
Hari senin pasca selesai upacara.
Kemarahan Arga memuncah sejak pertama kali ia menginjakkan kakinya di sekolah pasca kejadian semalam. Emosinya meletup-letup. Arga sengaja mengajak Roma ke tempat sepi. Di belakang gedung kantin pria itu langsung menghajarnya secara membabi buta.
Beberapa kali Arga menonjok Roma hingga lelaki itu tersungkur tak berdaya.
"Mau lo apa s*tan!"
Bugh!
Satu tonjokan kembali melayang lagi setelah Arga mengangkat Roma hingga berdiri.
"Sabar dulu Ga! Lo ada apa, sih?"
"Lo yang ada apa? Ngapain lo kunciin gue di ruang ganti bareng Laura? Itu pasti perbuatan elo, 'kan?"
Gila tak mengelak saat Arga bertanya seperti itu. "Iya perbuatan gue! Tapi niatnya gue cuma ngunci satu jaman, eh, gue kelupaan pulang. Itu juga gue rela balik ke sekolah lagi bukan pintu buat demi lo!"
"Demi gue mata lo soak!" Arga kembali meninju wajah Roma. Emosinya sudah di ujung tanduk dan tidak bisa dibendung lagi.
__ADS_1
Sejak datang ke sekolah tadi Arga terus saja memikirkan bagaimana caranya memberi Roma pelajaran tanpa ketahuan siapa pun. Dan akhirnya ia memilih tempat ini sebagai sasaran paling tepat.
"Terus maksud lo ngasih obat perangsang ke Laura buat apaan? Kelakuan lo gak lucu ya setan!"
Arga hendak menonjok lagi, tapi kali ini Roma memberanikan diri untuk menepis.
"Sabar coy! Gue ngasih kaya gitu tuh biar Laura tau kalo lo normal. Kalo lo minum itu pasti itu lo otomatis berdiri saat liat cewe kan? Jadi gue sengaja membantu lo buat membuang prasangka buruh Laura," ucap Roma.
Dia pikir pengaruh obat perangsang hanya sebatas berdiri saja. Dia pikir otak Arga tidak menggila saat dalam pengaruh obat itu.
"Lo kalo gak ngerti yang kaya gituan gak usah macem-macem, deh! Kelakuan lo itu bahaya monyet!"
"Ya bahaya! Otak lo aja yang gak mikir!" kesal Arga geram.
Sebelumnya Roma memang hanya sekadar browsing tentang obat yang bisa membuat milik pria berdiri di depan seorang gadis, lalu tanpa pikir panjang ia lekas membelinya di apotik terdekat. Ia pun tidak membaca pengaruh lain dari obat tersebut.
"Ya elah! Cuma keliatan itu lo berdiri di depan Laura masa malu? Cupu banget si lo, Ga!" Roma malah mencibir dengan tidak tahu dirinya.
Hal itu membuat Arga semakin marah, tetapi ia tidak mungkin mengatakan pada Roma bahwa hal itu telah membuat Laura kehilangan keperawanannya, maka dari itu hanya sebatas ini lah rasa marah yang bisa ia luapkan
__ADS_1
Lagi pula berdebat dengan Roma, lama-kelamaan ia jadi ketularan gila. Pria itu memutuskan untuk pergi setelah puas memukuli.
***
Selain tidak bisa tidur sampai pagi karena memikirkan kondisi Laura, Arga juga berinisiatif membawa dua helm agar ia bisa mengantarkan Laura pulang ke rumah hari ini.
Ia melakukan itu bukan karena cinta, melainkan karena dirinya masih merasa bersalah akibat kejadian malam kemarin.
Sayang setelah menunggu hampir dua jam di depan gerbang, Laura tak kunjung menampakkan wujudnya juga. Salah satu teman sekelas Laura mengatakan pada Arga bahwa hari ini Laura izin tidak masuk karena sakit.
Hal itu pun membuat Arga kembali dirundungi perasaan bersalah. Pria itu melajukan motornya ke toko buah. Lantas membawa motornya ke rumah Laura untuk menjenguk keadaannya wanita itu.
Sesampainya di rumah Laura, Arga segera mengetuk pintu. Hanya ada nenek Laura saat pria itu masuk ke ruang tamu. Laura sendiri entah ada di mana.
"Laura sedang tiduran di kamar Nak Arga! Kalau mau ketemu masuk aja, tapi pintunya jangan ditutup!"
"Baik, Nek!" ucap Arga. Ia pun langsung masuk ke kamar Laura tanpa menunggu lama lagi.
Nenek Luara memperbolehkan Arga datang ke rumah ini karena ia tahu bahwa anak muda itu adalah calon kandidat yang dijodohkan dengan Laura oleh mendiang suaminya.
__ADS_1
Nenek sengaja memberi ruang kedekatan bagi mereka, meskipun rencana perjodohan itu belum dibicarakan ulang.