Dihamili Adik Kelas

Dihamili Adik Kelas
Sudah Dua Hari


__ADS_3

Sudah dua hari Laura tidak masuk sekolah pasca sakit kemarin, hal itu membuat Rena makin khawatir karena ujian tinggal menghitung hari lagi. Otomatis dua hari tidak berangkat, Laura sudah ketinggalan materi ujian cukup jauh.


Rena yang sangat penasaran dengan obrolan Laura dan Arga waktu itu, akhirnya memutuskan untuk mendatangi Arga ke kelas 11.


Langkah kaki gadis itu dipenuhi hentakkan amarah saat menyusuri lorong kelas. Tibalah ia di sebuah ruangan bertuliskan 11 B, di mana apesnya, ia langsung ketemu cowok menyebalkan bernama, Roma.


"Eh, Bidadari? Kagak salah 'kan, Neng Rena yang cantik ini datang ke kelas aku?" sapa Roma yang langsung menghadang Rena di depan pintu.


"Gak usah cari gara-gara deh, lo! Mana Arga? Gue ada perlu sama dia!" ketus Rena sambil melipat tangannya di depan dada. Kepala gadis itu melongok ke dalam kelas, namun Arga tak ada di dalam sana.


"Arga engga ada, gimana kalau diganti Roma tampan yang satu ini?" ujar anak itu sembari menyisir rambutnya ke belakang dengan jari-jari tangan.


"Lo punya kuping gak si? Gue maunya ketemu Arga, bukan elo!" kesal Rena lalu mendengkus. Ia pun menghampiri murid lain yang otaknya waras.


"Kalian liat Arga gak?"


"Enggak, Kak! Kayaknya tadi keluar," jawab salah satu perempuan yang tengah bergerombol sambil menonton drama Korea di satu laptop.


"Ok, makasih!" Rena hendak berbalik, namun saat ia baru saja hendak memutar tubuh, tiba-tiba Roma sudah ada di depan mata hingga membuat dahi Rena berbenturan dengan dada anak itu.


"Anjiir!" seru salah satu teman laki-laki Roma. "Agresip banget bocah satu ini!" ujarnya kemudian.


"Lo ada syndrome apa si?" bentak Rena kesal. Sia-sia ia mendatangi kelas Arga Bukannya menemukan anak itu, Rena malah mendatangi penyakit hidupnya sendiri.


"Syndrome mencintaimu Neng Rena!" jawab Roma nyeleneh. Rena mendengkus sambil melipat tangannya di depan lagi. "Minggir lo!"


"Lah, ko malah marah? Dijawab salah engga dijawab salah, dasar wanita! Tapi kenapa aku malah tambah sayang ya?" Roma memiringkan kepalanya sedikit.


"Serah lo deh! Bisa-bisa gue ikutan gila kaya kelakuan lo!" Gadis itu lekas berlari meninggalkan kelas itu. Roma hendak mengejar, tapi Rena langsung berbalik sambil mengepalkan tangannya ke udara.


"Lo berani ngikutin gue?" ketus anak itu.


"Ya ellah! Galak banget neng Rena! Jangan galak-galak ngapa, entar cepet tua! Orang aku gak mau ngikutin kamu. Aku kan mau ke kantin," ucap Roma langsung putar arah ke sebaliknya.


Rena pun berjalan kembali. Dari kejauhan ia melihat Arga keluar dari ruang guru bersama satu temannya.


"Argaaa!" panggil Rena tanpa basa-basi. Arga menoleh tanpa menjawab. Ia menghentikan langkah sampai Rena berhasil menyusul anak itu.


"Gue mau ngomong empat mata sama lo!"


"Gue sibuk!" Arga berjalan kembali.


"Ini penting!" Rena menarik tangan Arga. Anak itu pun langsung menyentak cekalan Rena pada lengannya.


"Kalo lo gak mau ribut di tempat umum! Cepet ikutin gue!" bisik gadis itu dengan gertakkan. Mau tak mau Arga harus mengikuti langkah Rena yang hendak membawanya entah ke mana.

__ADS_1


Tibalah mereka di sebuah taman yang biasa dipakai oleh siswa-siswi saat ingin bersantai di jam istirahat.


Selain dingin dan sejuk, tempat itu juga cukup enak untuk dipakai mengobrol.


"Lo mau ngomong apa?" Arga membanting punggungnya di samping Rena. Ikut duduk dan bersandar pada sebuah kursi besi yang panjangnya sekitar 160 centi.


"Laura sakit, udah dua hari ini dia gak masuk sekolah pasca pingsan kemarin," ucap Rena. Arga lantas menoleh dengan tatapan datar yang sulit untuk diartikan.


"Apa hubungannya sama gue?" jawab pria itu kemudian.


"Gak usah sok suci! Kemarin gue denger sendiri, lo sama Laura lagi bahas tentang kehamilan. Lo apain dia?" tanya Rena murka sekaligus ketus.


"Gue gak ngapa-ngapain dia! Pede banget lo ngomong gitu sama gue" jawab Arga spontan.


Tentunya kata itu terdengar seperti kentut yang berlalu di telinga Rena begitu saja. Jelas Rena tidak bisa langsung percaya dengan ucapan anak itu.


"Gak usah bohong sama gue! Kalo Laura emang gak lo apa-apain, mana mungkin dia bisa sampe sakit-sakitan begitu!" ujar Rena.


"Lah mana gue tau!" Arga mengedikkan setengah bahunya, santai. Ia hendak pergi lagi, namun Rena kembali mencekal pria itu dengan tatapan yang tambah mengintimidasi.


"Gak usah ngeles lagi, Ga! Lo itu udah ketangkep basah! Jadi mendingan lo ngaku, lo apain anak itu sampai dia sakit-sakit begitu? Gak biasanya juga Laura muntah-muntah dan berperilaku aneh kalo kagak diapa-apain," kata Rena lagi.


"Lo ngerti bahasa manusia kagak? Udah gue bilang gue gak tau apa-apa, rempong banget lo jadi cewek! Kalo lo ga percaya ya tanya aja orangnya, ngapain jadi nyecer gue?" bentak Arga sambil menonyor dahi Rena, persis seperti apa yang dilakukan anak itu kepada Laura kalau sedang sedih.


Arga tak kalah ketus. Setelah itu ia meninggalkan Rena yang membeku karena sikap kasar Arga barusan.


Namun, di balik rasa kesal Arga saat ini, Rena dapat melihat jelas bahwa mata anak itu menyimpan suatu kegelisahan. Sepanjang mereka ngobrol dan saling ngotot, Arga sama sekali tidak berani menatap Rena.


Anak itu terus berkilah dengan nada suara gugup dan mata yang melirik ke segala arah. Terlihat sekali bahwa Arga memang sudah melakukan hal yang tidak baik kepada Laura.


***


"Jadi dia beneran hamil?"


Arga bergumam sepanjang ia berjalan menuju kelas. Wajah anak itu berubah pucat pasi.


Tapi kenapa dia gak mau bilang kalo beneran hamil, batin anak itu. Keringat sebiji gigi monyet keluar dari tubuh Arga. Pria itu lantas menyandarkan punggungnya di bangku sesampainya ke dalam kelas.


Beberapa murid yang melihat perubahan ekspresi Arga mendadak diam.


Arga jelas tengah kebingungan memikirkan kemungkinan buruk bahwa Laura benar-benar hamil anaknya.


Apa jadinya ia jika Laura sampai hamil? Dia masih terlalu kecil untuk menjadi seorang ayah. Terlebih Arga masih sekolah. Mau dikasih makan apa anak dan istrinya kalau ia sampai harus menikah?


Arga belum ingin menjalin cinta dengan siapa pun. Bahkan membayangkan sebuah pernikahan suatu hari nanti saja, anak itu tidak pernah sama sekali.

__ADS_1


"Ga, lo kenapa?" Roma datang menghampiri.


"Kenapa apanya?" tanya Arga dengan suara lirih.


"Kenapa lo dicariin Rena? Emang lo ada urusan sama dia?" kata pria itu.


"Kepoooo!" ujar Arga lantas berseru.


"Serius gue Dongo! Awas aja kalo lo berani gangguin calon bidadari Surganya gue, lo bakalan berurusan sama gue, kakak gue, bapak gue, kakek gue, paman gu—"


"Brisik! Lo gak liat ada guru?" Salah satu teman Roma memotong pembicaraan mereka secepat kilat. Hal itu membuat Roma spontan berbalik sambil menatap ke arah si Guru yang tengah memandangnya dengan tatapan menghardik.


"Siang Bu Guru Beti Indah Lestari!" sapa Anak itu.


*


*


*


Sepulang sekolah, Arga melajukan motornya ke rumah Laura. Dengan menenteng sekeranjang apel, ia nekat menjenguk anak itu sambil membicarakan soal kehamilan.


Arga harus memastikan kalau Laura memang tidak hamil, barulah setelah itu ia bisa menarik napas lega.


[Gue lagi jalan ke rumah lo!]


Arga berhenti di tengah jalan, lalu mengirim sebuah pesan kepada Laura. Cukup lama ia menghentikan motornya di dekat pohon asem, tapi Laura tak kunjung menjawab pesan tersebut.


"Kalo centang satu artinya gak kekirim 'kan, ya?" Anak itu bergumam sendiri. Mungkin ia sedang bertanya pada rumput yang bergoyang.


Arga pun menghubungi nomor Laura, hanya ada tulisan memanggil tanpa berdering.


"Apa dia marah gara-gara gue gak pernah balas pesannya?" Arga membaca lagi pesan Laura yang berderet dari atas sampai ke bawah. Pesan sebanyak itu ia dapat sekitar dua hari lalu, dan dua hari ini Arga tak pernah mendengar sapaan tidak berguna dari Laura.


Tak mau terus-terusan diliputi perasaan cemas dan penasaran, akhirnya Arga memberanikan diri ke rumah Laura tanpa izin terlebih dahulu.


Motor anak itu terus melaju hingga sekitar lima belas menit kemudian Arga sampai di halaman rumah Laura. Jantung pria itu kontan berdebar saat seseorang dari dalam sana terlihat memutar handle pintu seolah tahu kedatangan Arga.


Bismillah, apa pun jawabannya gue harus terima dan tanggung jawab, batin Arga. Keringat makin bercucuran. Ia terus menatap pintu tersebut sambil meremas cekalannya pada keranjang apel.


"As … sa .. sassalllamuallaikum," sapa Arga tergugu-gugu.


Pintu pun dibuka perlahan.


"Waallaikumus salam!"

__ADS_1


***


__ADS_2