Dihamili Adik Kelas

Dihamili Adik Kelas
Kok Saya?


__ADS_3

Setelah pertemuan mereka di mobil, Laura harus berusaha menghadapi kenyataan bahwa dia sedang tinggal satu ruangan dengan Arga. Sebuah kenyataan yang tidak pernah Laura pikirkan sebelumnya. Tapi tersaji dengan nyata di depan mata.


Laura sangat bingung, apa benar dunia sesempit ini sampai ia harus berurusan dengan orang yang sama lebih dari satu kali? Sungguh ini merupakan kebetulan sialan yang tidak mudah diterima begitu saja.


"Fiuuuhhh." Wanita itu mengembuskan napas untuk menenangkan dirinya. Posisinya saat ini masih berdiri di depan pintu seolah berharap Yanto akan datang kembali.


Laura juga berpikir apa yang harus ia lakukan saat ini. Langsung menjalankan tugas sebagai bawahan, atau harus menyapa Arga-- mengingat mereka adalah teman dekat.


"Ngapain diam? Kamu kesurupan?" Suara garang Arga memecah suasana.


Akhirnya Laura memutuskan untuk pura-pura tidak mengenal Arga, dan menjalankan tugas agar cepat keluar dari tempat sialan ini.


Lagi-lagi ia hanya bisa mengembuskan napas sebagi bentuk penenangan diri. Ia mulai ambil satu persatu bunga yang tadi sudah ditata rapi. Lalu merangkul erat bunga-bunga itu dengan kedua tangannya.


"Sudah, Pak! Bunga-bunga ini mau ditaruh di mana?" Laura bicara takut-takut. Dia memberanikan diri menghadap Arga yang tengah duduk di singgasananya.

__ADS_1


"Ini belum. Mata kamu rusak ya?" Arga menunjuk sebuah vas dengan mata memicing.


"Yang ini dibuang juga?" tanya Laura. Dia mulai mendekat dan mengambil seikat bunga besar dari dalam vas tersebut.


"Sudah semua, Pak! Sekarang mau dipindahkan ke mana?"


"Buang!"


"Hah, dibuang?" Laura spontan memekik. Bersamaan dengan itu Arga juga menatapnya dengan air muka malas. "Bapak yakin mau dibuang?" ulang Laura sekali lagi.


"Hmmm. Singkirkan semua sampah itu dari ruanganku!" perintah Arga tegas. Laura sedikit terngungu mendengarnya. Pasalnya ia tahu betul berapa harga bunga-bunga itu. Jika ditotalkan mungkin nyaris 2 kali lipat gajinya sebulan.


"Terserah."


"Ok. Kalau begitu saya permisi keluar dulu, Pak! Saya akan bawa bunga ini menjauh dari Anda" Laura berbalik. Namun, baru dua kali kakinya melangkah, Arga tiba-tiba bergumam lirih.

__ADS_1


"Sampah memang paling pas dengan sampah!"


Sontak Laura tertegun. Sejak tadi ia sudah berusaha abai dan bersikap seprofesional mungkin. Tapi kali ini Arga keterlaluan. Ini sudah bukan jaman penjajahan, meskipun atasan, Arga tetap harus menghormati bawahan. Terlepas apa pun masa lalu mereka dulu, kalimat jahat Arga tidak layak dibenarkan.


Akhirnya Laura berbalik. "Apa Anda bilang, sampah? Anda tuh yang sampah!"


Laura melempar bunga di tangannya ke wajah Arga. Emosinya sudah tidak terbendung lagi.


Selama ini ia merasa sudah banyak berkorban untuk Arga. Tapi balasan Arga sangat menusuk di hati. Ingin sekali Laura memberi tahu bahwa sampah yang dimaksud Arga adalah seorang ibu yang telah melahirkan dan membesarkan darah dagingnya.


Mungkin saja Arga tidak akan bisa sesukses ini jika Laura tidak mengorbankan masa depannya.


Saat ini Laura benar-benar merasa marah dan tidak terima.


"Kamu!" Arga berdiri tidak terima.

__ADS_1


"Apa? Jika Anda tidak memulai duluan saya juga tidak mungkin melakukan ini. Anda mau memecat saya? Pecat saja, saya tidak takut! Meskipun cuma karyawan rendahan saya juga punya harga diri!" teriak Laura.


Arga terdiam. Lelaki itu terlihat mengepalkan tangan. Aura di sekelilingnya menghitam dan ekspresi wajahnya tidak bisa ditebak.


__ADS_2