
Laura berjalan kaki di tengah guyuran air hujan. Ia tak habis pikir dengan hidupnya. Kenapa bisa berakhir dengan kekacauan seperti ini?
Awalnya Laura hanya gadis biasa yang baru mengenal apa itu masa pubertas. Tapi, kini gadis itu dihadapkan dengan takdir yang siap memporak-porandakan kehidupannya dalam sepersekian detik.
Arga, orang yang Laura cintai kini membencinya karena perbuatannya sendiri. Bahkan ia sempat mengatakan kalau ia tak mau mengenal Arga lagi.
"Kenapa semuanya jadi gini?" Gadis itu memeluk tubuhnya sendiri. Rasanya Laura ingin sekali mengakhiri hidup kalau tidak ingat dosanya yang menumpuk. Laura merasa dirinya masih terlalu kecil untuk menghadapi konflik sebesar ini.
"Maafin aku Ga! Aku beneran gak bisa narik kamu ke masalah yang aku buat sendiri. Apalagi sampai ngehancurin masa depan kamu! Aku beneran gak bisa … aku gak mampu," ucap gadis itu.
Ia terus berjalan tanpa arah tujuan.
Hingga tak terasa langkah Laura yang tanpa henti membawa gadis itu sampai ke depan rumah Rena. Gadis itu berdiri di depan gerbang rumah Rena sejenak. Ia menimbang lagi keputusannya, apakah ia harus masuk, atau kembali berjalan tanpa tujuan dalam keadaan basah kuyup begini.
Hentikan!
Jangan lakukan itu!
Kasihanilah bayi yang ada di perutmu Laura!
__ADS_1
Suara yang entah datangnya dari mana, tiba-tiba menggema di telinga Laura. Benar yang dikatakan suara hati tersebut. Laura tidak boleh menyiksa diri atau hal itu akan berimbas pada bayinya.
Dengan terpaksa, akhirnya Laura menekan bel rumah Rena. Tak lama kemudian Rena datang dengan wajah panik. Ia memayungi Laura sambil menuntunnya masuk ke dalam.
"Bi, tolong bikinin teh hangat dua, anterin ke kamar!" teriak Rena.
Ia pun menuntun Laura ke kamarnya setelah itu.
"Ada apa Ra? Kenapa lo jadi kayak gini? Ngapain hujan-hujanan segala coba?" geram gadis itu. Mereka lalu masuk ke kamar. Rena langsung menyuruh Laura ganti baju sementara dirinya sibuk membantu Laura mengeringkan rambut dengan hair dryer.
"Maafin gue Ren! Lagi-lagi gue ngerepotin lo terus begini. Gue gak tau harus pergi ke mana lagi di saat hati gue kacau kayak gini."
Berjalan di tengah derasnya guyuran hujan, jelas itu sangat berbahaya karena Laura bisa saja terpeleset atau hipotermia.
"Arga, tadi gue ketemu Arga, dan kita sempat ngobrol beberapa hal!" Laura mulai membuka topik pembicaraan.
"Terus?" Rena menaikkan sebelah alisnya. Penasaran jelas iya. Namun, ia tahu sabar adalah kunci utama untuk menghadapi gadis seperti Laura supaya mau bicara.
"Dia nanya ke gue, kenapa gue jadi berubah total akhir-akhir ini. Terus gue jawab kalo gue udah gak cinta lagi sama dia. Bahkan gue bilang nyesel kenapa dulu bisa naksir sama cowok jelek dan kaku macam Arga!"
__ADS_1
"Ya ampun, Ra! Gue tau Arga itu jelek, tapi nggak sepatutnya juga lo hina dia sedemikian rupa. Masih banyak cara lain yang bisa lo lakuin tanpa harus ngehina orang kayak gitu," ujar Rena.
"Gue juga gak tau kenapa mulut gue bisa sejahat itu, Ren! Tapi Gue nggak punya pilihan selain membuat Arga jadi benci sama gue. Sekarang dia udah jatuh cinta ke gue, dia pun mengakui semua itu. Cuma sayangnya keadaan gue yang kaya gini sama sekali gak tepat dengan dunia yang kalau bercanda suka gak kira-kira," ucap Laura.
"Gue harus bikin Arga benci ke gue. Gue harus buat dia jijik sama kelakuan gue biar perasaan cintanya cepet ilang." Laura menjeda ucapannya lalu mengambil napas dalam.
"Karena gue tau, mencintai tanpa terbalaskan itu rasanya gak enak! Gue gak mau Arga ngerasain apa yang gue rasain ke dia selama ini. Sakit Ren … sakit banget," ratap anak itu.
"Gue paham dengan isi pikiran lo, Ra! Tapi menyakiti Arga dengan bahasa yang gak enak juga gak baik buat dia. Selain dia jadi benci, sekarang lo di mata dia sama halnya dengan wanita kagak beretika."
"Biarin aja, yang penting dia berhenti berharap sama gue Ren Gue cinta banget sama dia, jadi gue gak mau liat masa depan dia hancur. Arga harus jadi orang. Di masa depan nanti Arga gak boleh hidup blangsak kaya gue," ucap gadis itu.
Tangisnya makin pecah.
"Ya ampun, Ra! Mulia banget hati lo. Semoga aja ada jalan buat lo dan bayi lo nanti!"
Sekarang bukan hanya Laura yang menangis. Rena bahkan menderu-deru suaranya.
***
__ADS_1