lagi apa?"


Wajah Laura berseri-seri riang sekali. Ia terus memandangi Arga yang sibuk menyendok makanan dan pura-pura tidak merasakan kehadirannya. Bibir merah muda gadis itu tidak berhenti tersenyum lebar menampilkan deretan gigi putihnya.


"Arga lagi makan yah ?" tanya Laura lagi.


"Menurut lo?" Arga menggertak kasar. Laura langsung mengedik kaget setelahnya.


"Ya ampun Ga! Kenapa sih ngga pernah mau ngomong lembut sama Laura? Selalu aja jutek gini, tapi asal Arga tau, semakin Arga dingin, aku jadi makin sayang sama Arga..." Gadis itu menarik bangku di samping Arga lalu duduk sambil menaruh tanganya di bawah dagu.


"Jadi kalo gue ngomong lembut lo akan berhenti gangguin gue?" Arga membulatkan bola matanya selebar mungkin. "Itu maksud lo?"


Arga tampak menanggapi dengan serius. Hal itu sontak membuat Laura terkekeh geli. "Aduh ... ya engga lah, Arga ngaco! Kalo Arga ngomongnya jadi lembut, yang ada aku akan semakin cindtahh!"


"Cih ... geli banget gue. Lo emang gak jelas," sungut Arga sambil menggigit sendok di mulutnya keras-keras.


"Bodo amat," batin Arga tak peduli.


"Ga!" Gadis itu memanggil nama Arga dengan nada yang diayun manja. Di mana tidak ada pergerakan apa pun dari bibir Arga kecuali mengunyah makanan di mulutnya. Anggap saja ia tidak mendengar suara aneh itu.


"Arga itu kayak tembok yang diberi nyawa tau gak? Diam, tapi bisa bernafas!" Laura mengulas senyum saat mengatakanya.


"Arga emang bukan pangeran. Tapi aku suka ..."


Bodo... bodo...


Arga tidak peduli dan masih asik makan.


"Arga ngga suka aku ngga masalah. Cinta Laura untuk Arga tulus, tanpa pamrih!"


Huekkkkk. Belajar dari mana cewe gila ini?Ingin rasanya Arga memuntahkan isi perutnya sekarang juga

__ADS_1


Mulutnya selalu saja lihai nyerocos dipenuhi kalimat lebay. Telinga Arga sampai berdengung ngilu mendengarnya.


"Arga, kalo lagi makan cool banget, sih?"


Damn!


"Pah, Mah, apa pun yang terjadi, pokoknya kalian harus izinin anak kalian untuk pindah sekolah. Kalau tidak mau anak kalian mati menahan emosi," batin Arga kesal.


"Tapi nanti kalau nikah sama Laura kan, Ga ?"


Bunuh aja ... bunuh ...


Gue gak kuat lagi...


"Arga kenapa sih diem aja?" Gadis itu mencebik kesal. "Laura lagi ngomong tau!"


"Lah, lo pikir gue peduli? " batin Arga lagi.


"Gaaaa ......."


Prangg!


Dentuman sendok dan garpu yang dibanting di atas piring berbunyi nyaring sekali. Laura langsung terhenyak karena kaget. Wajah Arga sudah berapi-api. Gadis itu telah menyulutkan amarah Arga dengan celotehanya.


"Lo bikin nafsu makan gue mendadak ilang tau ngga sih?" bentak Arga geram, lalu pergi meninggalkan Laura sendirian di meja makan.


"Ya Tuhan ... badboy banget sih kamu Ga. Kalau kayak gini aku kan jadi makin cinta."


Laura menaruh kedua tangannya di samping pipi. Otaknya mulai berkhayal yang bukan-bukan. Membayangkan masa depanya dengan Arga di masa yang akan datang..


Hihihihi.


***

__ADS_1


__ADS_2