
***
Setelah dipaksa oleh mamahnya, akhirnya Arga bersedia untuk mengantarkan Laura pulang. Tentu saja dengan muka yang ditekuk beserta langkah kaki malasnya. Arga tidak pernah bisa menolak permintaan mamahnya.
Sehingga terjadilah situasi seperti ini. Di mana ada dua mahluk yang hatinya saling bertolak belakang, sedang duduk di atas motor menyusuri jalanan di kota Depok.
Walaupun Arga tidak pernah menganggap kehadiran Laura. Tapi ia tahu persis di mana letak rumah Laura. Beberapa kali ia sering dipaksa menemani papahnya untuk mengantar Laura pulang. Karena memang tidak ada angkutan umum dari rumah Arga menuju rumah Laura, jadi kadang Arga diajak menemani Ayahnya di mobil.
Papah Arga pebisnis sekaligus guru karate yang hebat. Bahkan ia mempunyai sanggar karate yang cukup terkenal di kota Depok. Laura adalah salah satu murid kebanggaan papah Arga. Walaupun terlihat manja, gadis itu memiliki kemampuan bela diri yang tidak perlu diragukan lagi.
"Woii, berhenti lo, Cemen...!"
Tiga orang yang berboncengan menggunakan satu motor terus mengikuti laju motor Arga sedari tadi. Entah siapa mereka, yang jelas Arga tidak mau berurusan dengan siswa urakan seperti itu.
"Ga, jangan cepet-cepet naik motornya." Laura merangkul pinggang Arga ketakutan.
"Diem dulu, lo ngga liat mereka bertiga ngejar kita?" bentak Arga kesal. Di saat seperti ini, Laura masih saja tidak mau mengerti.
"Berhenti aja, barangkali itu temen Arga ada kepentingan mau ngobrol."
__ADS_1
Demi apa pun, otak Arga rasanya ingin terbang karena emosi. Laura bukan hanya sukses mengganggu kesehariannya, ia juga telah sukses menggerayangi kejiwaan Arga menjadi semakin gila.
"Dia itu musuh sekolah kita, gue gak kenal. Plisssss, jangan ngomong lagi." Arga sudah kehabisan kata-katanya.
"Woi cupu!" teriak cowok berseragam SMA di sebelahnya. Motor mereka semakin rapat untuk memojokan motor Arga semakin ke pinggir. Sampai akhirnya tidak ada jalan lagi, Arga menghentikan motornya dengan terpaksa.
Mereka menyeringai jahat, ketiga cowo itu mulai turun mengelilingi Laura dan Arga yang masih duduk di atas motor. Salah satu seorang cowok menarik paksa kerah baju Arga sampai anak itu tertarik dari atas motornya.
"By one sama gue," ucapnya menantang.
Mereka memang kumpulan cowok sok jagoan yang suka mencari mangsa di jalanan. Tujuannya tentu saja untuk membuktikan bahwa sekolah mereka mempunyai murid yang hebat tidak tertandingi. Ketua geng tawuran, begitu sebagian anak SMA menyebutnya.
Katakanlah Papah Arga adalah seorang sensei yang memiliki sanggar besar dengan banyak sekali karatekan berbakat di dalamnya. Namun bukan termasuk Arga, cowok itu bahkan tidak tahu sama sekali bagaimana caranya memasang kuda-kuda. Arga tidak termasuk sebagai anak karatekan berbakat kebanggaan papahnya. Ia tidak suka dengan seni bela diri atau semacamnya.
"Aelahh, lo cowok! Gak brantem gak seru, Bro," pancing cowok itu kemudian.
"Jangan sakiti Arga-nya aku, ya!" teriak Laura lantang.
Sial! di saat seperti ini, ya....
__ADS_1
Masih bisa mulut gadis ajaib itu berceloteh tidak wajar.
"Oh, dibelain pacarnya! Neng duduk aja di atas motor, anggap aja lagi liat abangnya main perang-perangan."
Bughh!
Satu pancingan dari tonjokan keras telah berhasil merobek sudut bibir tipis dari seorang Arga.
"Brengseekk! Gue gak kenal lo!" Arga mendorong kasar tubuh laki-laki itu.
"Kita emang gak kenal, tapi gue benci liat seragam sekolah cewek lo! Salah satu murid dari sekolah lo udah membuka peperangan dengan sekolah kita. Gue harus bikin perhitungan." Cowok itu bersiap mendekati Arga lagi.
"Gue gak ada hubunganya sama mereka, gue cowok baik-baik," balas Arga lugas apa adanya.
"Maka dari itu gue harus bikin lo jadi cowo yang gak baik-baik." Satu pukulan lagi telah berhasil menjatuhkan tubuh Arga di atas aspal.
Di mana perbuatan mereka telah sukses memancing emosi seorang gadis bernama Laura untuk ikut memasang badan. Gadis itu marah sekali, api dalam dirinya mulai berkobar. Laura tidak bisa tinggal diam melihat pujaan hatinya dijahati orang lain.
"Stop! Jangan sakiti Arga lagi!" Laura berteriak emosi.
__ADS_1