
***
"Baiklah, tapi kalau tidak kuat jangan dipaksakan ya."
"Hmmm." Dia berdeham pelan, lalu menarik ujung pita piyama Laura hingga semuanya terbuka lebar-lebar.
Tangannya mulai bergerak cantik, menyentuh setiap inci tubuh dan membuat Laura merasa tergelitik.
"Aku mencintaimu, Putri Lauraku!"
Ditariknya dagu itu, ia menjatuhkan sebuah kecupan manis dengan sesapan lembut yang memabukkan seluruh jiwa.
Laura yang awalnya diam mulai mengikuti pergerakannya. Lidah mereka saling berputar dalam rasa panas yang semakin menggelora.
Bicara masalah ranjang, di mimpi ini Arga adalah pria erotis yang mungkin tak terkalahkan sepanjang masa di mata Laura. Dia paling tahu caranya memancing sekalipun Laura sedang tidak bergairah.
Seratus untuk suami yang paling perkasa versinya.
"Jangan terlalu bersemangat ya," kata Laura saat membaca gairah besar yang mengkilap di mata Arga.
"Mana mungkin bisa. Aku selalu bersemangat jika menyangkut yang satu ini."
Arga membenamkan wajahnya di tempat yang paling ia suka. Geli menusuk jiwa, Laura menggeram dengan nada bicara tertahan. menikmati setiap gerakan tubuhnya yang seirama dengan embusan napas mereka berdua. Cinta mereka sedang bermekaran di mana-mana. Arga mengabaikan semua nasihat Laura, ia mengeksekusi permainan dengan buas seperti biasanya.
Mimpi erotis yang indah itu, membawa Laura terbang pada ujung nirwana terindah. Merajut asa dan rasa yang selama ini ia tahan.
Hingga Laura tiba-tiba saja bangun dalam keadaan sadar seratus persen. Laura mengerjap sambil menusuk-nusuk lengan Arga dengan telunjuknya. Ia pikir kedatangan Arga adalah mimpi. Ia pun tak segan untuk tidur lagi dan melanjutkan mimpinya indah yang sempat tertunda tadi.
"Eh, ngapa ini bocah malah tidur lagi. Emang ga liat ada gue?" gumam Arga. Mana pada saat itu Laura senyum-senyum seperti ODGJ.
Mimpi pun lanjut kembali. Adegan 21+ di skip yang Maha Kuasa lalu beralih pada adegan pagi hari.
"Sudah pagi, Sayang" Rasa lelah bercinta dalam mimpi masih ada, namun Laura terlalu bersemangat karena janji Arga yang akan mempertemukan buah hati mereka nanti.
"Hemmm. Kau sudah bangun?" Arga menggoyangkan tubuhnya. Ia menyeruak, membenamkan kepalanya di tempat favoritnya lagi.
"Jangan nakal, aku masih lelah."
"Aku cuma rindu, tidak akan melakukan apa-apa," ujarnya. Masih betah berada di tempat kesukaannya itu.
"Dasar nakal, semalaman kita bersama, bisa-bisanya kamu bilang rindu!" ucap Laura sewot.
"Memang itu yang kurasakan." Arga merengkuh tubuh Laura erat, memejamkan matanya seperti bayi sambil menikmati permainannya di pagi hari.
"Sudah ya, aku mau mandi." Sengaja Laura menggoda lagi.
__ADS_1
Dia bergeming, lalu mengeratkan pelukannya seakan tak mau kehilangan mainan favoritnya.
"Ga!"
Kesal, pria itu mendongak dengan alis yang menukik tajam. Matanya menunjukkan aura protes yang terkesan menggemaskan.
"Sudah kubilang, aku masih rindu padamu. Jangan ajak dia jika kau ingin mandi," protes pria itu tidak masuk akal.
Laura menganga jengah. Bagaimana bisa ia melarang Lauea membawanya, sedangkan benda favorit itu adalah bagian tubuh Laura sendiri. Dasar si manja yang satu ini, isk!
"Padahal aku mau mengajakmu mandi bersama, sayang sekali kamu malah bermalas-malasan dan terkesan menolak."
"Ah, kalau itu aku mau. Jangan ditanya lima kali."
Tanpa basa-basi, Arga langsung bangkit meninggalkan mainan favoritnya. Mengecup bibir Laura sekilas hingga akhirnya merengkuh tubuh Laura.
Pria itu membawa Laura ke kamar mandi dengan semangat yang membara tak ada habisnya. Tubuh Laura sampai merinding kembali. Pada akhirnya, kejadian di dalam mimpi mereka ulangi lagi tanpa ada kata paksaan.
***
"Woi!" Arga berteriak kesal karena Laura sudah bangun, tapi malah tidur lagi.
"Bangun lo!"
"Engg …." Laura hanya mengeram tapi belum mau bangun.
"Pangeranku?" seru gadis itu masih belum sadar bahwa ia sudah kembali pada dunia nyata.
"Pangeran apanya? Pangeran mata lo soak!" bentak Arga ketus. Sejauh ini Arga memang tidak bisa bersikap lembut kepada Laura.
Laura yang baru paham bahwa ia sudah bangun ke dunia nyata langsung mendudukkan diri.
"Arga, ngapain kamu di kamar aku?" Ia tertegun. Perasaan jengah jelas menghampiri diri karena Laura tidak mandi selama dua hari.
Laura sendiri juga merasa aneh. Karena ia memimpikan sesuatu yang erotis di depan orangnya langsung. Andai Arga tahu apa yang dimimpikan Laura mungkin dia tidak akan punya muka bertemu Arga lagi.
"Gue disuruh jenguk lo ke sini sama Rena."
"Hah, yang bener aja? Lo serius?"
"Kalo gak percaya lo tanya aja ama orangnya!" ucap Arga sambil mendengkus.
"Bentar ya, aku cuci muka dulu!" Laura menjuntaikan kakinya. Ia berniat pergi ke kamar mandi, namun tiba-tiba berdirinya agak sempoyongan.
"Ati-ati!" Arga sigap menopang tubuh Laura. "Bisa jalan gak lo?"
__ADS_1
"Bisa kok … bisa!" lirih Laura makin merasa jengah alias malu. Ia yakin Arga pasti sudah mencium aroma tidak sedap dari tubuhnya saat ini.
"Arga duduk aja, gak usah bantuin. Aku bisa ke kamar mandi sendiri kok!" tolak gadis itu berusaha menjauhi Arga meski masih terlihat sempoyongan.
"Yakin gak mau dibantu?" ucap Arga menawarkan diri lagi.
"Enggak usah Ga!" Laura pun melangkah sendiri. Namun baru empat langkah dari posisi Arga, ia kembali jatuh ke lantai.
"Noh kan! Ngeyel si kalo dibilangin!" Akhirnya Arga menopang Laura sampai ke depan kamar mandi.
Arga merasa prihatin saat melihat kondisi Laura yang sangat menyedihkan. Gadis itu sepertinya benar-benar sakit parah. Bahkan untuk jalan pun terlihat susah.
"Sebenarnya lo sakit apa si?" Arga bertanya langsung saat Laura pulang dari kamar mandi.
"Cuma demam biasa Ga! Ya ampun!"
"Jangan bercanda deh, lo! Gue nanyanya serius bego!" Arga bangun dari posisi duduk lalu menutup pintu kamar. Ia takut pembicaraan mereka sampai terdengar oleh nenek Laura. Jadi terpaksa menutup pintu kamarnya.
"Aku jawabnya juga serius Ga! Emangnya aku keliatan kaya orang lagi bercanda? Tapi ngomong-ngomong makasih banget ya, Ga, udah mau nyempetin jenguk aku ke sini," ucap anak itu.
"Berlebihan banget lo! Gue kalo g disuruh Rena juga ogah ke sini," ucap Arga penuh dusta.
Tiba-tiba pintu diketuk perlahan. Ternyata nenek Laura yang datang membawakan pisang goreng dan segelas teh manis.
Dimakan ya Nak Arga! Seadanya ini," ucap si nenek.
"Terima kasih Nek! Gak usah repot-depot!"
Iklan berlalu. Nenek Laura kembali keluar kamar sehingga mereka dapat kembali membahas soal ini.
"Lo hamil 'kan?"
Deg!
Jantung Laura tiba-tiba berdentam hebat.
"Jokes kamu lucu Ga! Perasaan dari kemarin hamil mulu yang ditanya," lirih anak itu takut suaranya akan didengar oleh orang lain.
"Gue serius! Gue nanya baik baik karena masih punya batas kesabaran."
"Aku juga jawabnya serius, aku gak lagi hamil!"
"Yakin?"
Arga menatap bagian perut Laura. Jelas masih sangat datar karen janin itu baru saja akan tumbuh. "Kalo lo sampai boongin gue, gue kagak akan mau tanggung jawab lagi sekalipun lo ngemis-ngemis ama gue!" hardik Arga
__ADS_1
Pria itu sengaja mengancam Laura agar anak itu mau jujur kepadanya.