
"Aduh!" Laura memegangi bajunya yang tiba-tiba mengetat. Gara-gara dia makan banyak sekali, baju mahal yang dipakainya terasa sesak sekali.
"Kenapa lagi?" Arga yang ada di sampingnya menoleh. Tentunya masih dengan wajah dingin ciri khasnya.
"Baju saya kesempitan Pak! Kayaknya pegawai yang milihin baju salah ngukur nih," ujar perempuan itu.
Arga mendengkus ketus sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Itu bukan kesempitan, tapi kamu yang kebanyakan makan! Memangnya aku tidak tahu kamu menghabiskan seluruh makanan di atas meja?"
"Eh, masa si, Pak? Bapak Arga ini suka bener deh kalau bercanda!" Laura sengaja menabrakkan bahunya ke arah Arga.
"Tidak usah sok akrab dengan saya!" ujar lelaki itu.
Tak lama kemudian mereka telah sampai di pesta. Entah itu pesta apa, yang jelas semua mata tertuju pada mereka berdua.
Beberapa kolega-kolega bisnis Arga mulai berdatangan menghampirinya. Rata-rata mereka mengucapkan selamat kepada Arga dan Laura, tapi wanita itu benar-benar tidak paham dengan maksud mereka.
Karena kesal sendiri, akhirnya Laura berjalan menuju stand makanan. Di sana ada dua wanita yang menghampiri Laura dengan wajah berseri-seri.
"Hai, tunangan Arga ya?"
__ADS_1
"Eh?"
Tunangan apaan, batin Laura. Tapi ia sengaja tak bicara apa-apa.
"Kenalin, kita berdua teman kuliah Arga!"
"Oh, aku Laura," ujar perempuan itu. Setelah berjabat tangan Laura langsung mengambil makanan yang dia mau. Wanita itu memilih menjauh dari kerumunan orang-orang supaya tidak ditanya macam-macam.
"Kok mereka bisa ngira aku tunangan Arga ya?" Bola mata Laura berputar menunjukkan ekspresi bingung. "Oh iya! Ini 'kan pesta kapelan? Wajar dong kalo orang ngira aku adalah tunangan si Arga!"
Akhirnya perempuan itu lanjut makan lagi tanpa peduli.
Srakkk. Dia mendengar ada bunyi robekan.
Mampus bajunya robet, batin Laura.
3 Hari berlalu!
Berarti masih ada waktu sekitar empat hari lagi di mana Laura harus lanjut jadi pembantu di rumah Arga.
Rasanya sangat membosankan karena Arga tak pernah sekalipun pulang ke rumah itu.
__ADS_1
"Udah tiga hari aku di sini, dan Arga nggak pernah nongol sama sekali. Apa sebaiknya aku pulang ke rumah aja," ujar Laura.
Ia juga sudah sangat merindukan Gama. Anak laki-laki itu untungnya mau dititipin ke Rena.
Setelah menimbang-nimbang dan berpikir sebanyak lima ratus kali, akhirnya Laura memutuskan untuk pulang sejenak.
Ia berniat menghubungi Rena sesampainya di rumah, tapi ---
Pemandangan yang tidak menyenangkan tersaji di depan mata. Satria sudah berdiri di depan pintu kontrakan Laura. Matanya menyalang tajam. Menandakan bahwa pria itu mau ngajakin Laura ribut.
"Enak ya sekarang kerja di rumah mantan. Tinggal serumah pula ... Pasti kamu udah diapa-apain sama dia!"
"Maksud kamu apa, Sat?" Laura menautkan dua alisnya. Hari ini badannya benar-benar terasa tidak enak sekali, tapi Satria malah memancing kemarahan Laura dengan kata-kata tidak enak.
"Aku itu di rumah pak direktur jadi pembantu! Tugasku cuma bersih-bersih dan jagain tempat itu doang. Kamu kamu nggak ngerti nggak usah ngomong macem-macem deh!"
"Masa sih?" Satria memicingkan pandangannya.
Laura memilih diam. Dia membuka kunci pintu lalu masuk tanpa mengajak Satria masuk.
"Ra ...," seru lelaki itu.
__ADS_1
"Apalagi sih, Sat? Kalo kamu mau ngajakin ribut mendingan kamu pulang! Aku capek banget," ujar Laura tak mau meladeni.