
Pintu ruang kepala sekolah ditutup rapat-rapat. Dapat dipastikan semut di luar ruangan pun tak mampu mengintip apalagi mendengar obrolan di ruang kedap suara itu.
Di sebuah sofa single, di situlah Laura didudukkan. Gadis itu tertunduk takut dengan dua tangan saling meremas.
"Laura ...." Suara Pak Darman, alias wali kelas Laura terdengar lembut. Gadis itu langsung mendongak. Menatap manik mata pak Darman yang tertuju intens kepadanya.
"Kamu tahu 'kan, kenapa kamu di panggil ke ruangan ini?"
Pasrah, Laura menggeleng dengan mata berkaca-kaca. "Tidak tahu, Pak!" lirih anak itu.
"Hmmm. Yakin tidak tahu?" Ibu guru BK yang galak menimpali. Matanya tertuju pada perut Laura yang sengaja ditutupi dengan tas.
"Coba geser tasnya!" perintah Pak Kepala Sekolah.
Mendengar itu Laura langsung panik. Wajahnya pucat. Air mata pun mulai berjatuhan membasahi pipi.
"Lho kok malah nangis?"
Laura spontan tertunduk. Punggung gadis itu sudah nyari basah kuyup karena terlalu banyak mengeluarkan keringat.
"Jangan menangis Laura! Tujuan kami mengajakmu ke sini dengan niat baik, kok. Kami hanya ingin mendengar ceritamu," ucap si Wali kelas.
__ADS_1
Meskipun laki-laki, ia berusaha bersikap bijak. Apalagi ia tahu kalau Laura adalah murid yang sangat pintar dan cukup sopan selama ini.
"Jadi sudah berapa lama kamu menyembunyikan ini?" tanya si kepala sekolah.
Laura makin kebingungan. Sepertinya kini ia sudah ketangkap basah, batinnya dalam hati.
Ibu Guru BK yang merupakan perwakilan wanita mulai angkat bicara. Pelan tapi pasti, ia berusaha mendekati Laura menggunakan suara yang dibuat selembut mungkin.
"Laura ... Terus terang saja selama ini kami sudah tahu apa yang terjadi padamu. Saya, Pak Kepala sekolah, bahkan Wali kelasmu, kita semua sudah tahu kalau selama ini kamu hamil," ucap si Guru BK.
"Maafkan saya, Bu, Pak!" Laura mengatakan itu masih dalam posisi tertunduk. Ia sungguh tidak berani menatap siapa pun saat ini.
Laura masih diam. Gadis itu tak punya nyali bahkan untuk sekadar mendongak.
Di pikiran Laura sekarang, kenapa mereka tetap membiarkan Laura mengikuti ujian kalau memang sudah tahu apa yang disembunyikan Laura.
Di saat ujian tinggal sehari lagi, rasanya Laura hanya sedang melakukan perjuangan sia-sia jika besok pagi ia tidak boleh lagi mengikuti ujian.
"Sekarang kami ingin dengar dari mulut kamu sendiri, apakah kamu benar sedang hamil?" tanya Pak Wali kelas.
Laura mengangguk. Ia makin terisak dan belum mampu membuka suara.
__ADS_1
"Berapa bulan?" tanya Pak Kepala sekolah.
"Se ... Se ... Sekitar empat bulan, Pak!" Suara Laura terdengar lirih sekali.
"Kurang jelas, berapa bulan?" ulang di wali kelas.
"E .. empat bulan, Pak!"
Semuanya langsung terdiam. Pak kepala sekolah terlihat frustrasi sekali mendengar ucapan Laura barusan.
"Sudah empat bulan ternyata! Bisa-bisa kami telat menyadari semua itu!" Pak Kepala sekolah kembali buka suara. Ia bahkan mendesah berkali-kali.
"Maafkan saya, Pak! Tolong jangan keluarkan saya dari sekolah ini," pinta Laura penuh permohonan.
"Hmmm. Sudah kejadian saja baru negosiasi. Seharusnya sebelum melakukan kamu 'harus pahami dulu, apa konsekuensinya yang akan kamu dapat jika sampai hamil di masa sekolah!" bentak Pak Kepala sekolah kesal.
"Tolong Pak! Beri saya kesempatan."
"Kalo kamu saya beri kesempatan, bisa-bisa semua murid yang ada di sekolah ini ikutan seperti kamu juga. Mereka nggak akan takut karena kami bisa kasih toleransi!"
***
__ADS_1