Dihamili Adik Kelas

Dihamili Adik Kelas
Panggilkankan Dokter!


__ADS_3

"Huuuhh, aku mah sekarang udah agak nalar, Ga! Udah gak kayak kemarin-kemarin," ucap Laura.


Laura sendiri juga tidak tahu. Entah kenapa semenjak ada bayi diperutnya, ia jadi tidak seperti bocah lagi.


"Masa sih?" Arga tersenyum getir.


"Iya lah, mulai sekarang aku mau berubah jadi cewek normal aja, Ga. Aku emang masih suka sama kamh, tapi aku sadar, terlalu agresif dan suka berlebihan juga gak baik. Kamunya juga risih, kan?" tanya anak itu kemudian menoleh.


Arga terdiam sejenak, tapi beberapa detik kemudian ia mengatakan suatu hal yang membuat dada Laura membusung seketika.


"Jadi fiks ya, lo udah memantapkan hati buat engga ngejar cinta gue lagi?" tanya Arga.


"Iya fiks!" Laura mengangguk mantap. Toh sebentar lagi ia akan pergi dari hidup Arga selamanya, pikir anak itu.


"Kata orang, cinta itu gak harus saling memiliki. Jadi aku mulai sadar diri kalo Arga punya kehidupan sendiri. Arga pasti engga suka kalo terus terus diginiin sama aku. Iya 'kan, Ga?" kata gadis itu sembari menaikkan sebelah alisnya.


"Gak juga, sih. Gimana kalo ternyata gue juga suka balik sama elo? Lo mau mundur, apa kembali maju?"


"Kontan Arga terdiam, tak mampu berkata kata lagi. Arga yang menyadari perubahan sikap Laura langsung menyela lagi.


"Emmm. Maksud gue, ini misalkan, bukan kenyataan! Paham, 'kan?"


"I … iya paham!" Laura menggaruk kepala belakangnya yang tak gatal. Terasa bingung pikirannya saat ini. Ingin rasanya ia berkata bahwa Arga hanya sekedar basa-basi, tapi sorot mata pria itu seolah tidak bisa membohongi.


Sepertinya Arga memang sudah jatuh cinta kepada Laura. Apalagi beberapa waktu ini pria itu banyak sekali berubah.


"Misalkan Arga suka sama aku, ya semuanya tetep gak akan berubah! Aku tetep akan mundur demi kebaikan bersama. Kita masih muda, perjalanan kita masih panjang. Untuk saat ini mungkin memang belum waktunya kita pacaran dan main cinta-cintaan," ujar anak itu.


"Kok gitu. Emangnya kenapa? Jangan-jangan lo udah ada target cowok lain?" tebak lelaki itu.


"Enggak, lah! Cuma aku emang pengin mundur aja. Capek cinta sendiri, lagian yang Arga omongin juga cuma misalnya, bukan kenyataannya," ucap gadis yang sudah tidak gadis itu. Bibirnya manyun. Pandangannya menjurus lurus ke tepian pantai.


"Hmm. Ya juga sih. Lagian gue cuma bercanda. Sekadar basa-basi," balas pria itu lalu memandang ke tepian pantai juga.


"Nah, apalagi cuma basa-basi. Cuma bikin aku ngarep aja," balas Laura.


Mereka sama-sama terdiam dalam beberapa waktu. Arga dengan pikirannya sendiri. Sementara Laura juga dengan rencananya sendiri.


Aku cinta kamu, Ga! Dan menjauh dari kamu adalah bukti dari cinta aku sama kamu. Semoga suatu saat kita bisa ketemu, paling tidak dengan versi yang berbeda, dan aku bisa liat kamu sukses, tentunya kamu juga harus bahagia di masa depan, batin Laura. Semua kata itu hanya mampu ia rangkai dalam hati. Cukup Laura dan Tuhan yang tahu apa yang sebenarnya terjadi.

__ADS_1


Dadanya tiba-tiba terasa sesak. Perkataan orang yang mengatakan bahwa cinta itu buta memanglah benar. Laura benar-benar buta karena terlalu mencintai Arga sedemikian rupa.


Bugh!


Tiba-tiba Laura jatuh dan kehilangan keseimbangan. Arga yang melihat itu langsung panik bukan main.


"Ra, lo kenapa?" Arga menggotong Laura masuk ke dalam. Ia juga menyuruh nahkoda kapal untuk segera menepi.


Arga segera menghubungi temannya untuk meminta bantuan.


"Laura pingsan, cepet panggilin dokter! Kita ketemuan di dermaga pantai!" ucap Arga pada temannya.


Setelah itu, Arga berusaha mengguncangkan tubuh Laura pelan-pelan. Arga juga mengolesi tubuh Laura dengan selimut.


"Gimana nih! Kenapa gak bangun-bangun?" Arga menempelkan telinganya pada bagian jantung Laura. Masih berdetak, yang artinya Laura masih hidup.


"Ra, bangun! Jangan bikin gue panik!" bisik lelaki itu lagi.


Pikirannya bertanya-tanya, sebenarnya Laura itu sakit apa. Jika memang anak itu hamil tidak masalah, Arga pasti akan tanggung jawab meski harus menanggung beban di usia muda.


Yang Arga takutkan jika Laura ternyata punya pengakit kronis. Arga pasti akan menyesal karena selama ini selalu bersikah jahat pada anak itu.


***


"Ga ...." Anak itu melirih dengan suara lemah. Arga langsung membangunkan Laura pada posisi duduk lalu memberikan segelas air putih hangat.


"Syukur lo sadar! Gue takut lo kenapa-napa!"


Setelah gelas diletakan ke meja, Arga refleks memeluk gadis itu. Tubuh Laura terasa menghangat. Hatinya pun ikut menghangat.


Kenapa kamu harus berubah di saat aku mau pergi, Ga? Padahal aku berharap kamu benci terus sama aku. Dengan begitu Aku bisa pergi dari hidup kamu dengan tenang, batin Laura.


"Aku enggak papa, Ga! Maaf udah bikin khawatir." Laura mendorong Arga. Pelukan mereka terlepas begitu saja.


"Sorry, tadi gue panik! Gue takut lo gak bangun lagi." Arga meneguk salivanya gugup.


Bertepatan dengan itu, kapal berhenti tepat di tepi dermaga. Di luar sana mulai terdengar suata teman-teman Arga yang panik.


"Udah sampe ya?" tanya Laura berusaha melongok ke arah luar.

__ADS_1


"Iya, udah sampe, ayo kita turun!" ucap anak itu. "Lo mau gue gendong apa gimana?"


"Aku bisa jalan sendiri!"


"Ya udah sebelum turun minum lagi, nih!" Arga menyodorkan setengah gelas air putih hangat bekas Laura tadi.


Setelah menghabiskan setengah gelas air minumnya, Laura keluar dibantu oleh Arga.


"Laura kenapa Ga?"


"Dia kenapa?"


Teman-teman Arga berlarian panik menghampiri mereka. "Entar gue jelasin. Bantu gue mapah dulu," ujar Arga.


Laura di bawa ke sebuah pendopo. Karena jarak dermaga agak jauh dari villa, jadi mereka menggunakan mobil untuk menuju ke sana.


*


*


*


Sesampainya, di villa, Arga dan yang lainnya merebahkan tubuh Laura di kamar.


"Lo udah hubungin dokter belum, Jack?"


"Udah, bentar lagi juga paling sampe!" kata Jack. Arga kemudian balik masuk ke kamar lagi. Ia duduk di samping Laura lantas menyelimuti gadis itu.


"Jangan tidur dulu, Ra! Sebentar lagi dokternya dateng," ucap Arga.


" Do ... dokter?" Wajah Laura langsung memucat. Keringat sebiji jagung menetes dari pelipisnya dalam sekejap waktu.


"Iya, gue takut lo kenapa-napa. Jadi gue panggilin dokter," ucap lelaki itu.


Lagi-lagi Laura dibuat terperanjat, jika ada dokter, itu artinya ia akan ketahuan bukan?


"Ga, aku udak baik-baik aja. Mendingan Dokternya dicancel aja."


"Loh, ko gitu? Sebentar lagi dateng lho, Ra! Kalo udah diperiksa kan jadi lebih jelas," ucap si dokter.

__ADS_1


Sekujur tubuh Laura gemetar. Demi apa pun ia belum siap jika Arga sampai tahu bahwa dirinya sedang hamil.


Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan?


__ADS_2