Dihamili Adik Kelas

Dihamili Adik Kelas
Perkampungan Kumuh


__ADS_3

Kembali lagi pada Laura setelah beberapa bulan berlalu. Kini keadaan perut wanita itu semakin membesar. Laura memutuskan untuk pergi merantau ke kota Jakarta. Ia tinggal di sebuah perkampungan kumuh yang semua orang-orangnya cuek.


Selama ini tak ada satu pun orang uang bertanya tentang kehamila Laura. Apalagi sampai bertanya di mana bapak dari si jabang bayi. Laura benar-benar bisa hidup bebas di tempat ini.


Berbanding terbalik dengan Laura, Rena sekarang kuliah di sebuah universitas ternama di kota Jakarta. Ia tinggal di apartemen mewah, tapi sayangnya ia tidak bisa membawa Laura bersamanya karena takut ketahuan orang tua.


Rena hanya bisa menjenguk Laura setiap kali ia ada waktu. Kadang juga anak itu menginap di tempat Laura hingga beberapa hari.


"Laura!" Teriakan Rena membuat rantang besar di tangannya hampir terjatuh.


"Astaga, Rena! Lo ngagetin aja!" seru Laura gemas. Kini wanita hamil itu bekerja di sebuah warteg sebagai pelayan.


Karena keadaannya, Laura hanya mampu mencari pekerjaan seadanya. Beruntung ibu pemilik warteg itu masih mau menerima Laura bekerja di tempatnya.


"Gue laper, Ra! Ada makanan sisa gak?"


"Ehem?" Dehaman ibu pemilik warteg membuat Rena menoleh ke samping.


"Gue bayar kali! Gini-gini gue baik karena mau beli makanan sisa yang gak laku," ucap Rena sengaja berseru. Pemilik warteg di sini memang galak. Apalagi kalau Rena main di saat jam kerja.

__ADS_1


"Tahan dulu ya, Ren. Setengah jam lagi aku pulang, kok! Kita makannya di rumah aja!" Laura kembali lagi ke dapur. Ia membawa beberapa piring yang kosong untuk dicuci.


*


*


*


Satu Jam kemudian.


Perut Rena sudah kenyang. Mulutnya yang suka makan sudah menghabiskan satu mangkop sup sisaan dan sepiring nasi dengan orek tempe.


"Lo ngapain ke sini mulu si, Ren? Udah gue bilang jangan sering-sering ke sini! Gue gak mau kuliah lo keganggu gara-gara gue," pungkas Laura, jutek.


Rena mengeluarkan dua kotak susu hamil, vitamin, dan beberapa obat penambah darah untuk Laura.


"Ngapain bawa begituan banyak-banyak? Yang kemarin juga masih ada!" sungut Laura.


"Jangan suka ngehambur-hamburin uan buat beli yang gak penting. Gue tau uang semesteran lo mahal," kesal Laura. Tangannya refleks menonyor jidat anak itu.

__ADS_1


"Siapa yang ngehamburin uang? Lagian gue beli itu bukan pake uang gue kali!"


"Terus pake uang siapa? Uang rakyat?" maki Laura. Ia tahu Rena sangat baik, tapi ia tidak suka jika Rena terlalu peduli kepadanya. Selama ini wanita itu sudah banyak sekali membantu Laura. Jadi ia tidak ingin makin banyak berhutang budi kepada Rena.


"Ada deh, Ra. Yang penting gue gak pake uang semeteran gue!"


"Cih!" Laura hanya mendengkus. Ia kemudiam mengambil baju kotor untuk dicuci sambil mandi.


"Mau ke mana, Ra?"


"Aku mau mandi sekalian nyuci. Lo kalo udah kenyang pulang aja. Lagian nanti malem gue masih harus kerja sambilan di kafe Ornamen."


"Hmmm, Ra. Lo ngapain si kerja siang malem? Peduliin kesehatan lo, kalo bayi lo kenapa-napa gimana?"


Mendengar itu, Laura mendesah. Tatapannya yang semula galak berubah melemah. "Gue kayak begini karena gue butuh uang banyak buat biaya persalinan, Ren.".


"Kan gue udah bilang mau bantuin elo!"


"Iya, tau! Tapi mengandalkan diri sendiri jauh lebih baik daripada bergantung sama orang lain. Paham lo?"

__ADS_1


Laura berjalan keluar kamar meninggalkan Rena sendiri.


Meskipun ia tinggal di sebuah kosan empat susun dengan biaya sewa 500rb perbulan, ia tidak pernah sekalipun mengeluh. Laura berubah menjadi wanita kuat lebih dari dugaan Rena.


__ADS_2