
"Turun sini aja, Pak! Tempat kerja saya sudah dekat," ucap Laura.
"Baik, Mba. Nanti sore saya akan antarkan motor Mbak ke sini," balas si supir dengan senyum penuh.
Sementara pria di samping Laura benar-benar tak menoleh sama sekali. Dia terus melirik ke arah jendela seolah tidak ingin memperlihatkan wajahnya kepada Laura.
"Sekali lagi saya minta maaf ya, Mbak!" si Supir sempat memasang wajah tidak enak sebelum Laura berlalu tanpa menjawab. Dia begitu bukan karena angkuh, tapi karena Laura merasa tidak nyaman dengan keberadaan pria bermirip Arga di sampingnya. Terlebih dia sudah sangat telat. jadi Laura tak punya banyak waktu untuk berbasa-basi.
Sepanjang jalan menuju pantri, Laura terus saja melamun. Pikirannya semrawut dipenuhi wajah dan nama Arga.
"Kalau beneran Arga kenapa dia diam?" Laura mulai bermonolog dengan diri sendiri.
"Apa dia masih marah dengan kejadian dulu?"
Tiba-tiba Laura teringat pesan terakhirnya kepada Arga. Jangan pernah ganggu dirinya apa pun yang terjadi. Lupakan kalau Laura pernah hadir dalam hidup Arga, dan pura-puralah tidak saling mengenal jika mereka bertemu di kemudian hari.
Mungkinkah sikap Arga barusan adalah wujud dari perkataan jahat Laura beberapa tahun silam?
__ADS_1
"Haisskk!" Laura mendesah. Kepalanya berdenyut ngilu memikirkan semua itu.
"Laura, sudah jam berapa ini?"
Wanita itu tersentak saat mendengar suara atasannya dari arah belakang. Buru-buru Laura berbalik, "Maaf Bu, saya habis kecelakaan."
"Kecelakaan?"
"Iya, Bu. Motor saya keserempet. Liat nih!" Laura menunjukkan bekas luka di telap tangannya. Namun, hal itu tak membuat atasan Laura berubah priatin. Wajahnya tetap saja dipenuhi aura kesal saat menatap garang ke arah Laura.
Wanita paruh baya bernama Amalia itu mendesah. "Kenapa nggak mati sekalian? Lain kali saya nggak mau terima alasan kamu. Seminggu ini kamu sudah tiga kali telat Laura!"
"Cepat siap-siap! Setelah itu kamu ikut Yanto ngambil pesenan makanan di resto Akbar. Jangan sampe salah, ini hidangan untuk Direktur baru di kantor ini!"
"I ... Iya, Bu." Laura cepat-cepat ke pantri untuk mempersiapkan diri. Ternyata Satria ada di dalam sana.
"Kamu telat lagi, Ra?"
__ADS_1
"Aku kecelakaan Sat." Laura mencebik sedikit manja.
"Kecelakaan gimana? Mananya yang sakit?" Satria menatap cemas seperti hendak menyentuh, tapi Laura gegas melangkah mundur sehingga pria itu menarik tangannya kembali.
"Gak papa Sat. Aku baik-baik aja. Cuma motorku masuk bengkel."
"Tuh 'kan? Udah aku bilang dari dulu, ngontraknya di deket rumah aku aja. Jadi kita bisa berangkat bareng setiap hari. Kamu juga nggak perlu khawatir soal Gama. Ada Ibu aku, dia pasti mau bantu ngawasin Gama." Satria mulai mengomel dengan kalimat yang sering dia katan sebelumnya.
Laura tertunduk. "Maaf Sat! Hubungan kita belum terlalu dekat untuk aku bisa ngerepotin kamu sebanyak itu. Kita masih pacaran. Aku nggak mau jadi buah bibir orang lain karena terlalu bergantung sama kamu. Jadi aku harap kamu bisa mengerti!"
Satria kontan terdiam. Dia memang belum memiliki keberanian untuk merubah status Laura menjad istrinya. Satria masih perlu waktu sampai ia benar-benar siap menikah. Baik dari segi biaya maupun kesiapannya sebagai calon Ayah tiri.
"Sekali lagi sorry ya, Sat! Aku nggak bermaksud bikin kamu kecewa." Wanita itu menepuk pundak Satria, lantas berlalu begitu saja meninggalkan Satria di pantri seorang diri.
-
-
__ADS_1
-