Dihamili Adik Kelas

Dihamili Adik Kelas
Ngaku Aja, Ra!


__ADS_3

"Ga, kenapa kamu panggil dokter gak bilang dulu?"Laura mendudukkan dirinya panik.


"Emangnya kenapa, Ra? Ya namanya juga orang sakit, wajar dong kalo aku panggilin dokter. Lo itu sebenernya kenapa si, apa yang lo sembunyiin dari gue sampe lo ketakutan tiap kali gue bahas dokter?"


"Engg ...." Tak bisa menjawab, Laura meneguk salivanya kembali.


Dari posisi berdirinya kini, Arga dapat melihat wajah ketakutan Laura saat ini.


"Coba jujur sama gue apa yang terjadi sebenernya!" bentak Arga kesal. Ia bahkan sampai melipat tangannya di depan dada.


"Lo, hamil?"


"Lo takut gue gak mau tanggung jawab?"


"Makanya lo sengaja sembunyiin semua itu dari gue?"


Rentetan pertanyaan Arga membuat Laura nyaris mati membeku. Ia sungguh tak memiliki jawaban logis untuk menjawab semua pertanyaan itu.


"Ngaku aja Ra! Apa yang sebenarnya terjadi! Jangan bikin gue tambah pusing karena sikap lo yang gak jelas," maki Arga sekali lagi.


"E ...engga, Ga! Ngga ada apa pun yang terjadi sama gue. Gue cuma takut disuntik."


"Terus lo pingsan-pingsan itu karena apa?" sentak Arga.


"Permisi!" Tiba-tiba suara bariton terdengar dari arah luar. Sejenak Laura diselamatkan oleh dokter yang akan memeriksanya nanti.


"Silakan masuk, Pak!" Arga gagas membukakan pintu untuk si dokter. Laura yang gugup lantas menarik selimut. Ia duduk sambil menutupi tubuhnya dengan selimut.


Mikir Ra! Cepet mikir! Jangan sampai dokter itu tau kalo lo lagi hamil!" Batin Laura menjerit pilu.


Karena takut mengganggu si dokter, Arga memutuskan keluar. Meninggalkan Laura dan si dokter berdua saja.


"Jadi keluhannya apa?"


Si Dokter mulai mengambil alat tensi darah. Karena kata Arga Laura sering pingsan, jadi hal pertama yang dokter itu lakukan adalah mengecek tensi darah Laura.


"Wah rendah sekali darahnya," ucap si dokter.


"Iya Dok! Kalau saya sedang haid, tubuh saya sering lemes begini." Laura sengaja mengawali dengan pembahasan itu agar si dokter tidak curiga kepadanya. Setidaknya dokter tidak melakukan pemeriksaan aneh-aneh yang membuat Laura ketahuan hamil.


"Oh sedang haid! Kamu ini darahnya rendah sekali. Nanti saya akan menambahkan obat penambah darah supaya kamu pulih ya," ucap si Dokter.


"Baik, Dok!" Laura mengangguk.


Pemeriksaan berlanjut. Di mana Laura dapat lolos dari pemeriksaan tes kehamilan. Si dokter benar-benar mengira Laura memiliki riwayat darah rendah karena hal ini.

__ADS_1


Dokter juga tak memberikan obat aneh-aneh. Hanya obat pusing, vitamin, dan obat penambah darah biasa.


*


*


*


"Gimana keadaan Laura, Dok?" Arga langsung menyergah begitu dokter keluar dari kamar Laura.


"Sepertinya dia ada riwayat anemia, darahnya rendah sekali, tadi saya sudah memberikan obat penambah darah dan vitamin!" ucap si dokter.


"Hanya itu, Dok? Benar tidak ada penyakit lain?" Arga berusaha menjuruskan pertanyaannya. Barang kali si dokter tahu sesuatu.


"Ya, hanya itu! Kalau mau tahu lebih lanjut kamu bisa bawa pasien ke rumah sakit. Nanti di sana akan mendapat pemeriksaan laboratorium," kata Dokter itu.


"Baik, Dok! Tapi ngomong-ngomong kenapa akhir-akhir ini dia sering sekali pingsan ya, Dok?" tanya Arga.


Dokter itu tersenyum. "Tentu saja karena kekurangan darah! Apalagi dia sedang menstruasi, jadi otomatis banyak mengeluarkan darah," ujar si dokter.


"Menstruasi?" Arga mengernyit. Jika Laura mendapatkan menstruasinya, berarti anak itu memang tidak hamil.


"Iya, makanya tubuhnya terlihat lemas dan pucat. Semisal nanti tidak ada perkembangan setelah meminum obat dari saya, Anda harus membawa pasien ke rumah sakit supaya mendapat penanganan lebih lanjut."


"Baik, Dok!"


"Lo haid?" tanya anak itu dengan nada suara menyelidik.


"Iya, Ga! Aku haid. Emangnya kenapa? Dokter bilang aku pingsan karena kurang darah."


"Hmmm." Arga berdeham.


Ternyata insting gue salah, batin Arga.


"Tapi kok tumben banget lo haidnya gak sakit perut? Bukannya biasanya lo bilang selalu sakit perut kalo lagi haid?" Arga melemparkan tatapan curiga. Alisnya menukik tajam, dan itu sukses membuat Laura kesulitan menghirup oksigen.


"Sakit si, Ga! Tapi ga seberapa." Anak itu menyeringai jenaka supaya Arga tidak curiga.


Duh, ternyata ingatakan Arga tajem juga, kesal anak itu dalam hatinya.


"Ya udah! Sekarang lo istirahat aja. Besok pagi kita balik ke Depok."


"Lah, ko balik?" Gadis itu langsung melayangkan kalimat protes. Susah payah ia merengek pada sang nenek demi mendapat bekal untuk liburan, Arga malah mengajaknya pulang begitu saja.


"Kita 'kan belum ke Nusapenida," ucap anak itu.

__ADS_1


Mendengar itu Arga semakin geram. Tatapannya yang semula bersahabat menjadi agak posesif.


"Kondisi lo lagi kaya gitu. Nanti kalau lo tambah parah di sini gimana? Mendingan kita pulang biar lo bisa istirahat," ujar Arga.


"Tapi, Ga ...."


"Gak ada tapi-tapi! Kalo lo gak mau berarti gue pulang sendiri. Nanti biar gue aduin ke nenek kalo lo gak mau nurut sama gue sesuai janji lo!"


"Yah, Argaa ...." Gadis itu memanyunkan bibirnya lucu.


*


*


*


Setela berlibur dari Bali, Laura dan Arga mulai menjalani aktivitas seperti biasanya.


hubungan Arga dan Laura pun kian lama mulai membaik. Walau mereka berdua kadang masih suka bertengkar di mana Arga selalu bersikap jutek, di mana suara Laura akan menggema nyaring setiap kali meneriaki nama Arga. Namun semua itu menjadi sebuah kehangatan tersendiri dalam proses kedekatan mereka.


Arga berniat membuka hati untuk Laura, tanpa Arga tahu bahwa Laura berniat melakukan sebaliknya. Gadis itu ingin meninggalkan Arga setelah lulus SMA nanti.


Berat memang!


Di saat Arga membuka diri dan mau dekat dengan Laura, ia malah harus dihadapkan dengan kenyataan pahit bahwa dirinya tengah mengandung anak pria itu. Laura jelas tak mampu merusak masa depan Arga begitu saja.


Ya, beginilah cinta. Laura memang harus berkorban demi masa depan orang yang ia cintai.


"Ga, Laura kenapa ya, sekarang gak mau ngomong sama gue lagi." Roma memulai pembicaraanya.


Arga tak menjawab karena ia sendiri sedang tersenyum-senyum dengan ponselnya.


"Ga .... gue ngomong lo dengerin kagak!"


Arga tersentak. Buru-buru ia mengantongi ponselnya. "Ada guru ya?" Arga menatap sekeliling kelas, tapi tak ada tanda-tanda guru masuk.


"Gue lagi nanya! Siapa yang bilang ada guru?"


"Oh! Lo nanya apa?"


Roma mendesah. "Gue nanya ... Laura kenapa sekarang jadi gak mau ngomong ama gue lagi. Lo tau gak kenapa?"


Lelaki itu mengedikkan bahunya. "Gak tau! Mungkin dia marah karena lo kerjain dia waktu itu."


"Lah, kenapa harus marah? Kan dia kagak kenapa-napa."

__ADS_1


Mendengar itu, Arga mengepalkan satu tangannya di bawah kolong meja.


Tidak tahu 'kah, Roma. Kalau ia dan Laura sampai harus kehilangan kesucian karena ulah nyelenehnya waktu itu.


__ADS_2