
"Please, Ga!" Laura mengulangi permohonannya sekali lagi. "Aku beneran gak mau apa yang kita lakuin ini sampe diketahui orang lain dan jadi masalah besar nantinya. Aku gak mau reputasiku di skolah hancur, apalagi ujian tinggal menghitung hari lagi," kata gadis itu terus saja memelas iba.
Air mata berderai membasahi pipi, tapi Arga tetap tidak peduli. Ia ingin Roma diadili seadil-adilnya. Bila perlu anak itu harus bersujud di kaki Laura dan juga dirinya.
"Untuk masalah yang satu ini gue gak bisa janji, Ra! Masalahnya perbuatan Roma itu udah keterlaluan banget." Arga membalas tatapan Laura dengan suara ketus.
Bagaimanapun juga perbuatan pria itu sudah merugikan dirinya dan juga Laura. Keperawanan Laura hilang karena obat yang dimasukan Roma ke minuman tersebut. Arga pun sudah tidak perjaka lagi karena hal ini.
Dosa besar mungkin sedang menghampiri mereka berdua saat ini karena perbuatan tak masuk akal yang Roma lakukan tanpa pikir panjang. Entahlah, ia juga tidak tahu kenapa Roma bisa setega itu.
__ADS_1
"Tapi kalau pada akhirnya Roma gak bisa jaga rahasia kita dan ngasih tau ke anak-anak lain tentang perbuatan yang kita lakuin di sini gimana? Emangnya kamu gak takut dikeluarin dari sekolah?" tanya Laura cemas.
"Gak mungkin dia berani begitu! Kalo pun berani, kan dia yang jebak kita! Otomatis dia yang akan disalahkan!" bahas Arga dengan kalimat logis.
"Tapi aku malu, Ga! Aku belum siap kalau ada orang lain yang tahu perbuatan bejat kita. Aku gak mau dicap hina sama anak-anak di sekolah ini."
"Maaf, Ra! Apa pun yang terjadi gue tetep butuh klarifikasi dari dia. Gue gak bisa tinggal diem setelah diginiin. Masalahnya ini menyangkut harga diri, jadi gak main-main," tandas Arga tetap bersikeras ingin menuntaskan masalah ini.
Arga sontak memotong ucapan Laura cepat. "Udah gak usah dipikirin! Masalah ini biar jadi urusan gue aja! Emangnya lo terima keperawanan lo hilang gitu aja karena ulahnya? Kagak, 'kan? Maka dari itu gue bakalan bikin perhitungan sama anak itu!"
__ADS_1
Eh?
Arga pun menjadi panik sendiri, dan akhirnya ia mengakui suatu hal yang membuat Arga melongo cengo.
"Please Ga! Jangan lakuin itu … Roma nggak salah! Sebenarnya yang salah itu aku! Aku yang bikin kamu sampai kayak gitu," ucap gadis itu mengakui. Ia tak mau masalahnya menjadi panjang. Maka dari itu terpaksa mengakui apa yang sebenarnya terjadi.
"Ma … maksud, lo? Maksud lo apaan, Anjir? Lo yang salah gimana?" Arga mengerutkan alisnya bingung. Kini mereka sudah sama sama berpakaian dan duduk saling berhadapan.
Laura langsung menundukkan pandangannya. Ia menatap sepuluh jari-jarinya yang kini sibuk saling meremas di atas paha. Ingatan gadis itu kembali pada momen siang tadi, saat ia dan Roma berangkat ke sekolah untuk melihat Arga main futsal.
__ADS_1
Di tengah jalan Laura kembali curhat kepada Roma kalau ia benar-benar meragukan kenormalan Arga. Karena terlihat tidak memiliki ketertarikan pada wanita mana pun, Laura selalu berpikir kalau Arga itu homhom. Apalagi pria itu enggan didekati oleh siapa pun. Tidak hanya oleh dirinya, Arga juga enggan didekati oleh gadis lain seperti yang sudah/sudah.
Roma yang juga penasaran pun akhirnya menawarkan diri untuk membantu Laura membuktikan keraguannya itu. Ia memberikan sebotol air mineral yang sudah diberi obat perangsang kepada Laura. Obat itu dia beli secara dadakan di tukang jamu saat jalan ke ke sekolah tadi.