Dihamili Adik Kelas

Dihamili Adik Kelas
Banyak Perubahan


__ADS_3

Usia kandungan Laura sekarang sudah menginjak dua bulan lebih, alias sembilan Minggu. Selain masih sering mual dan sakit-sakit, sekarang Laura mulai merasakan banyak keanehan yang terjadi pada tubuhnya.


Ia mulai memasuki fase mengidam. Di mana keinginan anak itu harus banget dikabulkan tanpa bisa diganggu gugat.


Seperti saat ini, Laura tiba-tiba saja ingin merasakan seperti apa rasanya kencan. Tentunya target pria yang harus menjadi teman kencan Laura adalah Arga, alias bapak dari anak yang ada di perut Laura saat ini.


"Duh, gimana cara ngomongnya? Kalo gak diturutin kepengin banget, diturutin ngeri ditolak!" Laura bergumam sendiri di toilet kamar mandi.


Ia bingung.


Meski sekarang Arga dan dirinya sudah lumayan akrab, tapi hubungan mereka tak lebih dari sekadar teman. Laura akui Arga banyak sekali berubah sejak kejadian malam itu, tapi yaitu, orang seperti Arga tidak mungkin mau diajak kencan buta model cowok-cowok di drama Korea.


"Coba aja dulu lah, dari pada bayi aku ngiler ye, kan!" ucap anak itu lalu bangkit dari toilet. Laura pun memberanikan diri pergi ke kelas Arga.


Gadis itu tersenyum riang sepanjang perjalanan menuju ke sana. Semenjak Laura memutuskan untuk berteman dan bersikap sewajarnya pada Arga, ia tak pernah sakit hati lagi. Arga juga lebih leluasa dan tak tertekan lagi.


"Lo liat Arga nggak?" tanya Laura pada salah satu temen Arga yang kebetulan lewat.


"Gak tau Kak. Kayaknya lagi selingkuh itu Arga."


"Yang bener." Laura mendengkus dengan ledekan teman lelaki Arga yang satu itu.


Yups, hampir semua siswa di sekolah mereka mengira kalau Arga dan Laura berpacaran akibat ulah Laura saat di lapangan. Namun, Arga sendiri sudah masa bodo dengan semua gosip-gosip itu.


"Ngapain lo ke sini?" Suara Arga yang khas membuat Laura menoleh.


"Eh, Arga?" Senyum cerah terbit dari bibirnya. Tapi beberapa saat kemudian senyum itu pudar saat melihat seorang perempuan yang berdiri di dekat Arga.


Mereka terlihat serasi, baju olahraga yang dipakai terkesan seperti baju couple yang memberi kesan romantis pada mereka berdua.


"Aku mau ngomong, kamu sibuk nggak? Kalau bisa pulang bareng sekalian," kata gadis itu.


"Ga, hari ini kita kan mau belajar kelompok di rumah aku," potong gadis yang ada di samping Arga, hah itu membuat  Laura mengernyit dengan berbagai tanda tanya di kepala. Kenapa hatinya mendadak panas. Dalam diam Laura mendengkus. Ini sama sekali tidak cocok untuk gelar teman yang telah mereka sepakati bersama.


"Oh ya udah deh kalo gak bisa! Aku gak jadi ngomong. Maaf ya."


Laura pun berbalik arah setelah menyempatkan diri untuk tersenyum pada mereka berdua. Arga hendak mengejar, tapi langkah Laura terlalu cepat sehingga anak itu memutuskan untuk ke kelas dan mengambil tasnya dulu.


"Ga!" Gadis bernama Desvita tadi mengejar anak itu. Merasa kurang enak karena mereka memang tidak ada janji apa pun.


"Sorry Ga! Tadi gue cuma niat nolongin doang karena gue tau lo risihh sama Kakak kelas yang nyebelin itu," ucap Desvita. Arga yang geram langsung menonyor dahi anak itu.

__ADS_1


"Gak usah sotoy deh lo!" kesal Arga sembari meraih tasnya. Setelah itu ia pergi untuk menyusul Laura.


*


*


*


*


"Kenapa gue jadi kayak anak kecil gini, si? Gue 'kan udah janji ke Arga kalo gue bakalan berteman biasa aja sama dia! Tapi kenapa sekarang gue malah cemburu buta cuma karena liat Arga sama temen ceweknya?"


Laura bergumam dalam hati. Sementara itu, Laura memutuskan untuk pulang saja. Lebih baik ia simpan dalam dalam hasrat ingin kencan-kencanan itu.


"Hoammm!" Gadis itu mulai menguap. "Kenapa sekarang bisnya jadi lama gini, si? Gak tau orang ngantuk apa?"


Laura pun tertidur saking ngantuknya. Selain mual dan mengidam, sekarang Laura juga sering sekali mengantuk pada jam-jam tertentu. Apalagi jika sudah jam satu lewat, ia pasti harus banget tidur di mana pun ia berada.


Shitt!


Motor Arga berhenti tepat di depan halte.


Ia mengernyit heran saat Laura tak memberinya jawaban.


"Tidur?"


"Apa pingsan?"


Arga perlahan turun dari motornya. Ia menghampiri Laura lalu duduk di samping gadis itu.


Lama Arga memperhatikan Laura dan perutnya yang masih datar. Terus terang saja Laura masih penasaran. Apakah Laura hamil atau tidak. Entah kenapa hati kecilnya tidak bisa percaya pada ucapan Laura waktu. Seperti ada medan magnet yang membuat Arga,lebih percaya pada keyakinannya sendiri.


"Sorry, Ra!" Arga menelusupkan tangannya pelan-pelan melalu cela seragam Laura. Kebetulan keadaan di halte cukup sepi. Jadi Arga bisa memanfaatkan kesempatan itu untuk meraba perut Laura.


Kok gak gede, ya?" Arga bergumam tanpa sadar. Laura yang masih setengah terjaga langsung membuka matanya lebar-lebar.


****, batin Arga lantaran ia belum sempat meraba lama perut Laura.


"Ga, kamu ngapain?" Gadis itu menoleh ke samping. Bagaikan mimpi saat ia melihat Arga sudah ada di sampingnya.


"Lo ke mana aja? Tadi gue cariin?" ujar Arga seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal.

__ADS_1


"Aku mau pulanglah, katanya kamu mau belajar bareng temen, jadi aku mau pulang aja," ucap anak itu. Nada bicara cemburu Laura yang amat kentara membuat Arga tersenyum.


"Siapa yang mau belajar bareng dia? Emang gue ada ngomong gitu?"


"Ya engga ada, tapi dia bilang kayak gitu! Jadi mendingan amu pergi aja daripada ganggu," ujar anak itu. Laura masih saja cemberut. Apalagi saat mengingat wajah menyebalkan gadis bernama Desvita itu. Rasanya Laura ingin menarik Arga sambil berteriak bahwa ia cemburu.


"Ya udah! Gak usah dibahas, tadi lo mau ngomong apaan?" tanya Arga.


"Ngomong apaan emang?" Dengan bodohnya Laura malah kebingungan sendiri. Mendadak ia lupa dengan ngidamnya saat ini.


"Ya tadi, katanya lo bilang ada yang mau diomongin sama gue. Emangnya lo mau ngomong apaan?" tanya Arga sembari mengedikkan bahu.


"Oh iya! Gak jadi Ga ... aku yakin kamu bakalan nolak," ujar anak itu.


"Belum juga ngomong. Tau dari mana kalo gue bakalan nolak?"


"Ya udah keliatan. Orang kayak kamu mana mau diajak jalan-jalan kencan kayak orang Korea git, upss!" Laura langsung menutup mulutnya. Ia keceplosan.


"Oh, jadi lo pengin kencan?" Arga yang sudah memiliki sebuah rencana, tiba-tiba menerbitkan senyumnya. Jarang sekali pria itu tersenyum hingga membuat Laura yang melihatnya sedikit heran.


"Iy ... Iya, maksud aku bukan kencan beneran. Ini cuman kencan-kencanan doang biar agak keren kaya di drakor. Tapi ya udahlah, gak usah dibahas, ga pent—"


"Aku mau, kok!" Arga memotong pembicaraan Laura secepat kilat.


"Hah? Kamu serius?"


"Iya serius," jawab Arga datar tapi tak mengandung nada berbohong sama sekali.


"Serius ya? Kalo aku mau nonton sama makan kayak orang pacaran beneran boleh?"


"Iya," jawab Arga.


Laura menatap heran. "Kamu kok sekarang jadi baik gini sih, Ga?"


"Buat kenang-kenangan, lo kan bentar lagi mau tamat dan udah ga sekolah lagi di sini!"


"Iskh, itu mah kata-kata andalan aku tau!"


"Ya udah, entar malem gue jemput lo." Mereka pun pulang bersama setelah ini. Senyum Laura tak hentinya merekah.


***

__ADS_1


__ADS_2