
Laura keluar dari ruangan Arga dengan penampilan yang berbeda. Kontan semua mata tertuju pada perempuan itu.
Beruntung tak ada satu pun yang mengenal Laura di sana. Mereka hanya tahu laura seorang OG, tapi tidak tahu siapa nama Laura karena perempuan itu tidak memegang area lantai tersebut.
"Huuuuuuh." Laura berusaha mencari setitik udara di tengah-tengah rasa sesaknya. Tentu saja dia nyaris kehabis napas karena perubahan wujudnya.
Laura bak model yang cantik jelita. Di sampingnya ada Arga si direktur baru. Jelas semua itu menimbulkan tanda tanya besar di kepala orang yang melihatnya.
"Ehemm!" Laura berdeham di dalam lift. Arga menoleh. Menatapnya dengan muka datar.
"Langsung ngomong aja. Nggak perlu pake kode-kode!" ketus lelaki itu.
Perempuan yang sedang dilanda perasaan campur aduk itu memutar bola matanya. Gedegnya anak itu sudah mencapai ubun-ubun. Tetapi dia tahan sebisa mungkin karena dua hari lagi gajian. Dia harus tetap menahan diri supaya tidak dipecat duluan.
"Saya mau ambil tas di pantri boleh?" tanya Laura hati-hati.
"Waktu kamu lima menit," jawab Arga ketus.
Laura membalasnya dengan senyum. Seketika itu juga Arga langsung berpaling, entah karena jijik, atau karena terpesona dengan senyum Laura yang malas.
__ADS_1
Setelah lift terbuka, buru-buru Laura turun ke basement tepatnya menuju pantri. Semua mata teman-teman Laura langsung tertuju pada perempuan itu.
"Ya Tuhan Lauraaaaaa. Ini Laura?" Mendelik, mata gadis cempreng bernama Santi itu bahkan tak bisa berkedip. Tentu saja reaksi itu terjadi karena penampilan Laura yang berubah drastis. Ibaratnya dari dekil, sekarang berubah menjadi kinclong seperti pelek mobil lamborgini.
"Iya ini gua. Biasa aja Santi. Gue lagi dihukum."
"Hukuman jenis apaan yang didandanin kaya artis gitu? Gue juga mau kalee, kalo dihukumnya model begitu," celetuk si Santi.
Laura melenggang tak peduli. Dia memilih untuk segera ke pantri mengambil tasnya.
"Raaa ... Mau ke mana? Cerita dulu ngapa!" tahan Santi yang baru saja masuk. Teman lain yang kebetulan ada di pantri mengangguk setuju.
"Boro-boro naik jabatan. Yang ada sebentar lagi gue dipecat."
"Lah ko gitu, Ra?"
"Kata gue juga ceritanya panjang. Udah gue buru-buru," ujar Laura.
*
__ADS_1
*
*
Tak terasa waktu bergulir begitu cepat. Satu jam kemudian mereka sudah sampai di bandara Singapur. Sekarang mereka sedang menuju hotel tempat peristirahatan.
"Ini mau kemana, Tuan?" tanya Laura. Ini adalah kalimat kedua yang Laura lontarkan setelah di dalam lift tadi.
Sejak saat itu mereka saling diam. Apalagi selama di dalam pesawat. Arga terus saja buang muka dan enggan menganggap Laura Arga.
Kalau nggak mau liat mukaku kenapa mau ngajak aku jauh-jauh ke sini? Dasar manusia aneh, batin Laura.
"Kita ke hotel istirahat satu jam. Setelah itu kita langsung ke acara. Oh ya, setelah ini selesai acara ini kamu tidak ke kantor lagi, tapi langsung ke rumah saya."
"Hah, mau ngapain?" Laura melongo heran.
"Jadi pembantu di rumahku satu Minggu. Itu adalah hukuman yang tepat buat kamu."
"Hah, yang benar saja Tuan!"
__ADS_1
"Ya benarlah! Memangnya sejak kapan saya salah? Kebetulan saya baru menempati rumah baru dan tidak ada pembantu," ujar lelaki itu. Tiba-tiba Laura merasa dejavu. Sepertinya dia pernah mengatakan itu waktu jaman mereka masih putih abu-abu, pikirnya.