
"Kenapa lagi? Anggap aja ini salam pertemuan sekaligus perpisahan kita sebelum aku dipecat. Gak mungkin juga 'kan, bos kamu yang terhormat ini membiarkan karyawan kurang ajar tetap bekerja di perusahaannya?" tanya Laura dengan mata memicing sinis.
Posisi tangannya masih menyalami Arga. Dan laki-laki itu hanya mematung tanpa berniat menepis tangan Laura.
"Dah, ah, salaman mulu kaya lebaran aja," sungut wanita itu saat menyadari tatapan Roma mulai tak biasa.
Dia kemudian bangun dari posisi dusuk. Tapi belum sempat melang, Roma kembali menarik tangan wanita itu supaya duduk kembali.
"Mau kemana, Ra? Masalah kalian belum selesai. Lagi pula gak ada juga yang mau mecat kamu. Ya 'kan, Ga?"
"Hmmm." Lelaki dingin itu berdeham tanpa kata.
Kontan saja wajah Laura bersemu merah. Sudah mengacau di ruangan bos, malah tidak jadi dipecat.
"Kenapa gak dipecat aja? Bukannya kesalahan aku udah fatal banget ya?" tanya Laura. Dia melihat lagi sekeliling ruangan Arga yang porak poranda.
Duh, malu banget, pikirnya dalam hati.
__ADS_1
Arga berdiri. Dia menatap Laura dengan muka datarnya. "Kamu sudah menuduh orang sembarangan. Membuat kulit saya lecet karena dilempar bunga. Lalu yang terakhir membuat ruangan saya berantakan. Jadi ...."
"Ga!" Roma menyela. "Udahlah, kasih dia kesempatan sekali lagi. Anggap aja ini sambutan buat direktur baru."
"Sambutan pala lo peang!" kesal Arga. "Kamu urus deh, aku capek!" kesalnya. Arga yang memilih berlalu, lantas masuk ke sebuah ruangan. Tinggal lah Laura dan Roma berdua, dan duduk saling berhadapan sambil memasang wajah cengo.
"Yaudahlah! Udah clear kan masalahnya. Boss kamu juga setuju aku keluar."
"Jangan gitu lah, Ra. Arga cuma lagi emosi sesaat."
"Aku gak peduli ya, Roma. Itu bukan urusanku! Karena aku bersalah, jadi aku sadar diri."
Laura terdiam. Dia benar-benar bodoh karena tidak memikirkan kedepan. Gajinya yang sekarang saja masi kurang untuk biaya hidup, apalagi jika ia jadi pengangguran dadakan.
Gama pasti akan menderita.
"Aku butuh kerjaan ini. Tapi aku yakin Arga gak bakalan maafin kesalahan sefatal ini, 'kan?" Mata Laura berkaca-kaca, tapi ia segera menunduk supaya Roma tidak melihatnya.
__ADS_1
Suasana mendadak hening. Setelah terdiam beberapa saat, Roma nyeletuk ringan.
"Kenapa jadi gini si, Ra? Bukannya dulu kamu pernah bilang cinta mati sama Arga. Masa belum mati cintanya udah mati duluan."
"Gak taulah! Aku juga nyesel banget pernah bilang kaya gitu," ujar Laura. Entah kenapa hatinya mendadak dongkol mendapat pertanyaan model begitu.
"Padahal kalian udah lama banget gak ketemu. Kirain bakalan akur, pelukan, nostalgia, eeeh, malah kaya Banteng Garong semuanya," sungut Roma.
"Hmmm. Gak tau!" Laura melengos malas. Selalu saja jawaban pelarian yang keluar dari mulut gadis itu.
"Dulu 'kan bucin banget sama Arga. Serius gue bingung ... Masih gak nyangka Banteng Garang yang nyerang Arga itu kamu!" Roma menggelengkan kepala. Terus terang ia masih tidak habis pikir kenapa Laura bisa lebih garang daripada Arga.
"Apa ada konspirasi tersembunyi di antara kalian?" celetuk Roma.
*
Maaf mentemen. Baru muncul lagi. Aku habis kena musibah. Harus bedrest berbulan2, baru keluar dari rumah sakit juga. Insya Allah kalau sehat aku akan slalu up. Buat yang mau berteman, kenalan, nanya kapan update, ngasih semangat, atau mau tau info novelku yang lain. Boleh hubungi nomorku ... 081229048411-Anarita.
__ADS_1
Jangan lupa sertakan nama. Terima kasih.