Dihamili Adik Kelas

Dihamili Adik Kelas
Put ....


__ADS_3

Sementara itu, Rena yang sejak tiga hari lalu dititipi Gama menurunkan anak itu dari mobilnya.


Anak itu terus saja menangis karena badannya agak demam. Ia kemudian melangkah menuju kontrakan Laura. Tampak pintu rumahnya terbuka, pertanda Laura mungkin sudah pulang dari tempat kerjanya alias rumah si Arga.


"Ra, kamu lagi ngapain? Anak kamu sak--"


"Eh, Satria?" Rena tersenyum kikuk saat melihat Satria ada di ruang tamu. Si Laura entah ke mana. Gama terus merengek, anak berusia delapan tahun itu minta turun dan langsung mengajak Rena ke kamar.


"Ke dalem dulu, ya," ucap Rena lalu menyeringai. Gadis itu gagas menuju kamar Laura.


"Ra, Gama sakit," lirihnya masuk bersama Gama. Laura menoleh, buru-buru wanita itu menyeka air matanya sebelum dilihat oleh Gama.


"Kenapa?" tanya Rena.


"Entar aja gue jelasin!" Laura langsung membopong Gama. Beberapa hari tak bertemu membuat wanita itu sangat merindukan putra semata wayangnya.

__ADS_1


"Ibu kenapa?" tanya Gama. Matanya berbinar polos saat menatap wanita yang sedang memangkunya itu.


"Gak papa, Sayang. Kamu sakit ya?" Laura mendekap tubuh Gama untuk mengalihkan perhatian anak itu.


"Sorry, Ra! Tadi aku bawa Gama ke sini karena dia terus-terusan nanyain kamu. Bukannya aku gak mau ngurusin, tapi kayaknya Gama emang lebih nyaman tinggal sama kamu," ujar anak itu lalu ikut duduk di tempat tidur, tepat di depan Laura.


"Entar kita bahas ini ... aku mau nyuruh Satria pergi dulu," ucap Laura. "Tolong temenin Gama sebentar ya, Ren." Laura menitipkan anak itu kepada Rena. Wanita itu segera keluar dari kamar dan langsung menemui Satria yang masih termangu di ruang tamu.


"Ibu … ibu … ibu!" Gama berteriak memanggil nama ibunya. Teriakan yang terdengar memekakkan telinga, dan membuat hati Laura tak tega mendengarnya.


"Tidur sama Tante Rena dulu ya, Gam! Nanti Ibu ke sini lagi." Rena mencoba menenangkan Gama sebisa mungkin. Pantas saja Gama demam dan tak biasanya teriak-teriak memanggil Laura, ternyata ibunya sedang sedih, pikir Rena. Ia bermonolog dengan batinnya sendiri.


***


"Udah selesai nangisnya?" tanya Satria sambil memicingkan matanya, malas.

__ADS_1


"Sat, kayaknya hubungan kita mending cukup sampai di sini aja deh," ucap Laura spontan.


Hal itu membuat Satria marah dan langsung memberondong Laura dengan cacian menyakitkan.


"Kenapa minta putus? Udah bosen pacaran sama OB miskin macam aku? Kamu merasa bangga ditaksir direktur, makanya aku dibuang begitu aja?"


Satria mencengkeram kerah baju Laura kuat-kuat. "Sadar Ra ... sadar! Dia itu orang penting ... gak mungkin dia mau sama kamu. Andai kata dia ngedeketin kmu, pasti karena dia mau nyicipin badan kamu," ujar Satria.


Plakk!


Satu tamparan mendarat di pipi Satria.


"Denger baik baik ya Satria Candra Utomo ... aku mutusin kamu bukan karena aku lebih milih dia dibanding kamu, tapi karena aku udah nggak kuat sama mulut kamu yang jahat!" teriak Laura. Ia sampai lupa bahwa Gama sedang ada di dalam kamar. "Dan satu lagi ... Antara aku dan diretur itu nggak ada hubungan apa-apa. Aku nggak pernah selingkuh, jadi stop nuduh aku selingkuh di belakang kamu."


Laura terengah engah. Napasnya naik turun dengan tatapan garang yang sedari tadi ia coba pertahankan. Sebisa mungkin Laura tak mau menangis di depan Satria.

__ADS_1


__ADS_2