Dihamili Adik Kelas

Dihamili Adik Kelas
Habis Kesabaran


__ADS_3

"Semua ini tidak ada urusannya! Toh Anda sudah memecat saya!" ucap Laura dingin.


Mendengar itu aura wajah Arga berubah seketika. Dia mendorong tubuh Laura hingga membentur lemari dapur.


"Jangan membuat kesabaranku habis Laura!"


Tangan Arga bergerak liar. Dia nyaris membuat Laura ketakutan saat jemari itu membelit kasar permukaan Lehernya. Arga segera mundur beberapa langkah saat menyadari ada yang salah.


"Uhuk ... Uhuk!" Laura masih terbatuk-batuk akibat perbuatan Arga. Ia tidak tahu kenapa Arga bisa semarah itu kepadanya, tapi yang jelas Laura harus segera mencari cara untuk keluar dari rumah Arga.


Perempuan itu mendongak. Tampak Arga melangkah pergi meninggalkan dapur itu.


Laura segera mengejar. Dia menarik tangan Arga saat hendak membuka pintu kamar.


"Saya tidak bisa menceritakan banyak hal saat ini. Keadaan sangat genting. Tapi jika Anda benar-benar ingin tahu Anda harus ikut saya."


"Kemana?"


"Rumah sakit Medika Yasim! Jaraknya mungkin sekitar satu jam dari tempat ini."


"Tunggu sebentar!" Arga segera mengambil kunci mobil dari laci. Dia mengantungi kunci itu lalu menarik tangan Laura secepat kilat.

__ADS_1


"Anda tidak ganti baju dulu, Pak?"


"Bukankah kamu bilang keadaannya sangat genting?"


Laura memandang Arga dari kepala sampai kaki. Apakah tidak apa-apa jika bossnya ini ke rumah sakit dengan pakaian tidur, pikirnya.


"Tunggu apa lagi?" Arga menggertak Laura kesal. Perasaannya saat ini mengatakan tidak enak. Seperti ada sesuatu yang mengganjal. Tapi Arga tidak tahu itu apa.


"Ya sudah oke!"


Mereka langsung bergegas ke parkiran. Tak lama kemudian mobil Arga mulai membelah jalan raya.


Keduanya tak ada yang bicara sama sekali. Arga fokus mengemudi, Laura sibuk memainkan ponsel untuk berkabar soal keadaan Gama.


Sesampainya di rumah sakit, Laura tanpa sadar menggandeng Arga menuju ruangan Gama. Anak itu baru saja dipindahkan karena baru saja mendapatkan suntikan penenang.


"Gimana keadaan, Gama, Ren." Laura berteriak begitu melihat Rena sedang duduk di ruang tunggu.


"Dia baru saja tidur. Tadi dokter sudah memberinya suntikan penenang supaya kejang mereda. Tapi mereka belum keluar, lagi melakukan pemeriksaan kedua. Loh ini?" Rena menatap Laura dan cowok yang lagi digandengnya secara bergantian.


Dua bola mata anak itu membulat tidak percaya. "Kalian berdua balikan?"

__ADS_1


"Hah, balikan apaan?" Arga menatap bingung. Mata Rena lalu turun ke bawah. Dia menunjuk bagian itu dengan pandangan menyelidik.


"Itu apaan? Kok gandengan tangan?"


Buru-buru Laura melepas tautan mereka. Arga bahkan sampai terbatuk-batuk karena kikuk. Saking paniknya mereka berdua sampai tidak menyadari keadaan yang terjadi.


"Ini nggak seperti yang kamu lihat, Ren. Pak Arga cuma berbaik hati mengantar aku."


"Ah, elahhh. Pake Pak ... Pakkan segala. Kaya ama siapa aja sih? Gak enak tau manggil begitu." Rena menyenggol pundak Laura dengan lengannya.


"Sekarang dia boss gue," celetuk Laura kesal. Sementara Arga hanya memasang wajah dingin seperti biasa.


"Mau boss atau apa, kita pernah jadi temen satu sekolahan. Jadi usahain kalo di luar rumah gak usah terlalu formal.


"Hmmmm." Laura hanya membalas dengan dehaman.


Tak lama kemudian Dokter dan suster yang barusan memeriksa Gama keluar. Hal itu sedikit mengalihkan pembicaraan mereka yang cukup canggung untuk Arga dan Laura.


"Bagaimana keadaan, Gama, Dok?"


"Menurut dugaan sementara Gama sepertinya terkena DBD. Kami akan memberi hasilnya lebih lanjut kalau sudah pasti."

__ADS_1


"Apakah sudah boleh dijenguk, Dok?" Tiba-tiba Arga nyeletuk begitu saja.


***


__ADS_2