
Tak terasa waktu berlalu sangat cepat. Sudah sembilan bulan lebih Laura mengandung. Dan kini, single mom itu dihadapkan oleh kenyataan baru.
Sosok bayi mungil laki-laki baru saja terlahir ke dunia sekitar lima menit yang lalu. Di temani oleh Rena, Laura baru saja selesai menjalani persalinan secara normal di bidan yang letaknya tidak jauh dari kosan.
"Ren, bayi gue gimana? Di ... Dia sehat? Dia gak cacat, 'kan, Ren?" Laura bertanya dengan napas terengah-engah.
"Sehat, Ra. Tapi bayi lo langsung dibawa ke ruang sebelah. Katanya lagi ditanganin."
"Tapi dia nggak papa, 'kan?" Laura menatap cemas.
"Dia nggak papa. Nanti juga dibawa ke sini kalo udah rapi," ucap Rena. Karena Laura terlihat kelelahan sekali. Jadi suster tidak meletakkan bayi Laura di dad* Laura seperti pada umumnya. Bayi laki-laki Laura dibawa ke ruang lain untuk dibersihkan.
"Coba lo tengokin dia, Ren. Kalo udah beres bawa ke sini," perintah Laura. Agak panik nada suaranya.
Tanpa menjawab, Rena pergi ke ruang sebelah. Bertepatan dengan itu seorang suster masuk ke kamar persalinan untuk memasang infus di tangan Laura.
"Pasang infus dulu ya, Mbak!"
__ADS_1
"Iya Sus, tapi anak aku enggak kenapa-napa 'kan, Sus?"
"Bayi Ibu Laura sehat! Sebentar lagi dia juga dibawa ke sini. Sekarang di infus dulu ya, Bu."
"I ... Iya ...." Laura tersenyum sungkan. Panggilan Ibu yang tersemat untuk dirinya membuat Laura sedikit gemas. Usianya baru menginjak 18 tahun, tapi sudah menjadi seorang Ibu dan harus berjuang menghidup seorang bayi untuk kedepannya.
Laura tak yakin mampu. Tapi selagi belum dicoba, dia tidak akan tahu.
*
*
*
"Ra, sumpah anak lo mirip banget sama Arga!" Rena berteriak tanpa sadar. Untung di ruangan itu sudah tidak ada siapa-siapa lagi.
"Ren, kalo ngomong jangan keras-keras. Cepet siniin anak gue!" Laura mengepangkan kedua tangan. Ia langsung tersenyum begitu melihat wajah anaknya yang tengah tidur terlelap.
__ADS_1
"Iya, dia mirip banget sama Arga Ren."
"Emang iya. Terus mau lo kasih nama siapa tuh anak? Udah nyiapin nama belum?" tanya Rena. Ia duduk di bibir ranjang sambil memperhatikan bayi mungil itu juga.
Sementara Laura menggeleng. Karena sibuk bekerja untuk biaya persalinan, Laura sama sekali tidak sempat memikirkan nama.
"Belum si Ren. Tapi barusan gue nemu nama yang cocok buat anak gue."
"Siapa?" Rena menoleh penasaran.
"Arga! Karena dia mirip banget sama Arga. Jadi gue mau kasih nama dia Arga."
Sontak Rena membulatkan matanya lebar-lebar. "Ya elah, Ra! Nyesel gue nanyanya. Ngapa si lo bucin banget ama tuh anak. Kaya gak ada nama lain aja," sungut Rena.
"Dia mau gue jadiin pengganti Arga Ren. Walaupun gue gak bisa sama Arga. Setidaknya ada Arga kecik yang bakalan menjadi penyemangat hidup gue."
"Hmmm. Serah lo deh!" Memutar bola matanya malas, Rena kemudian melipat tangannya di depan dada. "Terus nama panjangnya siapa? Argantara Mega juga?" tanya Rena kemudian.
__ADS_1
"Janganlah! Masa sama persis. Gimana kalo nama panjangnya Arga Megantara?"
"Ya elah. Itumah cuma dibalik doang. Yang kreatip dikit ngapa. Arga Budiman kek. Apa skalian tuh, Arga Sumanto! Biar orang pada takut kalo udah gede." Rena terbahak.